Memanusiakan Jalan Raya: Lebih dari Sekadar Aspal dan Marka

Senin, 13 April 2026 - 11:26 WIB
loading...
Memanusiakan Jalan Raya:...
Dosen Teknik Sipil Universitas Tarakanita Jakarta Muhammad Arif Arofah. Foto/Utarki.
A A A
Dosen Teknik Sipil Universitas Tarakanita Jakarta, Tenaga Ahli Transportasi – Ahli Madya Teknik Jalan, Muhammad Arif Arofah

Luka di Balik Statistik: Mengapa Harus Peduli?


Setiap pagi, rutinitas berangkat menuju tempat kerja, sekolah, atau pusat aktivitas selalu dimulai dengan doa dan harapan. Kalimat "Hati-hati di jalan" telah menjadi penutup percakapan yang rutin di setiap rumah.

Namun, realitas di lapangan berkata lain. Secara global, laporan kesehatan dunia terbaru menunjukkan bahwa kecelakaan lalu lintas masih menjadi "pandemi tersembunyi" dengan angka kematian mencapai lebih dari 1,2 juta jiwa per tahun, di mana mayoritas korban adalah usia produktif.

Di Indonesia sendiri, memasuki periode 2025-2026, data Korlantas Polri mencatat angka kecelakaan masih fluktuatif di angka yang mengkhawatirkan, dengan rata-rata lebih dari 100.000 kejadian per tahun yang didominasi oleh kendaraan roda dua.

Angka-angka ini bukan sekadar deretan statistik untuk laporan tahunan instansi terkait. Di balik satu angka korban meninggal dunia, ada mimpi yang terhenti, ada kursi yang kosong di meja makan, dan ada duka mendalam bagi keluarga yang menanti kepulangan orang tercinta.

Seringkali, fokus pembangunan hanya tertuju pada kemegahan infrastruktur—aspal yang mulus dan jalan tol yang panjang—namun melupakan aspek paling fundamental: manusia yang menggunakannya. Inilah saatnya untuk memanusiakan kembali jalan raya kita.

Jalanan: Ruang Berbagi, Bukan Arena Kompetisi


Ada fenomena psikologis yang menarik sekaligus menyedihkan di jalanan kota-kota besar. Seseorang yang sangat sopan dalam kehidupan sehari-hari bisa berubah menjadi sosok temperamental saat berada di balik kemudi.

Jalanan seolah menjadi panggung ego, di mana setiap jengkal aspal diperebutkan demi sampai lebih cepat beberapa menit di tujuan.
Budaya menyerobot dan mengabaikan hak sesama telah menjadi pemandangan biasa. Trotoar yang seharusnya menjadi ruang aman bagi pejalan kaki seringkali diinvasi oleh kendaraan bermotor.

Memanusiakan jalan berarti mengembalikan fungsi jalan sebagai ruang publik yang setara. Di jalan raya, keselamatan seorang penyeberang jalan haruslah setara harganya dengan kenyamanan pengendara mobil mewah. Kendaraan yang lebih besar memiliki tanggung jawab moral lebih tinggi untuk melindungi pengguna jalan yang lebih rentan.

Membangun Infrastruktur yang "Pemaaf"


Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, perlu dipahami bahwa keselamatan bukan hanya soal keberuntungan, melainkan hasil dari perencanaan yang matang. Dalam disiplin ilmu transportasi, dikenal konsep Forgiving Road atau "Jalan yang Pemaaf".

Konsep ini mengakui bahwa manusia bukanlah makhluk sempurna; manusia bisa lelah, bisa khilaf, dan bisa salah mengambil keputusan dalam sepersekian detik.

Desain jalan yang memanusiakan manusia adalah desain yang mampu memitigasi kesalahan tersebut agar tidak berakibat fatal. Namun, infrastruktur yang baik akan sia-sia tanpa perilaku pengguna yang juga memiliki sifat "pemaaf".

Memanusiakan jalan berarti memberikan ruang bagi kekhilafan orang lain di jalan raya, menahan diri dari emosi yang meledak, dan menyadari bahwa setiap orang memiliki risiko yang sama untuk melakukan kesalahan.

Visi Nol: Sebuah Komitmen Kemanusiaan Bersama


Saat ini dunia sedang menggaungkan Vision Zero—sebuah komitmen global bahwa tidak ada satu pun nyawa yang boleh hilang di jalan raya. Target "nol kecelakaan" mungkin terdengar utopis bagi sebagian orang.

Namun, jika pertanyaan diajukan kepada diri sendiri: "Berapa banyak anggota keluarga kita yang 'boleh' menjadi korban tahun ini?" Maka jawaban tunggal yang masuk akal adalah: tidak ada.

Inilah misi kemanusiaan yang harus dibawa oleh setiap lapisan masyarakat. Keselamatan jalan harus dimulai dari lingkungan terkecil. Memakai pelindung kepala dengan benar, mematuhi batas kecepatan di area pemukiman, dan menghargai marka jalan bukan hanya untuk menghindari sanksi hukum, melainkan bentuk penghormatan tertinggi terhadap hak hidup orang lain.

Kesadaran sebagai Kunci Perubahan Budaya


Perubahan budaya berkendara tidak bisa hanya mengandalkan penegakan hukum melalui kamera pengawas atau tilang. Diperlukan perubahan paradigma dari sikap "ingin menang sendiri" menjadi "ingin selamat bersama".

Menggunakan ponsel saat berkendara mungkin terlihat sebagai tindakan sepele bagi sebagian orang, namun itu adalah bentuk nyata dari pengabaian terhadap keselamatan kolektif.
Kecepatan dan kegagahan di jalan bukanlah lambang status sosial atau tingkat intelektualitas.

Kehebatan sejati seorang pengguna jalan tercermin dari kemampuannya mengendalikan diri dan kendaraannya demi kepentingan umum. Setiap perjalanan haruslah dipandang sebagai sebuah amanah untuk menjaga diri sendiri dan orang lain agar sampai di tujuan tanpa kurang satu apa pun.

Peradaban Dimulai dari Jalan Raya


Jalan raya adalah cermin dari peradaban suatu bangsa. Keteraturan dan rasa saling menghargai di jalan mencerminkan kedalaman karakter masyarakatnya. Jangan biarkan aspal yang keras dan marka yang bisu menjadi saksi atas tragedi kemanusiaan yang sebenarnya bisa kita cegah bersama.

Mari mulai memanusiakan jalan raya hari ini. Karena pada akhirnya, transportasi bukan sekadar memindahkan raga dari satu titik ke titik lain, melainkan tentang menjaga martabat dan keberlangsungan hidup setiap manusia di atasnya. Keselamatan adalah sebuah pilihan, dan pilihan itu dimulai dari kesadaran setiap individu yang memegang kemudi.
(nnz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menkes Sarankan Pemudik...
Menkes Sarankan Pemudik Istirahat Setiap 3 Jam: Ngantuk Jadi Penyebab Kecelakaan
Kapolri Sebut Angka...
Kapolri Sebut Angka Kecelakaan Mudik Turun, Lemkapi: Bukti Polri Hadir untuk Masyarakat
Kapolri Sebut Angka...
Kapolri Sebut Angka Kecelakaan Mudik Lebaran 2026 Turun, Sahroni: Antisipasi Polri Luar Biasa
Keselamatan Lalu Lintas,...
Keselamatan Lalu Lintas, Korlantas Polri Gagas Pembentukan Duta Komunitas Ojol
Prabowo Instruksikan...
Prabowo Instruksikan Diskon Tarif Tol hingga Tiket Transportasi Selama Nataru 2026
KSP Puji Langkah Korlantas...
KSP Puji Langkah Korlantas Perluas Kamera ETLE untuk Ketertiban Berlalu Lintas
Pembangunan Transportasi...
Pembangunan Transportasi Publik Mampu Sejahterakan Warga Daerah
Jelang Demo Mahasiswa...
Jelang Demo Mahasiswa BEM UI, Arus Lalu Lintas di Bundaran HI Masih Ramai Lancar
Potret Transportasi...
Potret Transportasi Tradisional untuk Menyeberangi Sungai Cisadane
Rekomendasi
Uni Emirat Arab Bayar...
Uni Emirat Arab Bayar Iran Rp355,5 Triliun agar Berhenti Menyerang
Swedia: Konflik Rusia-NATO...
Swedia: Konflik Rusia-NATO Bisa Pecah dalam Waktu Dekat
Resmi Menikah, Jennifer...
Resmi Menikah, Jennifer Coppen Disambut Hangat Keluarga Justin Hubner
Berita Terkini
Ribuan Dokter Muda Terancam...
Ribuan Dokter Muda Terancam Gagal Praktik, Pakar UGM Minta Pemerintah Bertindak
Prabowo Akan Bertemu...
Prabowo Akan Bertemu Presiden Jerman Frank Walter Steinmeier di Istana Besok, Bahas Apa?
Kemenag Dukung MUI Desak...
Kemenag Dukung MUI Desak Aturan Tegas Jerat Pelaku LGBT
Budiman Sudjatmiko Tepis...
Budiman Sudjatmiko Tepis Usir Mahasiswa dari Forum Diskusi di Semarang
MUI Desak Hukuman Tegas...
MUI Desak Hukuman Tegas Bagi Pelaku dan Pengkampanye LGBT
Kemenhaj: 76.829 Jemaah...
Kemenhaj: 76.829 Jemaah Haji dari 195 Kloter Telah Tiba di Indonesia
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved