Ambruknya Rupiah dan Lonceng Chaos

Kamis, 22 Januari 2026 - 18:18 WIB
loading...
Ambruknya Rupiah dan...
Salim Ketua Dewan Pakar KPPMPI dan Kandidat Doctor Universitas Airlangga. Foto/istimewa
A A A
Salim
Ketua Dewan Pakar KPPMPI dan Kandidat Doctor Universitas Airlangga

MENGHADAPI era globalisasi yang semakin kompleks, Indonesia berada di persimpangan jalan yang berbahaya. Ambruknya nilai tukar Rupiah tidak hanya menjadi isu ekonomi, tetapi juga mencerminkan ketidakadilan sosial yang mendalam.

Ketegangan internasional, yang dipicu penguasaan dan perebutan sumber daya alam, menambah ketidakpastian di panggung dunia. Dalam uncertainity condition, Indonesia sebagai negara dengan hampir 60,3 % penduduknya atau sekitar 171 juta orang yang jatuh ke dalam kemiskinan menurut data terakhir World Bank, kita akan menghadapi tantangan yang sangat nyata.

Sejatinya, bangsa Indonesia adalah warisan dari leluhur yang mendiami negeri yang penuh rahmat dan keberkahan. Keindahan alam, keragaman budaya, dan kekayaan sumber daya adalah hadiah yang seharusnya disyukuri, dilestarikan dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan seluruh rakyat.

Namun, karakter pemimpin yang lebih mementingkan kepentingan kelompok dan keluarganya, layaknya dinasti, telah mengakibatkan keruntuhan nilai-nilai luhur yang selama ini dijunjung tinggi. Pemimpin yang seharusnya menjadi teladan justru terjebak dalam permainan kekuasaan dan ambisi pribadi, mengabaikan tanggung jawabnya kepada masyarakat.

Ketika Allah menarik kembali rahmat-Nya, bangsa yang dulunya unggulan pun mengalami penurunan. Keterpurukan ini membuka pintu bagi berbagai kerusakan moral: ketidakjujuran, korupsi, dan pengabaian terhadap tanggung jawab sosial. Rentetan peristiwa ini menjadikan mata uang, yang merupakan simbol kekuatan ekonomi, terpuruk. Dalam kondisi yang semakin tidak menentu, rakyat kecil menjadi korban dari kebijakan yang tidak berpihak, terjebak dalam siklus kemiskinan dan ketidakadilan. Di sinilah kita menyaksikan konsekuensi dari kepemimpinan yang lemah kerusakan moral dan turunnya nilai mata uang yang berdampak luas dan mengancam stabilitas bangsa.

Para ekonom sering kali memperingatkan bahwa penurunan nilai mata uang yang berkelanjutan dapat berujung pada ketidakstabilan sosial. Teori ekonomi menunjukkan bahwa ketika daya beli masyarakat mengecil, protes dan kerusuhan sosial bukanlah hal yang tidak mungkin terjadi. Faktor global dan domestik yang saling berinteraksi menciptakan krisis multidimensional yang dapat menyulut gejolak.

Melihat situasi ini, penting bagi kita untuk memahami lebih dalam tentang dampak ambruknya rupiah dan implikasinya terhadap kehidupan sehari-hari. Coretan ini akan sedikit menggali hubungan antara dinamika global dan kondisi ekonomi domestik, serta bagaimana kedua elemen ini berpotensi membawa Indonesia ke ambang chaos. Mari bersama-sama kita telaah fenomena ini yang tidak hanya berdampak pada perekonomian, tetapi juga pada stabilitas sosial dan masa depan bangsa.

Dalam dunia yang semakin terhubung, dinamika global memiliki dampak yang mendalam dan sering kali tidak terduga terhadap keadaan ekonomi domestik suatu negara. Indonesia, sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam tetapi masih dicengkeram oleh berbagai masalah sosial, kini berada di ambang krisis ketika nilai tukar rupiah terus merosot. Penurunan ini tidak hanya menandai keruntuhan ekonomi, tetapi juga mencerminkan berbagai lapisan permasalahan kemanusiaan yang lebih kompleks.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kemenag-BI Dorong Rohis...
Kemenag-BI Dorong Rohis Jadi Penggerak Literasi Syariah di Ruang Digital
Prabowo: Selat Hormuz...
Prabowo: Selat Hormuz Ditutup, Kita Percaya Diri Mampu Mengatasi
Stabilitas Harga Rupiah...
Stabilitas Harga Rupiah Pasca BI Rate Naik (Lagi)
Sikapi Gejolak Ekonomi,...
Sikapi Gejolak Ekonomi, Partai Perindo Sodorkan Risalah Kebijakan untuk BI dan Pemerintah
Prabowo dan Jusuf Kalla...
Prabowo dan Jusuf Kalla Bahas Isu Global hingga Swasembada Energi
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
Ekonom Bank Mandiri...
Ekonom Bank Mandiri Ungkap Kunci Penguatan Rupiah dan Rebound IHSG, Fundamental Ekonomi Solid
Bea Cukai Soetta Gagalkan...
Bea Cukai Soetta Gagalkan Masuknya Uang Asing Senilai Rp6,3 Miliar Tanpa Izin
Rupiah Jeblok Lagi,...
Rupiah Jeblok Lagi, Dolar AS Makin Dekati Level Rp18.000
Rekomendasi
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
Kinerja Solid, Laba...
Kinerja Solid, Laba Bersih MSIN Melonjak 140% Jadi Rp985 Miliar di 2025
BPDP Dukung Jakarta...
BPDP Dukung Jakarta Fiscal Forum 2026, Perkuat Kolaborasi untuk Pembangunan Berkelanjutan
Berita Terkini
Pengadilan Negeri Jakarta...
Pengadilan Negeri Jakarta Timur Larang Siaran Langsung Sidang Dokter Tifa terkait Ijazah Jokowi
Mensesneg Jelaskan Maksud...
Mensesneg Jelaskan Maksud Prabowo terkait 4 Kali Kalah Pemilu Tak Ganggu Pemegang Mandat
Salam Prabowo Disampaikan...
Salam Prabowo Disampaikan Jumhur, Raja Charles Beri Pujian untuk Indonesia
Prabowo Singgung Pihak...
Prabowo Singgung Pihak Bikin Gaduh usai Pemilu: Kapan Kita Mau Menuju Kesejahteraan untuk Rakyat?
Ajukan Kasasi, Kuasa...
Ajukan Kasasi, Kuasa Hukum Harap MA Vonis Bebas Kerry Anak Riza Chalid
Jokowi Pede PSI Masuk...
Jokowi Pede PSI Masuk Parlemen Senayan di Pemilu 2029
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved