Faktor-Faktor Penentu Akhir Perang Israel-AS Vs Iran
Senin, 16 Maret 2026 - 12:52 WIB
loading...
Ridwan al-Makassary, Dosen di Fakultas Ilmu Sosial UIII/Direktur Center of Muslim Politics and World Society UIII. Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
Ridwan Al-Makassary
Dosen Jurusan Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII.
DI TENGAH gegap gempita berita tentang rudal jelajah dan pesawat siluman yang mendominasi pemberitaan perang Israel-AS versus Iran 2026, kita acap terjebak pada narasi tentang kecanggihan teknologi militer. Presiden Donald Trump, dengan arogan menyatakan bahwa operasi militer besar-besaran terhadap Iran hampir mencapai titik akhir, dan juga mengklaim kekuatan militer Iran telah lumpuh total. "Mereka tidak memiliki angkatan laut, tidak ada komunikasi, mereka tidak memiliki angkatan udara," sembari merinci banyak target yang telah dihancurkan.
Secara tak terhindarkan, “perang kata-kata” terjadi antara AS-Israel vs Iran tentang akhir perang. Trump menyatakan bahwa konflik dengan Iran bisa berakhir kapan saja jika ia menginginkannya, bahkan mengatakan “Setiap kali saya ingin itu berakhir, itu akan berakhir.”
Ia juga beberapa kali menyebut perang itu bisa selesai “sangat cepat”, karena banyak target militer Iran sudah dihancurkan. Sebaliknya, Iran tegas menolak narasi tersebut dan menegaskan bahwa akhir perang tidak ditentukan Washington, tetapi oleh kemampuan Iran untuk terus melawan dan mempertahankan kedaulatannya.
Iran tidak mau diajak kompromi jika tuntutan untuk tidak menyerang Iran di masa depan tidak diterima. Iran berdalih, dua kali perundingan, dua kali juga Iran dihajar rudal. Janji mediasi telah hancur saat serangan militer Amerika menghantam Teheran.
Namun, pertanyaan yang lebih mendasar justru acap luput dari analisis kita, yaitu apakah perang modern benar-benar ditentukan oleh siapa yang memiliki rudal paling canggih? Ataukah ada variabel yang lebih menentukan dalam berperang? Tulisan ini akan membahas persoalan ini untuk memperoleh gambaran yang lebih jernih.
Ada lima variable (faktor), paling tidak, yang menentukan durasi dan akhir perang yang saling berkelindan satu sama lain. Pertama adalah tujuan perang. Dalam banyak kasus, durasi perang sangat bergantung pada seberapa besar tujuan yang ingin dicapai.
Jika tujuan perang hanya terbatas pada penghancuran fasilitas militer tertentu atau menunda kemampuan nuklir Iran, maka perang berpotensi berlangsung relatif singkat. Namun, jika tujuan Isreal-AS adalah menjatuhkan rezim di Teheran, maka logika konflik akan berubah sepenuhnya.
Perang dengan tujuan maksimal jarang berakhir cepat, karena ia menyentuh inti eksistensi sebuah negara. Dalam hal ini, Israel-AS tampaknya memiliki tujuan berbeda dan berubah-rubah. Ini tampaknya tanda-tanda kelelahan bahkan kekalahan Israel-AS.
Kedua, adalah dukungan politik dalam negeri. Setiap perang pada akhirnya kembali ke pertanyaan sederhana, yaitu sampai sejauh mana masyarakat bersedia menanggung biaya perang? Dengan ujaran lain, siapapun yang memiliki kewenangan mengambil keputusan untuk terus atau menghentikan perang sangat bergantung pada dukungan politisi dan rakyat.
Awal perang, Trump mungkin mendapatkan dukungan kuat. Namun pertanyaannya, seberapa lama publik Amerika akan mendukung perang yang tak kunjung usai? Sebaliknya, bagi Iran, serangan dari Isreal-AS justru bisa menjadi perekat sosial yang memadamkan api perselisihan internal. Sejarah mengajarkan, sejak dari perang Vietnam hingga Afghanistan, bahwa militer terkuat sekalipun pada akhirnya harus menyerah pada kelelahan domestik.
Ketiga, strategi perang yang digunakan. Iran bukanlah negara yang harus memenangkan perang secara konvensional untuk bertahan, oleh karena kalah persenjataan tempur. Untuk strategi perang, Iran menggunakan strategi perang Atrisi, yaitu membuat lawan kelelahan dengan mengeluarkan sumber daya yang banyak.
Strategi semacam ini tidak selalu bertujuan memenangkan perang secara cepat, tetapi memperpanjang konflik sehingga biaya yang harus ditanggung lawan menjadi semakin besar. Dalam perang seperti ini, waktu berubah menjadi senjata strategis sehingga yang paling kuat bertahan yang akan menang.
Keempat, ruang geografis konflik. Sebuah perang akan jauh lebih sulit dihentikan jika medan konfliknya meluas. Timur Tengah bukanlah ruang yang sederhana. Ia adalah jaringan konflik yang saling terhubung. Ketika perang antara Israel dan Iran mulai bersentuhan dengan berbagai aktor regional, maka konflik tersebut berpotensi berubah dari perang terbatas menjadi konflik kawasan. Ketika konflik membentang, tarik-menarik kepentingan global tak terhindarkan.
Negara-negara Teluk, Inggris, Prancis, dan Jerman di satu sisi, versus Rusia, China, bahkan Korea Utara di sisi lain, bisa terseret dalam pusaran konflik. Sejarah menunjukkan bahwa perang yang melibatkan banyak aktor hampir selalu memiliki durasi yang lebih panjang.
Kelima, faktor ekonomi global, terutama energi. Konflik yang menyentuh jalur energi dunia hampir selalu menarik perhatian kekuatan internasional yang lebih luas. Ketika stabilitas ekonomi global mulai terganggu, diplomasi internasional biasanya bergerak lebih cepat untuk mencari jalan keluar. Dalam situasi seperti ini, pasar energi dan stabilitas ekonomi dunia sering kali menjadi aktor tak terlihat yang ikut menentukan kapan perang harus berhenti.
Maka, membaca konflik Israel-AS versus Iran tidak bisa dilakukan dengan kacamata kuda yang hanya melihat rudal dan pesawat tempur. Perang modern adalah perang urat saraf, di mana kelima variabel di atas menjadi penentu durasi konflik.
Karenanya, perang ini tampaknya tidak akan berakhir dengan deklarasi kemenangan ala Washington atau Teheran, melainkan karena "kelelahan" para aktor perang. Dan pada saat kelelahan itu tiba, peran mediator akan menjadi penentu apakah konflik berhenti dengan bermartabat atau terus berlarut tanpa ujung, seperti di terowongan gelap tanpa cahaya di ujung.
Pungkasannya, perang Israel-AS vs Iran mengajarkan sebuah kebenaran lama yang acap terlupakan, yaitu kekuatan sejati sebuah bangsa tidak terletak pada apa yang dapat dihancurkannya, melainkan pada apa yang dapat dipertahankannya. Dan dalam hal ini, Iran mungkin memiliki “ekosistem pertahanan” yang mungkin tidak pernah diperhitungkan oleh jenderal perang di Tel Aviv dan Washington.
Dosen Jurusan Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII.
DI TENGAH gegap gempita berita tentang rudal jelajah dan pesawat siluman yang mendominasi pemberitaan perang Israel-AS versus Iran 2026, kita acap terjebak pada narasi tentang kecanggihan teknologi militer. Presiden Donald Trump, dengan arogan menyatakan bahwa operasi militer besar-besaran terhadap Iran hampir mencapai titik akhir, dan juga mengklaim kekuatan militer Iran telah lumpuh total. "Mereka tidak memiliki angkatan laut, tidak ada komunikasi, mereka tidak memiliki angkatan udara," sembari merinci banyak target yang telah dihancurkan.
Secara tak terhindarkan, “perang kata-kata” terjadi antara AS-Israel vs Iran tentang akhir perang. Trump menyatakan bahwa konflik dengan Iran bisa berakhir kapan saja jika ia menginginkannya, bahkan mengatakan “Setiap kali saya ingin itu berakhir, itu akan berakhir.”
Ia juga beberapa kali menyebut perang itu bisa selesai “sangat cepat”, karena banyak target militer Iran sudah dihancurkan. Sebaliknya, Iran tegas menolak narasi tersebut dan menegaskan bahwa akhir perang tidak ditentukan Washington, tetapi oleh kemampuan Iran untuk terus melawan dan mempertahankan kedaulatannya.
Iran tidak mau diajak kompromi jika tuntutan untuk tidak menyerang Iran di masa depan tidak diterima. Iran berdalih, dua kali perundingan, dua kali juga Iran dihajar rudal. Janji mediasi telah hancur saat serangan militer Amerika menghantam Teheran.
Namun, pertanyaan yang lebih mendasar justru acap luput dari analisis kita, yaitu apakah perang modern benar-benar ditentukan oleh siapa yang memiliki rudal paling canggih? Ataukah ada variabel yang lebih menentukan dalam berperang? Tulisan ini akan membahas persoalan ini untuk memperoleh gambaran yang lebih jernih.
Ada lima variable (faktor), paling tidak, yang menentukan durasi dan akhir perang yang saling berkelindan satu sama lain. Pertama adalah tujuan perang. Dalam banyak kasus, durasi perang sangat bergantung pada seberapa besar tujuan yang ingin dicapai.
Jika tujuan perang hanya terbatas pada penghancuran fasilitas militer tertentu atau menunda kemampuan nuklir Iran, maka perang berpotensi berlangsung relatif singkat. Namun, jika tujuan Isreal-AS adalah menjatuhkan rezim di Teheran, maka logika konflik akan berubah sepenuhnya.
Perang dengan tujuan maksimal jarang berakhir cepat, karena ia menyentuh inti eksistensi sebuah negara. Dalam hal ini, Israel-AS tampaknya memiliki tujuan berbeda dan berubah-rubah. Ini tampaknya tanda-tanda kelelahan bahkan kekalahan Israel-AS.
Kedua, adalah dukungan politik dalam negeri. Setiap perang pada akhirnya kembali ke pertanyaan sederhana, yaitu sampai sejauh mana masyarakat bersedia menanggung biaya perang? Dengan ujaran lain, siapapun yang memiliki kewenangan mengambil keputusan untuk terus atau menghentikan perang sangat bergantung pada dukungan politisi dan rakyat.
Awal perang, Trump mungkin mendapatkan dukungan kuat. Namun pertanyaannya, seberapa lama publik Amerika akan mendukung perang yang tak kunjung usai? Sebaliknya, bagi Iran, serangan dari Isreal-AS justru bisa menjadi perekat sosial yang memadamkan api perselisihan internal. Sejarah mengajarkan, sejak dari perang Vietnam hingga Afghanistan, bahwa militer terkuat sekalipun pada akhirnya harus menyerah pada kelelahan domestik.
Ketiga, strategi perang yang digunakan. Iran bukanlah negara yang harus memenangkan perang secara konvensional untuk bertahan, oleh karena kalah persenjataan tempur. Untuk strategi perang, Iran menggunakan strategi perang Atrisi, yaitu membuat lawan kelelahan dengan mengeluarkan sumber daya yang banyak.
Strategi semacam ini tidak selalu bertujuan memenangkan perang secara cepat, tetapi memperpanjang konflik sehingga biaya yang harus ditanggung lawan menjadi semakin besar. Dalam perang seperti ini, waktu berubah menjadi senjata strategis sehingga yang paling kuat bertahan yang akan menang.
Keempat, ruang geografis konflik. Sebuah perang akan jauh lebih sulit dihentikan jika medan konfliknya meluas. Timur Tengah bukanlah ruang yang sederhana. Ia adalah jaringan konflik yang saling terhubung. Ketika perang antara Israel dan Iran mulai bersentuhan dengan berbagai aktor regional, maka konflik tersebut berpotensi berubah dari perang terbatas menjadi konflik kawasan. Ketika konflik membentang, tarik-menarik kepentingan global tak terhindarkan.
Negara-negara Teluk, Inggris, Prancis, dan Jerman di satu sisi, versus Rusia, China, bahkan Korea Utara di sisi lain, bisa terseret dalam pusaran konflik. Sejarah menunjukkan bahwa perang yang melibatkan banyak aktor hampir selalu memiliki durasi yang lebih panjang.
Kelima, faktor ekonomi global, terutama energi. Konflik yang menyentuh jalur energi dunia hampir selalu menarik perhatian kekuatan internasional yang lebih luas. Ketika stabilitas ekonomi global mulai terganggu, diplomasi internasional biasanya bergerak lebih cepat untuk mencari jalan keluar. Dalam situasi seperti ini, pasar energi dan stabilitas ekonomi dunia sering kali menjadi aktor tak terlihat yang ikut menentukan kapan perang harus berhenti.
Maka, membaca konflik Israel-AS versus Iran tidak bisa dilakukan dengan kacamata kuda yang hanya melihat rudal dan pesawat tempur. Perang modern adalah perang urat saraf, di mana kelima variabel di atas menjadi penentu durasi konflik.
Karenanya, perang ini tampaknya tidak akan berakhir dengan deklarasi kemenangan ala Washington atau Teheran, melainkan karena "kelelahan" para aktor perang. Dan pada saat kelelahan itu tiba, peran mediator akan menjadi penentu apakah konflik berhenti dengan bermartabat atau terus berlarut tanpa ujung, seperti di terowongan gelap tanpa cahaya di ujung.
Pungkasannya, perang Israel-AS vs Iran mengajarkan sebuah kebenaran lama yang acap terlupakan, yaitu kekuatan sejati sebuah bangsa tidak terletak pada apa yang dapat dihancurkannya, melainkan pada apa yang dapat dipertahankannya. Dan dalam hal ini, Iran mungkin memiliki “ekosistem pertahanan” yang mungkin tidak pernah diperhitungkan oleh jenderal perang di Tel Aviv dan Washington.
(poe)
Lihat Juga :