Mengapa Israel-AS Tidak Menyerang Iran melalui Darat?
Selasa, 24 Maret 2026 - 07:44 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, geografi Iran adalah benteng alami. Pegunungan yang luas, wilayah yang sangat besar, serta kota-kota yang padat menciptakan medan perang yang tidak ramah bagi invasi konvensional. Dengan populasi lebih dari 90 juta jiwa perang darat di Iran akan menjadi operasi militer raksasa. Iran memiliki sekitar 610.000 personel aktif, dan Garda Revolusi (IRGC) yang mungkin akan memicu pertempuran jarak dekat yang brutal. Para analis memperingatkan bahwa invasi darat dapat menelan korban ribuan tentara Amerika dan Israel serta memicu perang berkepanjangan.
Logistik juga menjadi pertimbangan di sini. Pentagon sendiri dilaporkan mulai kehabisan stok rudal tertentu setelah pekan pertama konfrontasi. Jika perang darat meletus, kebutuhan pasokan akan berlipat ganda. Membayangkan ribuan tentara Israel-AS dan sekutunya bergerak di pegunungan Zagros tanpa jaminan pasokan yang memadai adalah skenario mimpi buruk bagi para jenderal di Tel Aviv dan Washington.
Iran memahami betul kelemahan ini, di mana merekalah yang akan memainkan strategi bleed and tire (membuat berdarah dan membuat lelah), bukan fight and win (melawan dan menang). Sejarah membuktikan bahwa militer yang kuat jarang memenangkan perang gerilya di negeri orang.
Pungkasannya, pertanyaan tentang perang darat adalah pertanyaan tentang permainan akhir (end game). Apakah Israel-AS memiliki nyali membawa pasukan darat mereka untuk menjatuhkan Iran, dan juga keberanian untuk menjelaskan pada publiknya bahwa "kemenangan" bisa dicapai dengan cepat? Ataukah mereka akan berhenti di ambang pintu, merasa puas dengan "kemenangan Pirus" (Pyrrhic victory) yang hanya menghancurkan fasilitas nuklir, namun membiarkan ideologi, rezim dan kepemimpinan tertinggi Iran tetap hidup? Mahkamah sang waktu yang akan menjawabnya.
Logistik juga menjadi pertimbangan di sini. Pentagon sendiri dilaporkan mulai kehabisan stok rudal tertentu setelah pekan pertama konfrontasi. Jika perang darat meletus, kebutuhan pasokan akan berlipat ganda. Membayangkan ribuan tentara Israel-AS dan sekutunya bergerak di pegunungan Zagros tanpa jaminan pasokan yang memadai adalah skenario mimpi buruk bagi para jenderal di Tel Aviv dan Washington.
Iran memahami betul kelemahan ini, di mana merekalah yang akan memainkan strategi bleed and tire (membuat berdarah dan membuat lelah), bukan fight and win (melawan dan menang). Sejarah membuktikan bahwa militer yang kuat jarang memenangkan perang gerilya di negeri orang.
Pungkasannya, pertanyaan tentang perang darat adalah pertanyaan tentang permainan akhir (end game). Apakah Israel-AS memiliki nyali membawa pasukan darat mereka untuk menjatuhkan Iran, dan juga keberanian untuk menjelaskan pada publiknya bahwa "kemenangan" bisa dicapai dengan cepat? Ataukah mereka akan berhenti di ambang pintu, merasa puas dengan "kemenangan Pirus" (Pyrrhic victory) yang hanya menghancurkan fasilitas nuklir, namun membiarkan ideologi, rezim dan kepemimpinan tertinggi Iran tetap hidup? Mahkamah sang waktu yang akan menjawabnya.
(jon)
Lihat Juga :