Nahdlatul Ulama Bukan Komoditas! Muktamar NU Harus Bersih dari Mainan Aktor Politik
Rabu, 15 April 2026 - 14:20 WIB
loading...
Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy (kanan) saat diskusi dengan Menteri Agama Nasaruddin Umar. Foto: Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy menyampaikan kegelisahan yang menurutnya dirasakan banyak kalangan nahdliyin menjelang pelaksanaan Muktamar NU. Menurut pria yang akrab disapa Gus Lilur ini, Muktamar NU kali ini bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan momentum krusial yang bakal menentukan arah masa depan NU, apakah tetap berada di jalur keulamaan atau semakin terseret dalam pusaran politik praktis.
“NU ini didirikan oleh para ulama besar dengan fondasi ilmu dan akhlak, bukan untuk menjadi alat kepentingan kekuasaan,” ujar Gus Lilur, Rabu (15/4/2026).
Dia menuturkan, penyimpangan orientasi ini harus segera dikoreksi melalui muktamar yang berani dan jujur dalam melihat realitas internal. Dia berpendapat, munculnya nama-nama seperti Nusron Wahid dan Saifullah Yusuf dalam dinamika NU menunjukkan bahwa batas antara organisasi keagamaan dan politik semakin kabur.
Baca juga: Muktamar PBNU 2026 Digelar Agustus, Ini Daftar Panitianya
Bahkan, ia juga menyinggung kepemimpinan Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya sebagai bagian dari dinamika yang perlu dievaluasi secara terbuka demi kebaikan jam’iyah ke depan. “Ini bukan soal pribadi, tapi soal muruah. NU harus dijaga agar tidak menjadi panggung politisi. Kalau dibiarkan, lama-lama kepercayaan umat bisa terkikis,” ujarnya.
“NU ini didirikan oleh para ulama besar dengan fondasi ilmu dan akhlak, bukan untuk menjadi alat kepentingan kekuasaan,” ujar Gus Lilur, Rabu (15/4/2026).
Dia menuturkan, penyimpangan orientasi ini harus segera dikoreksi melalui muktamar yang berani dan jujur dalam melihat realitas internal. Dia berpendapat, munculnya nama-nama seperti Nusron Wahid dan Saifullah Yusuf dalam dinamika NU menunjukkan bahwa batas antara organisasi keagamaan dan politik semakin kabur.
Baca juga: Muktamar PBNU 2026 Digelar Agustus, Ini Daftar Panitianya
Bahkan, ia juga menyinggung kepemimpinan Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya sebagai bagian dari dinamika yang perlu dievaluasi secara terbuka demi kebaikan jam’iyah ke depan. “Ini bukan soal pribadi, tapi soal muruah. NU harus dijaga agar tidak menjadi panggung politisi. Kalau dibiarkan, lama-lama kepercayaan umat bisa terkikis,” ujarnya.
Lihat Juga :