Mengapa Media Monitoring Jadi Kunci dalam Krisis Siber di Era Geopolitik Digital?

Selasa, 31 Maret 2026 - 18:43 WIB
loading...
Mengapa Media Monitoring...
Ardi Arupa Kewangga, Pranata Humas BSSN sekaligus Praktisi Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta. Foto/istimewa
A A A
Ardi Arupa Kewangga
Pranata Humas BSSN sekaligus Praktisi Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta

DI era geopolitik digital, konflik antarnegara tidak lagi terbatas pada kekuatan militer konvensional. Dunia kini memasuki fase hybrid warfare, di mana serangan siber menjadi instrumen strategis untuk melemahkan negara tanpa harus melibatkan konfrontasi fisik. Infrastruktur digital, data publik, hingga persepsi masyarakat menjadi target yang sama pentingnya dengan wilayah teritorial.

Dalam konteks ini, krisis keamanan siber tidak hanya menjadi persoalan teknis, tetapi juga krisis komunikasi yang menentukan kepercayaan publik terhadap negara. Ketika terjadi kebocoran data atau gangguan layanan digital, yang terdampak bukan hanya sistem, tetapi juga legitimasi institusi di mata masyarakat. Di sinilah media monitoring memainkan peran strategis yang sering kali belum dimaksimalkan.

Dari Serangan Siber ke Krisis Kepercayaan Publik

Secara teoretis, Situational Crisis Communication Theory (SCCT) yang dikembangkan oleh W. Timothy Coombs menjelaskan bahwa dampak krisis sangat ditentukan oleh bagaimana publik mengatribusikan tanggung jawab kepada organisasi atau institusi yang terdampak (Coombs, 2007). Dalam kasus keamanan siber, krisis yang awalnya dapat dipersepsikan sebagai victim crisis—karena serangan berasal dari aktor eksternal—dapat dengan cepat bergeser menjadi preventable crisis ketika publik menilai adanya kelemahan sistem atau ketidakmampuan dalam merespons insiden.

Pengalaman Indonesia menunjukkan dinamika tersebut. Dalam kasus kebocoran data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada 2021, misalnya, narasi publik tidak berhenti pada fakta adanya serangan, tetapi berkembang menjadi kritik terhadap perlindungan data pribadi yang dinilai lemah (BBC News, 2021). Pergeseran atribusi ini memperbesar dampak reputasi dan menurunkan kepercayaan publik.

Hal serupa juga terlihat pada gangguan layanan akibat serangan ransomware terhadap Bank Syariah Indonesia pada 2023. Saat krisis tersebut terjadi, minimnya informasi yang jelas serta dan kurangnya transparansi memicu spekulasi dan keresahan nasabah yang berdampak terhadap citra dan reputasi Bank BSI (Muhaimin dkk, 2025). Krisis yang awalnya bersifat teknis berkembang pula menjadi krisis komunikasi yang memperkuat persepsi negatif publik.

Dua kasus ini menunjukkan bahwa dalam krisis siber, yang dipertaruhkan bukan hanya sisi teknis terkait dengan keamanan sistem, tetapi juga kontrol atas narasi publik yang dapat mempengaruhi reputasi organisasi.

Media Monitoring sebagai Sistem Deteksi Dini Krisis

Dalam kerangka Crisis Lifecycle Model dari Steven Fink, setiap krisis memiliki fase awal (prodromal stage) yang ditandai oleh munculnya sinyal-sinyal peringatan (Fink, 1986). Di era digital, sinyal ini sering kali muncul dalam bentuk percakapan di media sosial atau bahkan komunitas siber tertutup sebelum menjadi isu besar di media arus utama. Media monitoring memungkinkan organisasi untuk menangkap sinyal-sinyal tersebut secara lebih dini.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prabowo: Selat Hormuz...
Prabowo: Selat Hormuz Ditutup, Kita Percaya Diri Mampu Mengatasi
Denny JA Soroti Kerusuhan...
Denny JA Soroti Kerusuhan Agustus 2025 dalam Perspektif Kelas Rentan Digital
Menkomdigi Ajak Generasi...
Menkomdigi Ajak Generasi Muda Jadi Duta Internet Sehat dan Lawan Kejahatan Digital
Prabowo dan Jusuf Kalla...
Prabowo dan Jusuf Kalla Bahas Isu Global hingga Swasembada Energi
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
Fokus Belanja Negara
Fokus Belanja Negara
Implementasi PP TUNAS...
Implementasi PP TUNAS Harus Bisa Jaga Daya Saing Generasi Muda di Ekonomi Digital
Web3 University Tour...
Web3 University Tour 2026 Digelar ITERA Lampung, Ratusan Mahasiswa Belajar Blockchain
Bukan Sekadar Digitalisasi,...
Bukan Sekadar Digitalisasi, Kini Operasional Bisnis Harus Otonom
Rekomendasi
UKM Malaysia Tembus...
UKM Malaysia Tembus Peringkat 7 Dunia THE Sustainability Impact Ratings 2026
HUT ke-80 Bhayangkara,...
HUT ke-80 Bhayangkara, Polda NTT Perkuat Kesehatan Mental Personel lewat USEFT
2 Polisi Dibacok OTK...
2 Polisi Dibacok OTK saat Sedang Bertugas, Gus Falah: Ancaman Serius terhadap Supremasi Hukum
Berita Terkini
Prabowo Bertemu Kapolri...
Prabowo Bertemu Kapolri di Istana, Terima Laporan Kamtibmas-Persiapan Hari Bhayangkara 2026
Komisi I Bangga TNI...
Komisi I Bangga TNI Ikut Urus Pertanian, Dave Laksono: Ini Bukan Kembali ke Dwifungsi
Keberlangsungan Energi...
Keberlangsungan Energi Listrik vs Dominasi Oligarki Batubara
Peradi SAI Siap Jembatani...
Peradi SAI Siap Jembatani Dunia Usaha dan Hukum dalam Pelaksanaan KUHP Baru
Masa Penahanan Dadan...
Masa Penahanan Dadan Hindayana Cs Diperpanjang 40 Hari ke Depan
Indonesia Berkomitmen...
Indonesia Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja
Infografis
Ini Alasan Mengapa Tanaman...
Ini Alasan Mengapa Tanaman Ganja Harus Ditanam di Ketinggian
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved