RUU PPRT Mendesak Disahkan, Rieke PDIP: PRT Adalah Pekerja, Bukan Pembantu
Sabtu, 07 Maret 2026 - 13:37 WIB
loading...
A
A
A
Pekerja migran memberikan kontribusi ekonomi yang besar bagi Indonesia. Berdasarkan data Bank Indonesia, remitansi pekerja migran pada 2024 mencapai sekitar USD15,7 miliar atau setara Rp253 triliun.
"Artinya, pekerja migran, termasuk jutaan pekerja rumah tangga merupakan penopang ekonomi nasional sekaligus penggerak ekonomi keluarga di berbagai daerah di kantong migran," ucapnya.
"Ironisnya, sektor yang memberikan kontribusi ekonomi besar tersebut justru berada dalam perlindungan hukum yang paling lemah. Indonesia hingga kini belum meratifikasi Konvensi ILO Nomor 189 tentang kerja layak bagi pekerja rumah tangga dan pekerja rumah tangga di dalam negeri belum diakui secara penuh dalam sistem hukum ketenagakerjaan nasional," lanjut Rieke.
Dia menilai kerentanan pekerja rumah tangga tak hanya disebabkan kekosongan regulasi. Namun, juga paradigma yang masih keliru dalam memandang kerja domestik.
Rieke mengatakan, pekerja rumah tangga kerap tak diakui sebagai pekerja. Selain itu, juga masih terdapatnya stigma sosial sebagai pembantu.
"Ada relasi kuasa timpang antara pekerja dan pemberi kerja, yang diperparah oleh stigma sosial sebagai pembantu atau lebih parahnya lagi dikatakan sebagai babu. Kerja perawatan atau care work belum diakui sebagai pekerjaan bernilai ekonomi," ujarnya.
"Artinya, pekerja migran, termasuk jutaan pekerja rumah tangga merupakan penopang ekonomi nasional sekaligus penggerak ekonomi keluarga di berbagai daerah di kantong migran," ucapnya.
"Ironisnya, sektor yang memberikan kontribusi ekonomi besar tersebut justru berada dalam perlindungan hukum yang paling lemah. Indonesia hingga kini belum meratifikasi Konvensi ILO Nomor 189 tentang kerja layak bagi pekerja rumah tangga dan pekerja rumah tangga di dalam negeri belum diakui secara penuh dalam sistem hukum ketenagakerjaan nasional," lanjut Rieke.
Dia menilai kerentanan pekerja rumah tangga tak hanya disebabkan kekosongan regulasi. Namun, juga paradigma yang masih keliru dalam memandang kerja domestik.
Rieke mengatakan, pekerja rumah tangga kerap tak diakui sebagai pekerja. Selain itu, juga masih terdapatnya stigma sosial sebagai pembantu.
"Ada relasi kuasa timpang antara pekerja dan pemberi kerja, yang diperparah oleh stigma sosial sebagai pembantu atau lebih parahnya lagi dikatakan sebagai babu. Kerja perawatan atau care work belum diakui sebagai pekerjaan bernilai ekonomi," ujarnya.
Lihat Juga :