Kemenhub Gandeng Kemlu dan Tripatra Tekan Pencemaran Udara
Kamis, 18 Desember 2025 - 09:48 WIB
loading...
A
A
A
President Director & CEO Tripatra Raymond Rasfuldi mengatakan, limbah cair industri kelapa sawit yang selama ini berpotensi menghasilkan emisi metana juga dapat dikonversi menjadi bahan bakar penerbangan berkelanjutan SAF dengan emisi lebih rendah, seperti telah diakui oleh ICAO.
"Pendekatan ini menggambarkan penerapan ekonomi sirkular dimana limbah industri diolah menjadi produk energi bernilai tinggi yang memberi manfaat ekonomi sekaligus menekan dampak lingkungan," kata Raymond, Kamis (18/12/2025).
Melalui keterlibatan dalam studi internasional dalam pengembangan POME di Indonesia, dia menegaskan komitmen dan posisinya sebagai katalis kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem SAF dan mendukung visi Indonesia menuju transisi energi yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Diketahui, dalam beberapa tahun terakhir, industri penerbangan global menghadapi tekanan besar untuk menurunkan emisi karbon dioksida. Terlebih lagi menurut data dari International Air Transport Association (IATA), industri penerbangan bertanggung jawab atas sekitar 3% dari total emisi karbon dioksida global.
Emisi ini berasal dari pembakaran bahan bakar fosil oleh pesawat terbang, yang menghasilkan emisi gas rumah kaca. Sebagai upaya untuk sektor aviasi dan transisi energi berkelanjutan dunia, ICAO melalui skema Corsia menginisiasi langkah konkret untuk mencapai net-zero carbon emissions pada 2050. Salah satunya dengan mendorong penggunaan SAF bagi penerbangan internasional.
Hal ini penting, mengingat SAF bisa menjadi solusi utama untuk mendekarbonisasi penerbangan karena dapat digunakan langsung (drop-in fuel) tanpa perlu modifikasi mesin pesawat maupun infrastruktur bandara. Selain itu, SAF juga dapat diproduksi dari berbagai bahan baku terbarukan, salah satunya dari POME.
"Pendekatan ini menggambarkan penerapan ekonomi sirkular dimana limbah industri diolah menjadi produk energi bernilai tinggi yang memberi manfaat ekonomi sekaligus menekan dampak lingkungan," kata Raymond, Kamis (18/12/2025).
Melalui keterlibatan dalam studi internasional dalam pengembangan POME di Indonesia, dia menegaskan komitmen dan posisinya sebagai katalis kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem SAF dan mendukung visi Indonesia menuju transisi energi yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Diketahui, dalam beberapa tahun terakhir, industri penerbangan global menghadapi tekanan besar untuk menurunkan emisi karbon dioksida. Terlebih lagi menurut data dari International Air Transport Association (IATA), industri penerbangan bertanggung jawab atas sekitar 3% dari total emisi karbon dioksida global.
Emisi ini berasal dari pembakaran bahan bakar fosil oleh pesawat terbang, yang menghasilkan emisi gas rumah kaca. Sebagai upaya untuk sektor aviasi dan transisi energi berkelanjutan dunia, ICAO melalui skema Corsia menginisiasi langkah konkret untuk mencapai net-zero carbon emissions pada 2050. Salah satunya dengan mendorong penggunaan SAF bagi penerbangan internasional.
Hal ini penting, mengingat SAF bisa menjadi solusi utama untuk mendekarbonisasi penerbangan karena dapat digunakan langsung (drop-in fuel) tanpa perlu modifikasi mesin pesawat maupun infrastruktur bandara. Selain itu, SAF juga dapat diproduksi dari berbagai bahan baku terbarukan, salah satunya dari POME.
(cip)
Lihat Juga :