Budayawan Denny JA Publikasikan 8 Buku Puisi Esai tentang Luka Sejarah
Kamis, 12 Maret 2026 - 15:59 WIB
loading...
A
A
A
Lihat video: MBG Jadi Program Terbaik 100 Hari Prabowo-Gibran Versi LSI Denny JA
Puisi esai merupakan bentuk sastra yang memadukan keindahan bahasa puisi dengan kedalaman refleksi esai. Genre ini diperkenalkan Denny JA pada 2012 melalui buku Atas Nama Cinta.
Sejak saat itu, puisi esai berkembang menjadi gerakan sastra lintas negara. Hingga 2026, Festival Puisi Esai ASEAN telah digelar lima kali dengan melibatkan penulis dari berbagai negara Asia Tenggara.
Ciri utama puisi esai adalah pertemuan antara fakta sejarah dan kisah manusia. Setiap cerita berpijak pada peristiwa nyata seperti konflik sosial, tragedi kemanusiaan, diskriminasi, hingga berbagai luka sejarah yang sering terlupakan.
Keunikan lainnya adalah penggunaan catatan kaki yang menjelaskan fakta sejarah di balik cerita. Dengan demikian, pembaca tidak hanya tersentuh secara emosional, tetapi juga memperoleh pemahaman historis yang lebih luas.
Pada 2025, inovasi sastra ini juga memperoleh pengakuan internasional ketika Denny JA menerima BRICS Literary Award atas kontribusinya memperkenalkan bentuk sastra yang menggabungkan puisi, jurnalisme, dan refleksi sejarah.
Delapan buku puisi esai karya Denny JA menggambarkan berbagai pengalaman manusia dalam lintasan sejarah.
Buku Atas Nama Cinta (2012) mengangkat kisah cinta yang hancur akibat diskriminasi sosial dan prasangka.
Kutunggu di Setiap Kamisan (2018) terinspirasi dari perjuangan keluarga korban pelanggaran HAM berat yang menuntut keadilan melalui aksi damai.
Jeritan Setelah Kebebasan (2015) merekam berbagai konflik etnis dan agama yang terjadi setelah Reformasi, seperti kerusuhan Maluku, Sampit, hingga konflik sosial di berbagai daerah.
Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (2024) menghadirkan kisah kelompok-kelompok yang jarang tercatat dalam sejarah, seperti romusha, jugun ianfu, dan anak-anak yang lahir dari hubungan kolonial.
Puisi esai merupakan bentuk sastra yang memadukan keindahan bahasa puisi dengan kedalaman refleksi esai. Genre ini diperkenalkan Denny JA pada 2012 melalui buku Atas Nama Cinta.
Sejak saat itu, puisi esai berkembang menjadi gerakan sastra lintas negara. Hingga 2026, Festival Puisi Esai ASEAN telah digelar lima kali dengan melibatkan penulis dari berbagai negara Asia Tenggara.
Ciri utama puisi esai adalah pertemuan antara fakta sejarah dan kisah manusia. Setiap cerita berpijak pada peristiwa nyata seperti konflik sosial, tragedi kemanusiaan, diskriminasi, hingga berbagai luka sejarah yang sering terlupakan.
Keunikan lainnya adalah penggunaan catatan kaki yang menjelaskan fakta sejarah di balik cerita. Dengan demikian, pembaca tidak hanya tersentuh secara emosional, tetapi juga memperoleh pemahaman historis yang lebih luas.
Pada 2025, inovasi sastra ini juga memperoleh pengakuan internasional ketika Denny JA menerima BRICS Literary Award atas kontribusinya memperkenalkan bentuk sastra yang menggabungkan puisi, jurnalisme, dan refleksi sejarah.
Delapan buku puisi esai karya Denny JA menggambarkan berbagai pengalaman manusia dalam lintasan sejarah.
Buku Atas Nama Cinta (2012) mengangkat kisah cinta yang hancur akibat diskriminasi sosial dan prasangka.
Kutunggu di Setiap Kamisan (2018) terinspirasi dari perjuangan keluarga korban pelanggaran HAM berat yang menuntut keadilan melalui aksi damai.
Jeritan Setelah Kebebasan (2015) merekam berbagai konflik etnis dan agama yang terjadi setelah Reformasi, seperti kerusuhan Maluku, Sampit, hingga konflik sosial di berbagai daerah.
Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (2024) menghadirkan kisah kelompok-kelompok yang jarang tercatat dalam sejarah, seperti romusha, jugun ianfu, dan anak-anak yang lahir dari hubungan kolonial.
Lihat Juga :