ISI Ungkap 3 Alasan Indonesia Bergabung dengan Board of Peace

Jum'at, 27 Februari 2026 - 18:27 WIB
loading...
ISI Ungkap 3 Alasan...
Presiden Prabowo Subianto menghadiri pertemuan perdana Board of Peace (BoP) yang digelar di Donald Trump United States Institute of Peace, Washington, D.C., Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026). FOTO/Setpres
A A A
JAKARTA - Keikutsertaan Indonesia sebagai anggota Board of Peace (BoP), yang piagamnya ditandatangani di Davos, Swiss pada Januari 2026, dinilai merupakan langkah strategis untuk menghadirkan perdamaian di Gaza. Sebab, selama lebih dari 50 tahun telah terjadi kebuntuan diplomasi global dalam upaya penyelesaian konflik Palestina-Israel.

Hal ini disampaikan Direktur Riset Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI), Ian Montrama dalam kegiatan Networking Iftar bersama jurnalis media nasional di Jakarta, Kamis (26/2/2026). Menurutnya, ada tiga pertimbangan fundamental Indonesia bergabung dengan BoP bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Pertama, langkah strategis itu merupakan implementasi dari amanat konstitusi yang tercantum dalam alinea pertama pembukaan UUD 1945, bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.

"Kedua, telah terjadi kebuntuan diplomasi global dalam penyelesaian konflik Israel-Palestina. BoP ini menjadi terobosan baru mengingat 119 resolusi PBB sejak tahun 1965 terbukti gagal mencapai perdamaian nyata bagi Palestina," kata Ian Montrama.

Pertimbangan ketiga, kata Ian, adalah kebutuhan akan solusi instan untuk menghentikan bencana kemanusiaan dan genosida di Gaza yang tidak dapat ditunda lagi.

"Langkah BoP ini merupakan instrumen konkret untuk mengawal two-state solution sekaligus menjaga keseimbangan agar diplomasi global tidak didominasi oleh kekuatan tunggal," ujarnya.

Komitmen Indonesia menghadirkan perdamaian di Gaza, kata Ian, juga dipertegas melalui pengiriman 8.000 personel dalam misi Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) di Gaza. Apalagi Indonesia dipercaya sebagai Wakil Komandan Operasi.

Sementara itu, Dewan Penasihat ISI, Muhammad Hadianto menjelaskan, saat ini telah terjadi pergeseran geopolitik menuju realisme yang menuntut Indonesia memperkuat "Autonomi Strategis" guna menjaga kelangsungan negara (state survival). Karena itu ia menekankan bahwa kebijakan luar negeri dan pertahanan adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.

"Diplomasi tanpa topangan kekuatan militer akan melemahkan posisi Indonesia. Meskipun aliansi kini menjadi prasyarat dalam situasi dunia yang fluktuatif, hal tersebut harus dipahami secara kontekstual dan tetap berbasis pada pragmatisme tujuan nasional," katanya.

Di sektor pertahanan domestik, ISI menyoroti transformasi menuju budaya maritim yang lebih kuat melalui modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) untuk menjaga kedaulatan, khususnya di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan Natuna.

Langkah tersebut diperkuat dengan pengembangan Batalyon Teritorial Penyangga (BTP) berbasis sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (Sishankamrata). Konsep ini diarahkan untuk menyiapkan wilayah logistik pertahanan di tingkat daerah, mencakup sektor kesehatan hingga pertanian.

Sementara itu, dalam aspek ekonomi strategis, ISI menyoroti keberhasilan Perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat yang mengamankan tarif 0 persen untuk 1.819 pos tarif produk unggulan nasional.

Diversifikasi kerja sama perdagangan serta penguatan industri pertahanan melalui skema Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dinilai penting untuk menghindari ketergantungan pada satu pemasok di tengah rivalitas kekuatan besar.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prabowo Bertemu Kapolri...
Prabowo Bertemu Kapolri di Istana, Terima Laporan Kamtibmas-Persiapan Hari Bhayangkara 2026
Kawal Instruksi Presiden...
Kawal Instruksi Presiden Soal Ojol, Komisi V DPR Minta Tarif Baru Tak Bebani Konsumen
Prabowo: Selat Hormuz...
Prabowo: Selat Hormuz Ditutup, Kita Percaya Diri Mampu Mengatasi
Presiden Prabowo: Hanya...
Presiden Prabowo: Hanya di Indonesia Polisi Ngurus Pertanian, Tentaranya Sering Ada di Sawah
Kelakar Prabowo soal...
Kelakar Prabowo soal Nama Panglima TNI dan Kapolri: Susah Diganti
Prabowo Pakai Peci Karanji...
Prabowo Pakai Peci Karanji Hadiri Pekan Petani dan Nelayan di Gorontalo
Trump Caci Maki Netanyahu:...
Trump Caci Maki Netanyahu: Semua Orang Yahudi Muak Denganmu!
China Bikin Replika...
China Bikin Replika Kapal Perang AS untuk Jadi Target Tes Rudal
Iran Tolak Pendapat...
Iran Tolak Pendapat Menlu AS Rubio tentang Kesepakatan Damai
Rekomendasi
5 Fakta Menarik Jerman...
5 Fakta Menarik Jerman Tumbang Dihajar Ekuador: Gol Kilat Sane hingga Tekanan Gila La Tri
Jembatan Pasar Aset...
Jembatan Pasar Aset Tradisional dan Digital, ICE dan OKX Bentuk Joint Venture
Khotbah Jumat : Ada...
Khotbah Jumat : Ada Apa dengan Hari Asyura?
Berita Terkini
Menko Pangan: Saya Tahu...
Menko Pangan: Saya Tahu Keresahan Mitra BGN, Mitra Jangan Dikorbankan
MUI Tegaskan Tetap Perjuangkan...
MUI Tegaskan Tetap Perjuangkan Sanksi Pidana LGBT: Tidak Semua Happy terhadap Upaya Perbaikan
1.000 Taruna Akmil Bakal...
1.000 Taruna Akmil Bakal Latih Siswa Sekolah Rakyat, Usman Hamid: Ruang Kelas Harus Bebas dari Intervensi Militer
KPK Belum Menahan Eks...
KPK Belum Menahan Eks Sekjen MPR Ma'ruf Cahyono usai Pemeriksaan, Ini Alasannya
Jokowi Wajib Hadir di...
Jokowi Wajib Hadir di Persidangan Perkara Ijazah, Pengacara Roy Suryo: Kan Dia Pelapor
Pengacara Ungkap Roy...
Pengacara Ungkap Roy Suryo-Tifa Merasa Diperlakukan Seperti Bukan Anak Bangsa saat Ditangkap Polisi
Infografis
3 Negara yang Teguh...
3 Negara yang Teguh Tak Akui Taiwan, Salah Satunya Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved