Kepala BPOM: Konsep ABG Jadi Peta Strategis Indonesia Tingkatkan Daya Saing Global
Minggu, 15 Februari 2026 - 12:22 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Taruna Ikrar, seluruh tantangan tersebut saling berkaitan dan tidak dapat diselesaikan secara sektoral. Perguruan tinggi harus menjadi pusat lahirnya solusi global melalui riset yang relevan, inovasi yang terhilirisasi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Oleh karena itu BPOM siap bersinergi dengan kampus dan dunia usaha agar inovasi tidak berhenti pada publikasi, tetapi menjadi produk nyata yang memberi manfaat kesehatan dan ekonomi. Taruna juga menyoroti Global Innovation Index 2025 yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-55 dari 139 negara.
"Dengan jumlah perguruan tinggi mencapai 4.416, Indonesia dinilai memiliki potensi inovasi sangat besar, namun memerlukan percepatan penguatan ekosistem riset berdampak tinggi, hilirisasi industri, serta kolaborasi internasional," ujarnya.
Alumni Kedokteran Unhas ini menekankan bahwa konsep ABG bukan sekadar kerja sama administratif, melainkan model ekosistem nasional. Akademisi melahirkan ilmu dan teknologi, industri mengubahnya menjadi nilai ekonomi, sementara pemerintah memastikan regulasi dan perlindungan publik berjalan seimbang.
“Negara maju bukan hanya yang kaya sumber daya, tetapi yang mampu mengubah pengetahuan menjadi produk, dan produk menjadi kekuatan ekonomi. ABG adalah jembatan transformasi itu,” tandasnya. Dalam konteks internasional, BPOM juga terus membangun reputasi sebagai otoritas regulatori obat yang kredibel.
BPOM telah menjadi National Regulatory Authority (NRA) pertama dari negara berkembang yang masuk dalam WHO Listed Authority (WLA). Pengakuan Organisasi Kesehatan Dunia tersebut bukan sekadar simbol, tetapi validasi internasional atas kapasitas, tata kelola, dan kredibilitas sistem regulasi obat Indonesia.
Status WLA membuat keputusan regulatori BPOM dapat menjadi rujukan bagi negara lain. Dengan posisi sebagai reference National Regulatory Authority, proses registrasi dan penerimaan produk Indonesia di pasar global menjadi lebih cepat dan lebih dipercaya.
Dampak lanjutannya adalah penguatan ekonomi nasional karena industri farmasi dan produk kesehatan dalam negeri memperoleh akses pasar yang lebih luas dan kompetitif. Selain meningkatkan ekspor, capaian ini juga memperkuat diplomasi kesehatan Indonesia di forum internasional.
Oleh karena itu BPOM siap bersinergi dengan kampus dan dunia usaha agar inovasi tidak berhenti pada publikasi, tetapi menjadi produk nyata yang memberi manfaat kesehatan dan ekonomi. Taruna juga menyoroti Global Innovation Index 2025 yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-55 dari 139 negara.
"Dengan jumlah perguruan tinggi mencapai 4.416, Indonesia dinilai memiliki potensi inovasi sangat besar, namun memerlukan percepatan penguatan ekosistem riset berdampak tinggi, hilirisasi industri, serta kolaborasi internasional," ujarnya.
Alumni Kedokteran Unhas ini menekankan bahwa konsep ABG bukan sekadar kerja sama administratif, melainkan model ekosistem nasional. Akademisi melahirkan ilmu dan teknologi, industri mengubahnya menjadi nilai ekonomi, sementara pemerintah memastikan regulasi dan perlindungan publik berjalan seimbang.
“Negara maju bukan hanya yang kaya sumber daya, tetapi yang mampu mengubah pengetahuan menjadi produk, dan produk menjadi kekuatan ekonomi. ABG adalah jembatan transformasi itu,” tandasnya. Dalam konteks internasional, BPOM juga terus membangun reputasi sebagai otoritas regulatori obat yang kredibel.
BPOM telah menjadi National Regulatory Authority (NRA) pertama dari negara berkembang yang masuk dalam WHO Listed Authority (WLA). Pengakuan Organisasi Kesehatan Dunia tersebut bukan sekadar simbol, tetapi validasi internasional atas kapasitas, tata kelola, dan kredibilitas sistem regulasi obat Indonesia.
Status WLA membuat keputusan regulatori BPOM dapat menjadi rujukan bagi negara lain. Dengan posisi sebagai reference National Regulatory Authority, proses registrasi dan penerimaan produk Indonesia di pasar global menjadi lebih cepat dan lebih dipercaya.
Dampak lanjutannya adalah penguatan ekonomi nasional karena industri farmasi dan produk kesehatan dalam negeri memperoleh akses pasar yang lebih luas dan kompetitif. Selain meningkatkan ekspor, capaian ini juga memperkuat diplomasi kesehatan Indonesia di forum internasional.
Lihat Juga :