Sinergi Sekolah-Densus 88: Perkuat Guru sebagai Lini Terdepan Pelindung Remaja dari Radikalisme
Jum'at, 13 Maret 2026 - 15:20 WIB
loading...
A
A
A
Sesi guru yang bertajuk "Peran Guru sebagai Lini Terdepan: Navigasi Emosi Remaja dan Mitigasi Risiko Radikalisme di Sekolah" ini menekankan bahwa guru adalah figur dewasa utama yang paling mampu melakukan deteksi dini terhadap perubahan perilaku siswa.
Dalam paparannya, tim Densus 88 yang menghadirkan Kompol Ridjoko Suseno dan Bripda Chaterina Maharani mengungkapkan bahwa kelompok radikal kini aktif memanfaatkan media sosial untuk mendekati remaja melalui manipulasi psikologis. Mereka tidak lagi muncul dengan wajah yang menakutkan melainkan menyamar sebagai:
– Teman Curhat: Menawarkan solusi atas rasa kesepian atau ketidakadilan.
– Heroisme Palsu: Menjanjikan tujuan hidup yang besar atau petualangan.
– Eksklusivitas: Membuat remaja merasa menjadi bagian dari kelompok "terpilih".
“Penting bagi guru untuk tidak sekadar mengejar subject outcomes, namun juga memfasilitasi siswa mengembangkan skills dan values melalui learner outcomes. Kemampuan inilah yang memungkinkan siswa bersikap kritis dan bijak di dunia digital. Guru adalah aktor utama yang mendukung siswa mencapai tujuan jangka panjang mereka,” ujar pendiri dan CEO Redea Institute Antarina SF Amir.
Sebagai garda terdepan, guru harus terus belajar memperbarui strategi pembelajaran agar mampu mendeteksi risiko dan melindungi siswa dari ancaman kekerasan maupun radikalisme.
Densus 88 mengingatkan kembali bahwa pengelolaan emosi (anger management) yang tidak optimal pada siswa dapat berkembang menjadi tindakan agresif atau keinginan untuk balas dendam (revenge).
Dalam paparannya, tim Densus 88 yang menghadirkan Kompol Ridjoko Suseno dan Bripda Chaterina Maharani mengungkapkan bahwa kelompok radikal kini aktif memanfaatkan media sosial untuk mendekati remaja melalui manipulasi psikologis. Mereka tidak lagi muncul dengan wajah yang menakutkan melainkan menyamar sebagai:
– Teman Curhat: Menawarkan solusi atas rasa kesepian atau ketidakadilan.
– Heroisme Palsu: Menjanjikan tujuan hidup yang besar atau petualangan.
– Eksklusivitas: Membuat remaja merasa menjadi bagian dari kelompok "terpilih".
“Penting bagi guru untuk tidak sekadar mengejar subject outcomes, namun juga memfasilitasi siswa mengembangkan skills dan values melalui learner outcomes. Kemampuan inilah yang memungkinkan siswa bersikap kritis dan bijak di dunia digital. Guru adalah aktor utama yang mendukung siswa mencapai tujuan jangka panjang mereka,” ujar pendiri dan CEO Redea Institute Antarina SF Amir.
Sebagai garda terdepan, guru harus terus belajar memperbarui strategi pembelajaran agar mampu mendeteksi risiko dan melindungi siswa dari ancaman kekerasan maupun radikalisme.
Densus 88 mengingatkan kembali bahwa pengelolaan emosi (anger management) yang tidak optimal pada siswa dapat berkembang menjadi tindakan agresif atau keinginan untuk balas dendam (revenge).
Lihat Juga :