Nahdlatul Ulama Bukan Komoditas! Muktamar NU Harus Bersih dari Mainan Aktor Politik
Rabu, 15 April 2026 - 14:20 WIB
loading...
A
A
A
Gus Lilur juga menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “gus-gus nanggung” yang kerap menjadikan NU sebagai alat legitimasi untuk kepentingan pribadi. Dirinya menyayangkan adanya kecenderungan sebagian pengurus yang lebih sibuk membangun jejaring kekuasaan daripada memperkuat basis keilmuan dan kaderisasi.
“Kita ini punya tradisi besar, punya pesantren, punya bahtsul masail. Tapi kenapa justru yang tampil sering kali bukan yang paling alim, melainkan yang paling dekat dengan kekuasaan,” ujarnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, NU sebenarnya tidak kekurangan figur yang memiliki kapasitas keulamaan dan intelektualitas tinggi. Menurutnya, banyak tokoh yang lebih layak dan kredibel untuk memimpin arah organisasi ke depan.
“Kalau kita bicara kualitas, ada Nasaruddin Umar, ada Said Aqil Siradj, ada Abdus Salam Shohib, ada Yusuf Chudlory, ada Zulfa Mustofa, juga Bahauddin Nursalim. Mereka jelas kapasitas keulamaannya, jelas intelektualitasnya. NU ini kaya tokoh, jangan sampai yang tampil justru yang itu-itu saja karena faktor politik,” tuturnya.
Gus Lilur menekankan bahwa Muktamar NU harus menjadi momentum pemurnian organisasi. Ia berharap para peserta muktamar memiliki keberanian moral untuk memilih pemimpin yang benar-benar berangkat dari tradisi keilmuan, bukan dari kepentingan elektoral.
“Sudah saatnya kita bilang cukup pada pengurus yang haus kekuasaan. NU bukan batu loncatan politik. Kalau mau berpolitik, silakan di partai, jangan bawa-bawa NU,” imbuhnya.
“Kita ini punya tradisi besar, punya pesantren, punya bahtsul masail. Tapi kenapa justru yang tampil sering kali bukan yang paling alim, melainkan yang paling dekat dengan kekuasaan,” ujarnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, NU sebenarnya tidak kekurangan figur yang memiliki kapasitas keulamaan dan intelektualitas tinggi. Menurutnya, banyak tokoh yang lebih layak dan kredibel untuk memimpin arah organisasi ke depan.
“Kalau kita bicara kualitas, ada Nasaruddin Umar, ada Said Aqil Siradj, ada Abdus Salam Shohib, ada Yusuf Chudlory, ada Zulfa Mustofa, juga Bahauddin Nursalim. Mereka jelas kapasitas keulamaannya, jelas intelektualitasnya. NU ini kaya tokoh, jangan sampai yang tampil justru yang itu-itu saja karena faktor politik,” tuturnya.
Gus Lilur menekankan bahwa Muktamar NU harus menjadi momentum pemurnian organisasi. Ia berharap para peserta muktamar memiliki keberanian moral untuk memilih pemimpin yang benar-benar berangkat dari tradisi keilmuan, bukan dari kepentingan elektoral.
“Sudah saatnya kita bilang cukup pada pengurus yang haus kekuasaan. NU bukan batu loncatan politik. Kalau mau berpolitik, silakan di partai, jangan bawa-bawa NU,” imbuhnya.
Lihat Juga :