BMKG: Perubahan Iklim Picu Meningkatnya Bencana, Termasuk Banjir Sumatera
Selasa, 10 Februari 2026 - 15:12 WIB
loading...
Diskusi Ilmiah bertajuk Dialektika Sawit Indonesia: Perubahan Iklim Global Sebagai Pemicu Bencana di Sumatra di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Selasa (10/2/2026). Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
MEDAN - Perubahan iklim menjadi pemicu meningkatnya frekuensi bencana alam dalam beberapa tahun terakhir. Termasuk bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada penghujung 2025 di Sumatera.
“ Bencana alam yang terjadi akhir tahun lalu di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat disebabkan iklim
dunia yang terus memanas serta adanya siklon tropis di sekitar Sumatra,” kata Ardhasena Sopaheluwakan Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ) saat menjadi pembicara pada Diskusi Ilmiah bertajuk “Dialektika Sawit Indonesia: Perubahan Iklim Global Sebagai Pemicu Bencana di Sumatra” di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Selasa (10/2/2026). Baca juga: Update Hari Ini, Jumlah Pengungsi Bencana Sumatera 105.842 Orang
Dalam paparannya, Ardhasena menyampaikan ada 10 badai tropis yang awal tumbuhnya di Laut Banda. Jika diperluas sedikit ke arah selatan, ada lebih dari 30 siklon tropis yang tercatat tumbuh di sana. “Wilayah ini sering menjadi titik awal bibit siklon,” ujarnya.
Perubahan iklim yang ditandai cuaca ekstrem, kata Ardhasena, juga mendorong terjadinya curah hujan ekstrem di Sumatera pada November dan Desember 2025. Curah hujan yang ekstrem antara lain disebabkan terjadinya pusaran badai, konvergensi yang membentuk awan secara masif pada wilayah pertemuan angin, dan konveksi (mekanisme perpindahan panas) akibat pemanasan permukaan air laut yang membentuk awan secara masif.
“Hingga Juni tahun ini akan terjadi curah hujan yang tinggi di kawasan Selatan khatulistiwa. Kondisi tersebut, perlu diantisipasi dengan langkah-langkah yang tepat,” lanjut Ketua Umum Asosiasi Ahli Atmosfer Indonesia (A3I) tersebut.
Dari data satelit BMKG, siklon tropis Senyar pada November 2025 lalu, membuat curah hujan sangat tinggi di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Lima lokasi dengan curah hujan tertinggi yaitu Singkil Utara (Aceh) dengan curah hujan 225.0 mm, dan empat wilayah di Sumbar yaitu Limau Purut 182.0 mm, Ulakan Tapakis 177.0 mm, Staklim Padang Pariaman 167.5 mm, dan Tambang Semen Padang 145.0 mm.
“Tiga wilayah di Kabupaten Langkat Sumatra Utara yaitu Gebang, Cempa, dan Secanggang juga mencatat curah hujan yang sangat tinggi pada akhir November tahun lalu,” tandasnya.
Menurutnya, normal curah hujan adalah 474 mm. Namun curah hujan pada November 2025 mencapai 1.356 mm. Dan curah hujan saat terjadi bencana adalah tiga kali dari curah hujan pada November 2025.
“Perubahan iklim adalah perubahan signifikan dalam pola cuaca global atau regional yang terjadi dalam
jangka waktu panjang, biasanya puluhan tahun hingga berabad-abad. Dan tahun 2025 adalah tahun terpanas ketiga dalam pencatatan suhu bumi,” terangnya. Baca juga: Begini Cara BMKG Membuat Prakiraan Cuaca Setiap Hari, Bukan Sekedar Tebakan
Curah hujan maksimum harian, kata Ardhasena, di masa depan semakin meningkat dan kejadian ekstrem makin sering terjadi. Curah hujan lebih dari 250 mm yang memiliki periode ulang 100 tahun pada periode saat ini, pada masa depan menjadi semakin sering karena memiliki periode ulang yang lebih pendek menjadi di bawah 20 puluh tahun saja.
“Jadi, perubahan iklim global di mana suhu bumi semakin memanas, adalah penyebab utama terjadi bencana seperti hujan ekstrem sehingga memicu tanah longsor,” tegasnya.
“ Bencana alam yang terjadi akhir tahun lalu di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat disebabkan iklim
dunia yang terus memanas serta adanya siklon tropis di sekitar Sumatra,” kata Ardhasena Sopaheluwakan Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ) saat menjadi pembicara pada Diskusi Ilmiah bertajuk “Dialektika Sawit Indonesia: Perubahan Iklim Global Sebagai Pemicu Bencana di Sumatra” di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Selasa (10/2/2026). Baca juga: Update Hari Ini, Jumlah Pengungsi Bencana Sumatera 105.842 Orang
Dalam paparannya, Ardhasena menyampaikan ada 10 badai tropis yang awal tumbuhnya di Laut Banda. Jika diperluas sedikit ke arah selatan, ada lebih dari 30 siklon tropis yang tercatat tumbuh di sana. “Wilayah ini sering menjadi titik awal bibit siklon,” ujarnya.
Perubahan iklim yang ditandai cuaca ekstrem, kata Ardhasena, juga mendorong terjadinya curah hujan ekstrem di Sumatera pada November dan Desember 2025. Curah hujan yang ekstrem antara lain disebabkan terjadinya pusaran badai, konvergensi yang membentuk awan secara masif pada wilayah pertemuan angin, dan konveksi (mekanisme perpindahan panas) akibat pemanasan permukaan air laut yang membentuk awan secara masif.
“Hingga Juni tahun ini akan terjadi curah hujan yang tinggi di kawasan Selatan khatulistiwa. Kondisi tersebut, perlu diantisipasi dengan langkah-langkah yang tepat,” lanjut Ketua Umum Asosiasi Ahli Atmosfer Indonesia (A3I) tersebut.
Dari data satelit BMKG, siklon tropis Senyar pada November 2025 lalu, membuat curah hujan sangat tinggi di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Lima lokasi dengan curah hujan tertinggi yaitu Singkil Utara (Aceh) dengan curah hujan 225.0 mm, dan empat wilayah di Sumbar yaitu Limau Purut 182.0 mm, Ulakan Tapakis 177.0 mm, Staklim Padang Pariaman 167.5 mm, dan Tambang Semen Padang 145.0 mm.
“Tiga wilayah di Kabupaten Langkat Sumatra Utara yaitu Gebang, Cempa, dan Secanggang juga mencatat curah hujan yang sangat tinggi pada akhir November tahun lalu,” tandasnya.
Menurutnya, normal curah hujan adalah 474 mm. Namun curah hujan pada November 2025 mencapai 1.356 mm. Dan curah hujan saat terjadi bencana adalah tiga kali dari curah hujan pada November 2025.
“Perubahan iklim adalah perubahan signifikan dalam pola cuaca global atau regional yang terjadi dalam
jangka waktu panjang, biasanya puluhan tahun hingga berabad-abad. Dan tahun 2025 adalah tahun terpanas ketiga dalam pencatatan suhu bumi,” terangnya. Baca juga: Begini Cara BMKG Membuat Prakiraan Cuaca Setiap Hari, Bukan Sekedar Tebakan
Curah hujan maksimum harian, kata Ardhasena, di masa depan semakin meningkat dan kejadian ekstrem makin sering terjadi. Curah hujan lebih dari 250 mm yang memiliki periode ulang 100 tahun pada periode saat ini, pada masa depan menjadi semakin sering karena memiliki periode ulang yang lebih pendek menjadi di bawah 20 puluh tahun saja.
“Jadi, perubahan iklim global di mana suhu bumi semakin memanas, adalah penyebab utama terjadi bencana seperti hujan ekstrem sehingga memicu tanah longsor,” tegasnya.
(poe)
Lihat Juga :