Sekum PP Muhammadiyah: Ramadan Bulan Kerukunan
Rabu, 25 Februari 2026 - 08:33 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Mu’ti puasa menjadi terasa lebih ringan, karena selain menunaikannya dengan penuh keikhlasan juga karena dilakukan secara bersama.
Banyak hal ternyata pelaksanaan ibadah itu sebagian ditentukan oleh lingkungan sosial. Dalam teori sosiologi agama disebut dengan kesalehan sosial atau kesalehan yang berasal dari lingkungan dimana berada. Suasana puasa memberikan dorongan spiritual dan kekuatan mental untuk dapat mengatasi berbagai aral dan kesulitan.
“Di tempat kerja semua teman berpuasa, kita akan memiliki semangat untuk berpuasa. Begitu pula dalam keluarga semuanya berpuasa, maka semangat kita berpuasa menjadi semakin kuat “, Mu’ti mencontohkan.
Ramadan juga sering disebut sebagai syahru Quran. Bulan Al-Qur'an menurut Mu’ti bermakna dua. Pertama makna dalam pandangan sejarah, karena Al-Qur'an diturunkan di bulan Ramadan. Pemahaman itu merujuk surat al-Baqarah ayat 185.
Syahru ramadanal-lazi unzila fihil-qur'anu hudal lin-nasi wa bayyinatim minal-huda wal-furqan(i). “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)”.
Al-Qur'an turun pertama kali pada bulan Ramadan tanggal 17 yang seringkali diperingati sebagai Nuzulul Quran. Secara nubuah menjadi pertanda diangkatnya Muhammad SAW sebagai Rasulullah.
Kedua syahru Quran bulan di dalamnya memperbanyak membaca Al-Qur'an. Rasulullah Muhammad pada bulan Ramadhan itu senantiasa tadarus dengan Jibril yang kemudian menjadi tradisi melaksanakan tadarus Al-Qur'an.
Menurut Mu’ti memperbanyak itu lebih ditekankan pada frekuensinya daripada jumlahnya. Dengan demikian membaca Al-Qur'an akan lebih memberikan pengaruh secara spiritual apabila membacanya dengan tartil. Dalam Al Quran disebutkan, “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil”. (al_Muzammil ayat 4)
Banyak hal ternyata pelaksanaan ibadah itu sebagian ditentukan oleh lingkungan sosial. Dalam teori sosiologi agama disebut dengan kesalehan sosial atau kesalehan yang berasal dari lingkungan dimana berada. Suasana puasa memberikan dorongan spiritual dan kekuatan mental untuk dapat mengatasi berbagai aral dan kesulitan.
“Di tempat kerja semua teman berpuasa, kita akan memiliki semangat untuk berpuasa. Begitu pula dalam keluarga semuanya berpuasa, maka semangat kita berpuasa menjadi semakin kuat “, Mu’ti mencontohkan.
Ramadan juga sering disebut sebagai syahru Quran. Bulan Al-Qur'an menurut Mu’ti bermakna dua. Pertama makna dalam pandangan sejarah, karena Al-Qur'an diturunkan di bulan Ramadan. Pemahaman itu merujuk surat al-Baqarah ayat 185.
Syahru ramadanal-lazi unzila fihil-qur'anu hudal lin-nasi wa bayyinatim minal-huda wal-furqan(i). “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)”.
Al-Qur'an turun pertama kali pada bulan Ramadan tanggal 17 yang seringkali diperingati sebagai Nuzulul Quran. Secara nubuah menjadi pertanda diangkatnya Muhammad SAW sebagai Rasulullah.
Kedua syahru Quran bulan di dalamnya memperbanyak membaca Al-Qur'an. Rasulullah Muhammad pada bulan Ramadhan itu senantiasa tadarus dengan Jibril yang kemudian menjadi tradisi melaksanakan tadarus Al-Qur'an.
Menurut Mu’ti memperbanyak itu lebih ditekankan pada frekuensinya daripada jumlahnya. Dengan demikian membaca Al-Qur'an akan lebih memberikan pengaruh secara spiritual apabila membacanya dengan tartil. Dalam Al Quran disebutkan, “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil”. (al_Muzammil ayat 4)
Lihat Juga :