Pasokan BBM Jadi Kunci Pemulihan Layanan Vital Pascabencana di Aceh
Selasa, 23 Desember 2025 - 18:32 WIB
loading...
Kelancaran penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) darurat untuk menopang operasional genset pada instalasi darurat di wilayah terdampak bencana Aceh sangatlah penting. Foto: Dok Sindonews
A
A
A
JAKARTA - Kelancaran penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) darurat untuk menopang operasional genset pada instalasi darurat di wilayah terdampak bencana Aceh sangatlah penting. Pasokan BBM untuk genset menjadi kunci agar layanan vital tetap berjalan selama proses pemulihan pascabencana.
Anggota Komisi VI DPR Rieke Diah Pitaloka mengatakan, kerusakan infrastruktur dan keterbatasan akses membuat penyaluran BBM, khususnya untuk kebutuhan operasional genset menghadapi tantangan serius. Dalam situasi tersebut, genset darurat menjadi penopang utama operasional berbagai instalasi darurat di wilayah terdampak.
“Ini instalasi darurat, khususnya untuk layanan kesehatan. Salah satu prioritas penting yang tidak boleh terhenti,” ujar Rieke, Selasa (23/12/2025).
Baca juga: Pertamina Sediakan Telepon Khusus bagi Instansi untuk Kebutuhan BBM Penanganan Bencana di Sumatera
Keberlangsungan operasional instalasi darurat sepenuhnya bergantung pada pasokan BBM yang stabil dan berkelanjutan untuk genset. Tanpa kepastian distribusi, layanan vital berisiko terhenti di tengah kondisi darurat.
Menurut dia, kebutuhan BBM untuk genset darurat tersebar di sejumlah wilayah Aceh meliputi Banda Aceh, Sigli, Lhokseumawe, Langsa, Meulaboh, dan Subulussalam. Seluruh titik tersebut membutuhkan penyaluran BBM yang terukur dan berkesinambungan selama pemulihan pascabencana masih berlangsung.
Rieke mendorong Pertamina Patra Niaga memastikan penyaluran BBM bagi kebutuhan genset darurat di Aceh berjalan lancar dan tidak terhambat. Sudah saatnya semua pihak bergandengan tangan agar instalasi darurat tetap menyala dan masyarakat terlindungi.
Di lapangan, kondisi darurat distribusi BBM juga dirasakan masyarakat di Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh. Pascabencana banjir dan tanah longsor, sejumlah akses jalan utama terputus sehingga pasokan BBM mengalami kelangkaan, terutama di wilayah pedalaman yang hingga kini masih sulit dijangkau.
Pantauan di lapangan menunjukkan, sejak beberapa hari terakhir warga terpaksa mengantre panjang di SPBU dan kios pengecer BBM. Bahkan, sebagian masyarakat terpaksa membeli BBM dengan harga jauh di atas normal mencapai Rp20 ribu per liter akibat distribusi yang terhambat kerusakan jalan dan jembatan yang belum sepenuhnya pulih.
Tokoh pemuda Gayo Lues Kamsah Galus menilai kelangkaan BBM di tengah situasi darurat bencana menjadi persoalan krusial yang perlu segera ditangani. BBM bukan sekadar kebutuhan kendaraan, tetapi penopang utama roda ekonomi dan layanan kemanusiaan.
“BBM ini urat nadi kehidupan. Saat bencana justru kebutuhan meningkat untuk evakuasi, logistik, hingga aktivitas ekonomi warga. Kalau BBM langka, semuanya macet,” ujar Kamsah.
Dia menyoroti distribusi pasokan BBM ke Gayo Lues yang dinilai belum sebanding dengan kondisi darurat yang dihadapi masyarakat. Dia meminta Pertamina segera mengambil langkah ekstra seperti penambahan kuota dan pengiriman khusus ke daerah terdampak.
Selain itu, Kamsah juga mengingatkan agar pengawasan diperketat untuk mencegah penimbunan dan permainan harga di tingkat pengecer. Dia menilai praktik tersebut justru memperparah penderitaan masyarakat.
Anggota Komisi VI DPR Rieke Diah Pitaloka mengatakan, kerusakan infrastruktur dan keterbatasan akses membuat penyaluran BBM, khususnya untuk kebutuhan operasional genset menghadapi tantangan serius. Dalam situasi tersebut, genset darurat menjadi penopang utama operasional berbagai instalasi darurat di wilayah terdampak.
“Ini instalasi darurat, khususnya untuk layanan kesehatan. Salah satu prioritas penting yang tidak boleh terhenti,” ujar Rieke, Selasa (23/12/2025).
Baca juga: Pertamina Sediakan Telepon Khusus bagi Instansi untuk Kebutuhan BBM Penanganan Bencana di Sumatera
Keberlangsungan operasional instalasi darurat sepenuhnya bergantung pada pasokan BBM yang stabil dan berkelanjutan untuk genset. Tanpa kepastian distribusi, layanan vital berisiko terhenti di tengah kondisi darurat.
Menurut dia, kebutuhan BBM untuk genset darurat tersebar di sejumlah wilayah Aceh meliputi Banda Aceh, Sigli, Lhokseumawe, Langsa, Meulaboh, dan Subulussalam. Seluruh titik tersebut membutuhkan penyaluran BBM yang terukur dan berkesinambungan selama pemulihan pascabencana masih berlangsung.
Rieke mendorong Pertamina Patra Niaga memastikan penyaluran BBM bagi kebutuhan genset darurat di Aceh berjalan lancar dan tidak terhambat. Sudah saatnya semua pihak bergandengan tangan agar instalasi darurat tetap menyala dan masyarakat terlindungi.
Di lapangan, kondisi darurat distribusi BBM juga dirasakan masyarakat di Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh. Pascabencana banjir dan tanah longsor, sejumlah akses jalan utama terputus sehingga pasokan BBM mengalami kelangkaan, terutama di wilayah pedalaman yang hingga kini masih sulit dijangkau.
Pantauan di lapangan menunjukkan, sejak beberapa hari terakhir warga terpaksa mengantre panjang di SPBU dan kios pengecer BBM. Bahkan, sebagian masyarakat terpaksa membeli BBM dengan harga jauh di atas normal mencapai Rp20 ribu per liter akibat distribusi yang terhambat kerusakan jalan dan jembatan yang belum sepenuhnya pulih.
Tokoh pemuda Gayo Lues Kamsah Galus menilai kelangkaan BBM di tengah situasi darurat bencana menjadi persoalan krusial yang perlu segera ditangani. BBM bukan sekadar kebutuhan kendaraan, tetapi penopang utama roda ekonomi dan layanan kemanusiaan.
“BBM ini urat nadi kehidupan. Saat bencana justru kebutuhan meningkat untuk evakuasi, logistik, hingga aktivitas ekonomi warga. Kalau BBM langka, semuanya macet,” ujar Kamsah.
Dia menyoroti distribusi pasokan BBM ke Gayo Lues yang dinilai belum sebanding dengan kondisi darurat yang dihadapi masyarakat. Dia meminta Pertamina segera mengambil langkah ekstra seperti penambahan kuota dan pengiriman khusus ke daerah terdampak.
Selain itu, Kamsah juga mengingatkan agar pengawasan diperketat untuk mencegah penimbunan dan permainan harga di tingkat pengecer. Dia menilai praktik tersebut justru memperparah penderitaan masyarakat.
(jon)
Lihat Juga :