Menegakkan Marwah di Langit dan Optimalisasi Tata Kelola Lintas Sektor Pascainsiden Lampung
Kamis, 09 April 2026 - 19:40 WIB
loading...
A
A
A
Kita harus berani belajar dari kesuksesan negara-negara maju yang sudah memiliki sistem manajemen ruang udara yang matang, yang mana mereka mampu menyelaraskan kepentingan militer dan sipil dalam satu pintu koordinasi yang efisien.
Kejadian jatuhnya sisa roket China di Lampung harus kita jadikan sebagai momentum untuk meninggalkan pola pikir sektoral yang kaku. Kita membutuhkan diplomasi antariksa yang proaktif di panggung internasional melalui forum seperti UNCOPUOS untuk mendesak adanya transparansi dan tanggung jawab dari negara-negara besar pemilik teknologi peluncuran.
Namun, suara kita di dunia internasional hanya akan didengar jika di dalam negeri kita memiliki tata kelola yang solid, bersatu, dan memiliki dasar hukum operasional yang kuat melalui akselerasi fungsi Sekretariat Tetap Forum Koordinasi tersebut.
Dengan telah hadirnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2025, fondasi hukum yang kokoh sebenarnya sudah diletakkan bagi bangsa ini. Sekarang, tugas besar bagi pemerintah adalah membangun struktur otoritas yang mampu mengoperasionalkan amanat kedaulatan tersebut secara nyata di lapangan.
Pengelolaan ruang udara yang berdaulat dan transparan tidak hanya akan melindungi tumpah darah kita dari ancaman fisik sisa-sisa teknologi di langit, tetapi juga akan membuka pintu selebar-lebarnya bagi kemandirian teknologi dan pertumbuhan ekonomi digital yang adil bagi seluruh rakyat Indonesia.
Adagium cuius est solum kembali memberikan pengingat yang sangat kuat bagi kita semua bahwa harga diri sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kemampuannya menguasai tanah dan laut, melainkan juga dari sejauh mana ia mampu menjaga apa yang ada di atas tanahnya hingga ke batas langit tertinggi.
Jangan sampai kita mengaku memiliki tanahnya, namun membiarkan langitnya menjadi tempat pembuangan risiko tanpa ada pertanggungjawaban dari pihak lain. Sudah saatnya Indonesia tegak berdiri melalui koordinasi yang kuat dan bermartabat, menjaga setiap jengkal kedaulatan dirgantara nasional demi keselamatan seluruh rakyat dan demi kejayaan generasi masa depan.
Kita tidak boleh lagi menjadi penonton di rumah sendiri ketika langit kita menjadi palagan bagi kemajuan bangsa lain. Saatnya kita ambil alih kendali, sekarang dan selamanya.
Kejadian jatuhnya sisa roket China di Lampung harus kita jadikan sebagai momentum untuk meninggalkan pola pikir sektoral yang kaku. Kita membutuhkan diplomasi antariksa yang proaktif di panggung internasional melalui forum seperti UNCOPUOS untuk mendesak adanya transparansi dan tanggung jawab dari negara-negara besar pemilik teknologi peluncuran.
Namun, suara kita di dunia internasional hanya akan didengar jika di dalam negeri kita memiliki tata kelola yang solid, bersatu, dan memiliki dasar hukum operasional yang kuat melalui akselerasi fungsi Sekretariat Tetap Forum Koordinasi tersebut.
Dengan telah hadirnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2025, fondasi hukum yang kokoh sebenarnya sudah diletakkan bagi bangsa ini. Sekarang, tugas besar bagi pemerintah adalah membangun struktur otoritas yang mampu mengoperasionalkan amanat kedaulatan tersebut secara nyata di lapangan.
Pengelolaan ruang udara yang berdaulat dan transparan tidak hanya akan melindungi tumpah darah kita dari ancaman fisik sisa-sisa teknologi di langit, tetapi juga akan membuka pintu selebar-lebarnya bagi kemandirian teknologi dan pertumbuhan ekonomi digital yang adil bagi seluruh rakyat Indonesia.
Adagium cuius est solum kembali memberikan pengingat yang sangat kuat bagi kita semua bahwa harga diri sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kemampuannya menguasai tanah dan laut, melainkan juga dari sejauh mana ia mampu menjaga apa yang ada di atas tanahnya hingga ke batas langit tertinggi.
Jangan sampai kita mengaku memiliki tanahnya, namun membiarkan langitnya menjadi tempat pembuangan risiko tanpa ada pertanggungjawaban dari pihak lain. Sudah saatnya Indonesia tegak berdiri melalui koordinasi yang kuat dan bermartabat, menjaga setiap jengkal kedaulatan dirgantara nasional demi keselamatan seluruh rakyat dan demi kejayaan generasi masa depan.
Kita tidak boleh lagi menjadi penonton di rumah sendiri ketika langit kita menjadi palagan bagi kemajuan bangsa lain. Saatnya kita ambil alih kendali, sekarang dan selamanya.
(shf)
Lihat Juga :