7 Nama Kuat Bursa KSAD: Antara Hak Prerogatif Presiden dan Estafet Komando AD
Jum'at, 06 Februari 2026 - 17:11 WIB
loading...
A
A
A
Kunto adalah putra dari Jenderal (Purn) Try Sutrisno yang pernah menjadi Wakil Presiden RI, Panglima ABRI, KSAD, dan Wakil KSAD. Khusus Letjen Bambang Trisnohadi, prestasinya sebagai peraih Adhi Makayasa 1993 menjadikannya sosok "intelektual militer" yang diperhitungkan.
Secara simbolik pernah diperlihatkan ketika dia dipercaya menjadi Komandan Upacara HUT ke 80 TNI, 5 Oktober 2025 lalu. Ia menjadi sosok yang paling diperhitungkan jika Presiden Prabowo akan memilih lulusan di bawah Jenderal Maruli Simanjuntak.
Namun, bisa saja sosok senior seperti Kepala BAIS TNI Letjen Yudi Abrimantyo layak diperhitungkan. Terutama jika Presiden Prabowo membutuhkan sosok dengan latar belakang intelijen. Hal ini pernah terjadi pada Jenderal Tyasno Sudarto, menjadi KSAD di awal masa reformasi setelah sebelumnya menjadi Kepala BAIS TNI.
Di "rumah sendiri" (Mabesad), Wakil KSAD Letjen Muhammad Saleh Mustafa (Akmil 1991) secara administratif berada di posisi terdepan. Apalagi sebelumnya ia pernah mengemban jabatan sebagai Inspektur Jenderal TNI di Mabes TNI selama satu tahun, dan Panglima Kostrad selama sekitar tujuh bulan.
Artinya sudah tiga jabatan bintang tiga yang diembannya dengan posisinya yang sekarang sebagai Wakil KSAD. Sehingga dia menjadi kandidat potensial bintang empat, untuk posisi KSAD atau pun Wakil Panglima TNI. Seperti Jenderal Tandyo Budi Revita, sebelum menjadi Wakil Panglima TNI Adalah Wakil KSAD.
Namun, jabatan operasional seperti Panglima Kostrad yang kini diisi Letjen Mohammad Fadjar (Akmil 1993) seringkali menjadi batu pijakan paling licin menuju jabatan KSAD. Apalagi sejak era reformasi, delapan KSAD berasal dari Panglima Kostrad (Ryamizard Ryacudu, George Toisutta, Pramono Edhie Wibowo, Gatot Nurmantyo, Mulyono, Andika Perkasa, Dudung Abdurachman, dan Maruli Simanjuntak).
Secara simbolik Letjen Mohamad Fadjar sudah diperlihatkan pada saat menjadi Komandan Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer pada 10 Agustus 2025 lalu di Pusdiklatpassus, Batujajar, Bandung Barat. Peluang Danpussenif Letjen Iwan Setiawan (Akmil 1992) juga patut diperhitungkan, karena memiliki kesejarahan khusus dengan Presiden Prabowo Subianto.
Secara simbolik pernah diperlihatkan ketika dia dipercaya menjadi Komandan Upacara HUT ke 80 TNI, 5 Oktober 2025 lalu. Ia menjadi sosok yang paling diperhitungkan jika Presiden Prabowo akan memilih lulusan di bawah Jenderal Maruli Simanjuntak.
Namun, bisa saja sosok senior seperti Kepala BAIS TNI Letjen Yudi Abrimantyo layak diperhitungkan. Terutama jika Presiden Prabowo membutuhkan sosok dengan latar belakang intelijen. Hal ini pernah terjadi pada Jenderal Tyasno Sudarto, menjadi KSAD di awal masa reformasi setelah sebelumnya menjadi Kepala BAIS TNI.
Klaster Mabesad: Penjaga Tradisi Organisasi
Di "rumah sendiri" (Mabesad), Wakil KSAD Letjen Muhammad Saleh Mustafa (Akmil 1991) secara administratif berada di posisi terdepan. Apalagi sebelumnya ia pernah mengemban jabatan sebagai Inspektur Jenderal TNI di Mabes TNI selama satu tahun, dan Panglima Kostrad selama sekitar tujuh bulan.
Artinya sudah tiga jabatan bintang tiga yang diembannya dengan posisinya yang sekarang sebagai Wakil KSAD. Sehingga dia menjadi kandidat potensial bintang empat, untuk posisi KSAD atau pun Wakil Panglima TNI. Seperti Jenderal Tandyo Budi Revita, sebelum menjadi Wakil Panglima TNI Adalah Wakil KSAD.
Namun, jabatan operasional seperti Panglima Kostrad yang kini diisi Letjen Mohammad Fadjar (Akmil 1993) seringkali menjadi batu pijakan paling licin menuju jabatan KSAD. Apalagi sejak era reformasi, delapan KSAD berasal dari Panglima Kostrad (Ryamizard Ryacudu, George Toisutta, Pramono Edhie Wibowo, Gatot Nurmantyo, Mulyono, Andika Perkasa, Dudung Abdurachman, dan Maruli Simanjuntak).
Secara simbolik Letjen Mohamad Fadjar sudah diperlihatkan pada saat menjadi Komandan Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer pada 10 Agustus 2025 lalu di Pusdiklatpassus, Batujajar, Bandung Barat. Peluang Danpussenif Letjen Iwan Setiawan (Akmil 1992) juga patut diperhitungkan, karena memiliki kesejarahan khusus dengan Presiden Prabowo Subianto.
Lihat Juga :