Budayawan Denny JA Publikasikan 8 Buku Puisi Esai tentang Luka Sejarah
Kamis, 12 Maret 2026 - 15:59 WIB
loading...
A
A
A
Mereka yang Mulai Teriak Merdeka (2024) mengisahkan tokoh-tokoh awal pergerakan nasional seperti Kartini, Tirto Adhi Soerjo, Soetomo, hingga Bung Karno sebagai manusia yang bergulat dengan gagasan dan harapan.
Mereka yang Tak Bisa Pulang di Tahun 1960-an (2024) berkisah tentang para eksil Indonesia setelah tragedi politik 1965 yang hidup puluhan tahun di luar negeri tanpa kepastian kembali ke tanah air.
Sementara itu, Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025) membawa pembaca menjelajahi tragedi dunia seperti Holocaust, Hiroshima, Revolusi Prancis, hingga perang Vietnam.
Buku terbaru, Atas Nama Bencana (2026), merekam berbagai tragedi ekologis di Sumatra yang dipahami bukan sekadar peristiwa alam, tetapi juga akibat dari keputusan manusia.
Jika dibaca sebagai satu rangkaian, delapan buku tersebut menunjukkan perjalanan pemikiran penulis yang semakin luas. Kisahnya dimulai dari luka cinta akibat diskriminasi, bergerak ke luka sejarah bangsa, kemudian menjangkau tragedi dunia, hingga akhirnya menyentuh persoalan kerusakan lingkungan.
Puisi esai, menurut penerbit, menjadi cara untuk merawat ingatan kolektif masyarakat. Dalam tradisi sastra dunia, karya-karya yang mengangkat penderitaan manusia telah lama menjadi bagian penting dari literatur, seperti Les Misérables karya Victor Hugo, The Gulag Archipelago karya Aleksandr Solzhenitsyn, dan Night karya Elie Wiesel.
Puisi esai berada dalam tradisi moral yang sama, namun dengan bentuk yang berbeda karena memadukan unsur puisi, jurnalisme, dan refleksi sejarah.
Melalui karya-karya ini, sejarah tidak hanya dipahami sebagai kronologi peristiwa, tetapi juga sebagai pengalaman manusia yang penuh emosi dan makna.
Pada akhirnya, puisi esai mengajak pembaca untuk mengingat bahwa sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh kemenangan, tetapi juga oleh keberanian untuk mengakui dan mengingat luka sejarahnya sendiri.
Mereka yang Tak Bisa Pulang di Tahun 1960-an (2024) berkisah tentang para eksil Indonesia setelah tragedi politik 1965 yang hidup puluhan tahun di luar negeri tanpa kepastian kembali ke tanah air.
Sementara itu, Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025) membawa pembaca menjelajahi tragedi dunia seperti Holocaust, Hiroshima, Revolusi Prancis, hingga perang Vietnam.
Buku terbaru, Atas Nama Bencana (2026), merekam berbagai tragedi ekologis di Sumatra yang dipahami bukan sekadar peristiwa alam, tetapi juga akibat dari keputusan manusia.
Jika dibaca sebagai satu rangkaian, delapan buku tersebut menunjukkan perjalanan pemikiran penulis yang semakin luas. Kisahnya dimulai dari luka cinta akibat diskriminasi, bergerak ke luka sejarah bangsa, kemudian menjangkau tragedi dunia, hingga akhirnya menyentuh persoalan kerusakan lingkungan.
Puisi esai, menurut penerbit, menjadi cara untuk merawat ingatan kolektif masyarakat. Dalam tradisi sastra dunia, karya-karya yang mengangkat penderitaan manusia telah lama menjadi bagian penting dari literatur, seperti Les Misérables karya Victor Hugo, The Gulag Archipelago karya Aleksandr Solzhenitsyn, dan Night karya Elie Wiesel.
Puisi esai berada dalam tradisi moral yang sama, namun dengan bentuk yang berbeda karena memadukan unsur puisi, jurnalisme, dan refleksi sejarah.
Melalui karya-karya ini, sejarah tidak hanya dipahami sebagai kronologi peristiwa, tetapi juga sebagai pengalaman manusia yang penuh emosi dan makna.
Pada akhirnya, puisi esai mengajak pembaca untuk mengingat bahwa sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh kemenangan, tetapi juga oleh keberanian untuk mengakui dan mengingat luka sejarahnya sendiri.
(cip)
Lihat Juga :