FAO Ungkap 43,5% Penduduk Indonesia Tak Mampu Beli Makanan Bergizi, Negara Intervensi lewat MBG
Sabtu, 10 Januari 2026 - 16:39 WIB
loading...
A
A
A
Dari kisah itu terlihat bahwa negara perlu hadir untuk urusan pemenuhan gizi masyarakat. Program MBG ini sangat krusial bagi masyarakat di daerah terpencil, mengingat banyak dari mereka yang jarang mendapatkan akses terhadap sumber protein seperti telur, ayam, daging, maupun ikan laut. Ini adalah masalah serius yang masih menjadi bagian dari bangsa kita.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), keluarga miskin atau pra sejahtera sejumlah 8,47% (BPS, Maret 2025). Dengan begitu perkiraan jumlah ibu hamil, ibu menyusui, bayi (0-11 bulan), baduta (12-23 bulan) mencapai 2,16 juta jiwa. Sedangkan siswa SD-SMA dari keluarga prasejahtera mencapai 3,33 juta.
Dengan hadirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tepat untuk membuka akses pangan bergizi bagi jutaan keluarga pra sejahtera di Indonesia dari Sabang-Merauke. Selain itu dari sudut pandang ahli kesehatan, pemberian asupan pada masa kandungan hingga anak usia 3 tahun sangat krusial bagi optimalisasi otak.
Dokter Spesialis Anak sekaligus Konsultan Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, SpA (K), MSi menekankan bahwa program asupan bernutrisi seperti MBG harus diberikan setiap hari. “Sejak di dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun (1000 hari pertama kehidupan), struktur makro dan mikro otak sedang dibentuk secara masif,” ujarnya.
“Proses ini menuntut asupan nutrisi lengkap tanpa jeda. Jika MBG tidak konsisten diberikan setiap hari, maka pertumbuhan struktur otak janin dan bayi berisiko tidak optimal. Kualitas nutrisi pada periode emas inilah yang kelak menentukan kualitas kesehatan dan produktivitas manusia saat dewasa,” sambungnya.
Kendati demikian, Prof. Soedjatmiko menggarisbawahi bahwa pemberian MBG untuk ibu hamil, menyusui, bayi, dan balita jauh lebih rumit dibandingkan kelompok usia sekolah.
“Bagaimana memastikan ibu hamil di pelosok mendapatkan asupan setiap hari jika tidak bisa ke Puskesmas? Sistem pengantaran ke rumah menjadi kunci, namun memerlukan manajemen pengantaran yang jelas,” sarannya.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), keluarga miskin atau pra sejahtera sejumlah 8,47% (BPS, Maret 2025). Dengan begitu perkiraan jumlah ibu hamil, ibu menyusui, bayi (0-11 bulan), baduta (12-23 bulan) mencapai 2,16 juta jiwa. Sedangkan siswa SD-SMA dari keluarga prasejahtera mencapai 3,33 juta.
Dengan hadirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tepat untuk membuka akses pangan bergizi bagi jutaan keluarga pra sejahtera di Indonesia dari Sabang-Merauke. Selain itu dari sudut pandang ahli kesehatan, pemberian asupan pada masa kandungan hingga anak usia 3 tahun sangat krusial bagi optimalisasi otak.
Dokter Spesialis Anak sekaligus Konsultan Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, SpA (K), MSi menekankan bahwa program asupan bernutrisi seperti MBG harus diberikan setiap hari. “Sejak di dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun (1000 hari pertama kehidupan), struktur makro dan mikro otak sedang dibentuk secara masif,” ujarnya.
“Proses ini menuntut asupan nutrisi lengkap tanpa jeda. Jika MBG tidak konsisten diberikan setiap hari, maka pertumbuhan struktur otak janin dan bayi berisiko tidak optimal. Kualitas nutrisi pada periode emas inilah yang kelak menentukan kualitas kesehatan dan produktivitas manusia saat dewasa,” sambungnya.
Kendati demikian, Prof. Soedjatmiko menggarisbawahi bahwa pemberian MBG untuk ibu hamil, menyusui, bayi, dan balita jauh lebih rumit dibandingkan kelompok usia sekolah.
“Bagaimana memastikan ibu hamil di pelosok mendapatkan asupan setiap hari jika tidak bisa ke Puskesmas? Sistem pengantaran ke rumah menjadi kunci, namun memerlukan manajemen pengantaran yang jelas,” sarannya.
Lihat Juga :