Membaca Iran, Mengingat Pesantren

Rabu, 15 April 2026 - 16:37 WIB
loading...
Membaca Iran, Mengingat...
Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta Muhammad Irfanudin Kurniawan. Foto/UDN.
A A A
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta

Beberapa pekan lalu, saya selesai membaca beberapa literatur tentang Iran. Mulai dari sejarah Persia kuno, masuknya Islam, sampai bagaimana negara itu bisa bertahan di tengah sanksi dan tekanan dunia. Saya bukan ahli Iran. Tapi sebagai orang pesantren, saya merasa ada yang familiar.

Cerita tentang ketangguhan. Tentang mempertahankan identitas di tengah gempuran. Tentang institusi pendidikan yang jadi benteng terakhir ketika semuanya goyah.

Tapi saya juga sadar: jangan sampai kita terbuai dengan analogi yang terlalu cantik. Iran dan pesantren itu beda. Jalan sejarahnya beda. Cara bertahannya juga beda. Tapi ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik, asalkan tidak dipaksakan.

Yang Sama: Sama-Sama Tahu Diri


Coba simak. Persia itu peradaban tua. Sudah ada ribuan tahun sebelum Islam datang. Lalu ketika Islam masuk, mereka tidak serta-merta jadi "Arab". Mereka tetap Persia. Bahkan seorang sejarawan Barat, Bernard Lewis, bilang: "Iran diislamkan, tetapi tidak diarabkan."

Saya suka kalimat itu. Karena di pesantren, kita juga mengalami hal serupa. Kita menerima modernitas—kurikulum nasional, komputer, bahasa Inggris—tapi kita tidak kehilangan jati diri. Kitab kuning tetap kita kaji. Sanad tetap kita jaga. Tradisi khidmah tetap kita rawat.

Ini yang saya sebut adaptasi tanpa kehilangan akar. Iran melakukannya. Pesantren juga.

Tapi jangan lupa, prosesnya berbeda. Islam masuk ke Persia melalui penaklukan. Ada yang terbunuh, ada kitab yang dibakar. Sementara Islam masuk ke Nusantara lewat dagang dan dakwah yang damai. Jadi kalau kita bilang "sama-sama tangguh", itu benar. Tapi kalau kita bilang "sama persis", itu keliru.

Yang Beda: Proyek Identitas yang Tak Sejalan


Kita juga sering dengar cerita bagaimana Iran bisa menjadi negara Syiah. Itu bukan kebetulan. Dinasti Safawi, sekitar abad ke-16, sengaja menjadikan Syiah sebagai mazhab negara. Mereka mengirim pasukan, memaksa rakyat, dan mengundang ulama dari luar. Butuh tiga abad sampai mayoritas penduduk Iran benar-benar Syiah.

Sekarang, bayangkan pesantren melakukan hal seperti itu. Gak mungkin. Pesantren tidak punya tentara. Pesantren tidak punya kekuasaan negara. Pesantren mengajarkan agama lewat dakwah, bukan lewat pedang.

Jadi ketika saya membaca ada yang menyamakan "proyek identitas" Safawi dengan pesantren modern seperti Gontor, saya geleng-geleng. Gontor memang punya proyek membangun sistem pendidikan yang khas. Tapi itu lahir dari kesadaran masyarakat, bukan dari paksaan. Gontor menerima santri dari mana saja, tanpa memaksa mereka jadi apa pun.

Jadi hati-hati dengan analogi. Kadang mirip di permukaan, tapi dalamnya berbeda.

Hauzah dan Pesantren: Dua Saudara yang Tak Kembar


Satu hal yang paling mengesankan dari Iran adalah ketahanan lembaga pendidikan mereka, Hauzah. Sudah ribuan tahun, Hauzah di Najaf dan Qom terus mencetak ulama. Ketika revolusi datang, ketika perang terjadi, ketika sanksi mencekik, Hauzah tetap jalan. Ia seperti "bank gen" yang menjaga nilai-nilai tetap hidup.

Nah, di Indonesia kita punya pesantren. Fungsinya mirip: mencetak kader, menjaga tradisi, menjadi rujukan masyarakat. Tapi sistemnya berbeda.

Hauzah punya hierarki yang jelas dan terpusat. Ulama tertinggi punya otoritas besar, bahkan dalam politik. Sementara pesantren kita lebih cair. Ada kiai yang disegani, tapi tidak ada satu pusat komando. Keputusan diambil lewat musyawarah, bukan perintah dari atas.

Ini bukan soal bagus atau jelek. Ini soal konteks. Hauzah cocok dengan sistem politik Iran yang terpusat. Pesantren cocok dengan budaya demokrasi kita yang suka rembugan.

Pelajaran yang Bisa Dipetik


Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari Iran?

Pertama, pentingnya menjaga identitas. Persia bisa bertahan sebagai entitas budaya meskipun sudah berabad-abad di bawah kekuasaan asing. Pesantren juga harus begitu. Terbuka pada perubahan, tapi tidak kehilangan ruh.

Kedua, institusi pendidikan adalah benteng terakhir. Ketika negara goyah, ketika ekonomi terpuruk, yang tetap berdiri adalah lembaga-lembaga yang mengakar pada masyarakat. Hauzah membuktikan itu. Pesantren juga.

Ketiga, jangan mudah terbuai dengan analogi. Iran dan pesantren punya sejarah yang berbeda, cara bertahan yang berbeda, dan ongkos sosial yang berbeda pula. Iran bertahan dengan harga yang mahal: sanksi, isolasi, rakyat yang menderita. Pesantren bertahan dengan cara yang lebih damai: berdialog, beradaptasi, menjadi mitra pemerintah.

Saya tidak ingin pesantren menjadi "Iran mini". Cukup jadi pesantren saja. Tetap ngaji, tetap mengabdi, tetap merawat ukhuwah. Karena kekuatan pesantren bukan pada "menolak runtuh" dengan cara konfrontatif, tapi pada kemampuannya tetap hidup dan memberi manfaat di tengah perubahan zaman.

Itu saja. Tidak perlu jadi peradaban yang megah. Cukup jadi warung kopi tempat orang nyaman berteduh.
(nnz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perang Iran 2026: Ketika...
Perang Iran 2026: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
PBNU: Segelintir Kasus...
PBNU: Segelintir Kasus Kekerasan Seksual Tak Mewakili Wajah Pesantren
Mengenal Gareth Morgan:...
Mengenal Gareth Morgan: di Balik Metafora Organisme Pesantren
Rakernas Inkopotren...
Rakernas Inkopotren 2026 Fokus Dorong UMKM Pesantren Go Internasional
Komdigi Siapkan Roadmap...
Komdigi Siapkan Roadmap AI, Pesantren Didorong Jadi Jangkar Moral Sosial
Badan Hukum: Sistem...
Badan Hukum: Sistem Imun yang Sering Terlupakan
Citra Satelit Tunjukkan...
Citra Satelit Tunjukkan Pangkalan AS di Kuwait Hancur usai Serangan Iran
Pemimpin Hizbullah Kecam...
Pemimpin Hizbullah Kecam Negosiasi Lebanon-Israel, Dianggap Tidak Tahu Malu
Lebih dari 9.500 Orang...
Lebih dari 9.500 Orang Hilang di Gaza sejak Awal Perang
Rekomendasi
Mimika Darurat Narkoba,...
Mimika Darurat Narkoba, Rampeani Rachman Minta Bandar Diburu hingga ke Akar
IHSG Kembali Babak Belur...
IHSG Kembali Babak Belur Siang Ini, Nyungsep 2,53% ke 5.692
Prabowo Resmi Rilis...
Prabowo Resmi Rilis Aturan Ekspor 3 Komoditas Lewat Satu Pintu, Ini Ketentuannya
Berita Terkini
Gugatan Paulus Tannos...
Gugatan Paulus Tannos di Singapura Ditolak, KPK: Percepat Proses Ekstradisi ke Indonesia
Tumbuhkan Asa Jurnalis...
Tumbuhkan Asa Jurnalis Muda di Era Disruspi Digital, IJTI Gelar Konferensi Jurnalis Kampus se-Indonesia
Kemenag Catat 2 Juta...
Kemenag Catat 2 Juta Hewan Kurban Senilai Rp18,28 Triliun Dipotong saat Iduladha
KPK Kembali Geledah...
KPK Kembali Geledah Rumah Silmy di Jalan Brawijaya Jaksel
LPSK Siap Berikan Perlindungan...
LPSK Siap Berikan Perlindungan bagi Justice Collaborator Kasus BGN dan Imipas
Ditangkap Kejagung,...
Ditangkap Kejagung, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Masih Syok
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved