Jelang Ramadan, Sarifah Harap Kenaikan Harga Sembako Jangan Jadi Beban Rutin Masyarakat
Selasa, 27 Januari 2026 - 18:23 WIB
loading...
Anggota Komisi VI dari Fraksi Partai Golkar DPR Sarifah Suraidah menegaskan pola kenaikan harga sembako yang terjadi hampir setiap tahun menunjukkan adanya masalah struktural dalam tata niaga dan distribusi pangan nasional. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Kenaikan harga sembako yang terus berulang setiap memasuki bulan Ramadan kembali menjadi persoalan serius yang membebani masyarakat. Lonjakan harga komoditas pangan seperti cabai, bawang, minyak goreng, dan daging bukan hanya menekan daya beli warga, namun juga mencerminkan lemahnya pengendalian distribusi dan pengawasan pasar yang seharusnya dapat diantisipasi lebih awal oleh pemerintah.
Anggota Komisi VI dari Fraksi Partai Golkar DPR Sarifah Suraidah menegaskan pola kenaikan harga sembako yang terjadi hampir setiap tahun menunjukkan adanya masalah struktural dalam tata niaga dan distribusi pangan nasional. Setiap jelang bulan Ramadan, pemerintah harus bisa mengantisipasi lebih dini agar tidak terjadi kepanikan di masyarakat.
“Ramadan seharusnya menjadi bulan yang menenangkan bagi masyarakat, bukan justru menghadirkan kekhawatiran akibat harga kebutuhan pokok yang melonjak. Jika ini terus berulang setiap tahun, berarti ada yang belum beres dalam sistem pengendalian harga pangan kita,” kata Sarifah di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (27/1/2026).
Baca juga: Kasus Minyak Mentah, Ahok: Kan Terbukti Enggak Ada Oplosan, Blending Kan
Berdasarkan laporan di berbagai daerah, sejumlah komoditas pangan mengalami kenaikan signifikan di akhir Januari ini. Harga cabai rawit tercatat melonjak hingga dua kali lipat, dari sekitar Rp50.000 menjadi Rp100.000 per kilogram, sementara bawang merah naik dari Rp38.000 menjadi Rp44.000 per kilogram dan minyak goreng meningkat dari Rp15.000 menjadi Rp17.000 per liter.
Kondisi ini berdampak langsung pada rumah tangga, terutama masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Sarifah menilai bahwa kenaikan harga tersebut tidak bisa terus-menerus dibenarkan dengan alasan peningkatan permintaan musiman.
Menurutnya, pemerintah melalui kementerian perdagangan, bulog dan BUMN pangan harus lebih proaktif memastikan ketersediaan stok, kelancaran distribusi, serta pengawasan harga di tingkat pedagang. “Setiap tahun kita tahu Ramadan akan datang. Maka seharusnya antisipasi stok dan distribusi dilakukan jauh hari, bukan bersikap reaktif ketika harga sudah terlanjur melonjak,” tegasnya.
Wanita yang akrab disapa Bunda Harum ini menekankan bahwa negara harus hadir melindungi daya beli masyarakat, terutama di momen keagamaan yang seharusnya dijalani dengan tenang dan khusyuk. Ia meminta pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan di sektor perdagangan dan pangan untuk memperkuat operasi pasar, memperbaiki rantai pasok, serta menindak praktik spekulasi harga.
“Kenaikan harga sembako yang terus berulang setiap Ramadan tidak boleh dianggap sebagai hal yang wajar. Ini harus menjadi prioritas bersama agar kesejahteraan rakyat benar-benar dirasakan,” pungkas Srikandi Politik Golkar Dapil Kalimantan Timur ini.
Anggota Komisi VI dari Fraksi Partai Golkar DPR Sarifah Suraidah menegaskan pola kenaikan harga sembako yang terjadi hampir setiap tahun menunjukkan adanya masalah struktural dalam tata niaga dan distribusi pangan nasional. Setiap jelang bulan Ramadan, pemerintah harus bisa mengantisipasi lebih dini agar tidak terjadi kepanikan di masyarakat.
“Ramadan seharusnya menjadi bulan yang menenangkan bagi masyarakat, bukan justru menghadirkan kekhawatiran akibat harga kebutuhan pokok yang melonjak. Jika ini terus berulang setiap tahun, berarti ada yang belum beres dalam sistem pengendalian harga pangan kita,” kata Sarifah di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (27/1/2026).
Baca juga: Kasus Minyak Mentah, Ahok: Kan Terbukti Enggak Ada Oplosan, Blending Kan
Berdasarkan laporan di berbagai daerah, sejumlah komoditas pangan mengalami kenaikan signifikan di akhir Januari ini. Harga cabai rawit tercatat melonjak hingga dua kali lipat, dari sekitar Rp50.000 menjadi Rp100.000 per kilogram, sementara bawang merah naik dari Rp38.000 menjadi Rp44.000 per kilogram dan minyak goreng meningkat dari Rp15.000 menjadi Rp17.000 per liter.
Kondisi ini berdampak langsung pada rumah tangga, terutama masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Sarifah menilai bahwa kenaikan harga tersebut tidak bisa terus-menerus dibenarkan dengan alasan peningkatan permintaan musiman.
Menurutnya, pemerintah melalui kementerian perdagangan, bulog dan BUMN pangan harus lebih proaktif memastikan ketersediaan stok, kelancaran distribusi, serta pengawasan harga di tingkat pedagang. “Setiap tahun kita tahu Ramadan akan datang. Maka seharusnya antisipasi stok dan distribusi dilakukan jauh hari, bukan bersikap reaktif ketika harga sudah terlanjur melonjak,” tegasnya.
Wanita yang akrab disapa Bunda Harum ini menekankan bahwa negara harus hadir melindungi daya beli masyarakat, terutama di momen keagamaan yang seharusnya dijalani dengan tenang dan khusyuk. Ia meminta pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan di sektor perdagangan dan pangan untuk memperkuat operasi pasar, memperbaiki rantai pasok, serta menindak praktik spekulasi harga.
“Kenaikan harga sembako yang terus berulang setiap Ramadan tidak boleh dianggap sebagai hal yang wajar. Ini harus menjadi prioritas bersama agar kesejahteraan rakyat benar-benar dirasakan,” pungkas Srikandi Politik Golkar Dapil Kalimantan Timur ini.
(rca)
Lihat Juga :