Alissa Wahid: Generasi Ideal Rahmat bagi Semua dan Berakhlak Mulia
Kamis, 18 Desember 2025 - 18:11 WIB
loading...
Direktur Nasional GusDurian Network Indonesia (GNI), Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid menjelaskan generasi ideal yang menjadi rahmat bagi semua dan berakhlak mulia. Foto/Dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Direktur Nasional GusDurian Network Indonesia (GNI), Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid menjelaskan pentingnya memahami generasi ideal yang menjadi rahmat bagi semua (bermanfaat bagi orang lain) dan berakhlak mulia. Dia mengimbau agar jangan terjebak dengan dikotomi barat dan non barat.
“Generasi yang ideal itu adalah mereka yang berorientasi pada kemanfaatan dirinya bagi orang lain, sebagai bentuk dari pengamalan wamaa arsalnaka illa rahmatan lil’alamin (Surah Al-Anbiya' - 107). Kalau ada nilai-nilai 'barat' yang selaras dengan nilai-nilai Indonesia, misalnya berkolaborasi yang punya persamaan dengan gotong royong itu harus kita terima. Kenapa? Karena itu juga bagian dari universalitas nilai-nilai Islam yang kuat di Indonesia,” kata Alissa Wahid, dikutip Kamis (18/12/2025).
Baca juga: Menag Angkat Tim Penasihat, Ada Alissa Wahid hingga Burhanuddin Muhtadi
Menurutnya, rakyat Indonesia kuat dalam bergotong royong, tapi tidak berarti orang-orang di luar Indonesia tidak bisa bergotong royong. Ada juga masyarakat di berbagai negara lain itu yang juga meninggikan gotong royong sebagai nilai kebaikan.
Sebaliknya, nilai atau paradigma yang walaupun datang dari masyarakat Timur, namun tidak sesuai dan tidak selaras dengan nilai kebaikan dan ke-Indonesia-an, maka harus ditinggalkan.
Oleh karena itu, Alissa Wahid menekankan kepada orang tua dan generasi muda agar jangan terjebak dengan dikotomi barat dan non barat. “Ini datang dari Timur atau dari Barat” sebutnya.
Pemikiran yang dikotomis semacam ini seringkali menjadi jalan masuk pemahaman intoleran dan radikal yang jika berhasil ditanamkan pada anak-anak dan remaja, maka akan sangat sulit untuk dihilangkan.
Baca juga: Semangat Kartini Tetap Relevan dengan Tafsir Kebangsaan dan Keagamaan Modern
“Sebagai bagian dari upaya untuk mengamankan para Gen Z dan generasi Alpha, kita harus mewaspadai dan menyadari adanya narasi intoleran semacam ini mungkin saja mempengaruhi anak-anak kita,” ungkap Alissa Wahid.
Dia memaparkan bahwa anak-anak dapat diibaratkan seperti kertas yang putih. Orang tua dan guru sebagai sosok pembimbing serta pendidik harus bisa menorehkan pengaruh positif mereka lebih dulu sebelum mereka menemui pengaruh negatif dari kelompok radikal.
Apa yang menjadi jati diri anak kelak ketika mereka dewasa, adalah buah dari pendidikan dan bimbingan orang-orang terdekat mereka.
“Kita mau 'kertas putihnya' anak-anak kita ini diisi dengan dengan nilai-nilai dasar yang toleran, cinta perdamaian, dan berakhlak mulia. Harapannya, nilai-nilai positif semacam ini membuat anak memasukkan segala perkara kehidupan yang ia temukan, ke dalam nilai-nilai dasar yang positif dan telah terpupuk sejak lama,” tambahnya.
Alissa Wahid mengurai ajaran budi pekerti yang diajarkan oleh para kiai di Nahdlatul Ulama (NU) bahwa untuk menunjukkan Islam yang rahmatan lil alamin, maka dia harus menjaga tiga ukhuwah (persaudaraan).
Ketiganya yakni ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama warga sebangsa), dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia).
“Ukhuwah wathaniyah ini, mungkin tidak melihat latar belakang agama ataupun suku, golongan, itu tidak dilihat. Pokoknya, selama dia warga Indonesia, dia juga harus dihargai hak-haknya. Hal yang juga penting adalah kemampuan kita menerapkan ketiga ukhuwah ini. Jika memang memiliki tiga ukhuwah ini, maka seharusnya tidak setuju kalau diajak menyakiti umat yang lain, karena berarti si pelaku tidak mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin,” tegasnya.
Alissa Wahid berharap agar prinsip dan keyakinan yang berorientasi pada rahmatan lil ‘alamin dan menjunjung tinggi akhlak yang mulia bisa ditanamkan kepada generasi muda, sehingga dengan sendirinya semua hal yang beririsan dengan ideologi kekerasan akan tertolak. Ia pun berharap, dengan demikian, anak punya kesadaran untuk mengingat nasihat-nasihat yang baik dari orang tua mereka.
“Bahkan, dalam Al-Qur'an saja berperang itu hanya dibolehkan untuk mempertahankan diri. Dalam berperang, ada kelompok-kelompok yang tidak boleh sama sekali kita perangi. Kita ketahui, misalnya, lansia, rumah ibadah, anak-anak, perempuan, dan lain-lain, misalnya. Itu adalah salah satu implementasi aturan rahmat yang harus dipahami oleh generasi yang ideal,” pungkas Alissa Wahid.
“Generasi yang ideal itu adalah mereka yang berorientasi pada kemanfaatan dirinya bagi orang lain, sebagai bentuk dari pengamalan wamaa arsalnaka illa rahmatan lil’alamin (Surah Al-Anbiya' - 107). Kalau ada nilai-nilai 'barat' yang selaras dengan nilai-nilai Indonesia, misalnya berkolaborasi yang punya persamaan dengan gotong royong itu harus kita terima. Kenapa? Karena itu juga bagian dari universalitas nilai-nilai Islam yang kuat di Indonesia,” kata Alissa Wahid, dikutip Kamis (18/12/2025).
Baca juga: Menag Angkat Tim Penasihat, Ada Alissa Wahid hingga Burhanuddin Muhtadi
Menurutnya, rakyat Indonesia kuat dalam bergotong royong, tapi tidak berarti orang-orang di luar Indonesia tidak bisa bergotong royong. Ada juga masyarakat di berbagai negara lain itu yang juga meninggikan gotong royong sebagai nilai kebaikan.
Sebaliknya, nilai atau paradigma yang walaupun datang dari masyarakat Timur, namun tidak sesuai dan tidak selaras dengan nilai kebaikan dan ke-Indonesia-an, maka harus ditinggalkan.
Oleh karena itu, Alissa Wahid menekankan kepada orang tua dan generasi muda agar jangan terjebak dengan dikotomi barat dan non barat. “Ini datang dari Timur atau dari Barat” sebutnya.
Pemikiran yang dikotomis semacam ini seringkali menjadi jalan masuk pemahaman intoleran dan radikal yang jika berhasil ditanamkan pada anak-anak dan remaja, maka akan sangat sulit untuk dihilangkan.
Baca juga: Semangat Kartini Tetap Relevan dengan Tafsir Kebangsaan dan Keagamaan Modern
“Sebagai bagian dari upaya untuk mengamankan para Gen Z dan generasi Alpha, kita harus mewaspadai dan menyadari adanya narasi intoleran semacam ini mungkin saja mempengaruhi anak-anak kita,” ungkap Alissa Wahid.
Dia memaparkan bahwa anak-anak dapat diibaratkan seperti kertas yang putih. Orang tua dan guru sebagai sosok pembimbing serta pendidik harus bisa menorehkan pengaruh positif mereka lebih dulu sebelum mereka menemui pengaruh negatif dari kelompok radikal.
Apa yang menjadi jati diri anak kelak ketika mereka dewasa, adalah buah dari pendidikan dan bimbingan orang-orang terdekat mereka.
“Kita mau 'kertas putihnya' anak-anak kita ini diisi dengan dengan nilai-nilai dasar yang toleran, cinta perdamaian, dan berakhlak mulia. Harapannya, nilai-nilai positif semacam ini membuat anak memasukkan segala perkara kehidupan yang ia temukan, ke dalam nilai-nilai dasar yang positif dan telah terpupuk sejak lama,” tambahnya.
Alissa Wahid mengurai ajaran budi pekerti yang diajarkan oleh para kiai di Nahdlatul Ulama (NU) bahwa untuk menunjukkan Islam yang rahmatan lil alamin, maka dia harus menjaga tiga ukhuwah (persaudaraan).
Ketiganya yakni ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama warga sebangsa), dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia).
“Ukhuwah wathaniyah ini, mungkin tidak melihat latar belakang agama ataupun suku, golongan, itu tidak dilihat. Pokoknya, selama dia warga Indonesia, dia juga harus dihargai hak-haknya. Hal yang juga penting adalah kemampuan kita menerapkan ketiga ukhuwah ini. Jika memang memiliki tiga ukhuwah ini, maka seharusnya tidak setuju kalau diajak menyakiti umat yang lain, karena berarti si pelaku tidak mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin,” tegasnya.
Alissa Wahid berharap agar prinsip dan keyakinan yang berorientasi pada rahmatan lil ‘alamin dan menjunjung tinggi akhlak yang mulia bisa ditanamkan kepada generasi muda, sehingga dengan sendirinya semua hal yang beririsan dengan ideologi kekerasan akan tertolak. Ia pun berharap, dengan demikian, anak punya kesadaran untuk mengingat nasihat-nasihat yang baik dari orang tua mereka.
“Bahkan, dalam Al-Qur'an saja berperang itu hanya dibolehkan untuk mempertahankan diri. Dalam berperang, ada kelompok-kelompok yang tidak boleh sama sekali kita perangi. Kita ketahui, misalnya, lansia, rumah ibadah, anak-anak, perempuan, dan lain-lain, misalnya. Itu adalah salah satu implementasi aturan rahmat yang harus dipahami oleh generasi yang ideal,” pungkas Alissa Wahid.
(shf)
Lihat Juga :