Suara dari Lumpur: Keserakahan dan Kezaliman Manusia

Sabtu, 13 Desember 2025 - 20:41 WIB
loading...
Suara dari Lumpur: Keserakahan...
Salim, Ketua Dewan Pakar KPPMPI dan Kandidat Doktor Universitas Airlangga. Foto/istimewa
A A A
Salim
Ketua Dewan Pakar KPPMPI dan Kandidat Doktor Universitas Airlangga

"TELAH nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." — (QS. Ar-Rum: 41)

Dalam setiap embusan angin yang bersih di pagi hari, mengapa kita mendengar bisikan kesedihan? Di tengah keindahan alam Indonesia yang memikat, seharusnya kita merayakan keberkahan. Namun, saat ini, suara-suara merintih terkubur dalam deru mesin dan kabut asap yang menggenggam langit.

Pulau Sumatera, yang seharusnya menjadi simbol kekayaan alam kita, kini terpuruk dalam bencana ekologis yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia yang rakus dan tidak bertanggung jawab. Hutan-hutan lebat yang dulunya memeluk bumi kini telah hancur, ditinggalkan sebagai onggokan kayu seperti bangkai mati yang tak bernyawa dan mengalir dengan arus deras beserta lumpur menggerus dan menerjang kehidupan masyarakat dalam keheningan.

Mari kita lihat lebih jauh. Ketika pembalakan liar mengambil alih hutan kita, apa yang terjadi pada ekosistem? Sungai-sungai yang dulunya jernih kini terkotori oleh limbah, dan tanah yang subur kehilangan kemampuannya untuk menyimpan air. Banjir bandang dan tanah longsor menjadi sahabat baru masyarakat mereka datang dengan mengerikan dan merenggut nyawa serta harapan. Kemanakah kita bersembunyi dari kenyataan pahit ini? Di manakah rasa empati pemimpin yang seharusnya mengarahkan kita menuju solusi, bukannya masalah?

Marilah kita merenung sejenak: hutan ini bukan hanya sekadar kumpulan pohon. Ia adalah “perpustakaan kehidupan” yang menyimpan kekayaan alam, pengetahuan, dan warisan budaya. Setiap daun, setiap akar, adalah bagian dari jaring kehidupan yang saling berkaitan. Namun, keserakahan kita telah mengubahnya menjadi lahan gundul yang tak berdaya. Kita tidak hanya kehilangan hutan; kita juga kehilangan esensi dari kehidupan itu sendiri.

Suara-suara alam yang tenang kini berganti dengan raungan mesin dan tangis hampa masyarakat yang kehilangan tempat berlindung. Masyarakat hanya diganti dengan sereceh rupiah, yang menyebabkan malas untuk berontak. Namun sang begundal melenggang bagaiakan raja kelana yang bahkan lupa kalau dia punya lahan yang di eksploitasi.

Dalam konteks ini, mari kita merenungkan kata-kata bijak dari filsuf Immanuel Kant. Dia mengajukan pemikiran mendalam tentang moralitas dan etika, menekankan pentingnya tanggung jawab terhadap lingkungan. Ketika seorang pemimpin mengabaikan hukum dan etika demi keuntungan pribadi, dia telah melanggar prinsip-prinsip moral dasar. Kerusakan hutan bukan hanya tragedi ekologis; ini adalah kegagalan moral dan intelektual manusia. Dalam mengejar keuntungan jangka pendek, kita sering kali mengorbankan masa depan yang lebih baik.

Kita sering terjebak dalam lingkaran keserakahan, di mana setiap tindakan dibenarkan demi keuntungan pribadi, tanpa memikirkan dampaknya terhadap lingkungan dan generasi mendatang. Hutan yang kita anggap tak terbatas ini bukanlah milik kita, melainkan titipan yang seharusnya dijaga untuk menunjang kehidupan semua makhluk. Namun, kita menjadikannya barang dagangan yang bisa dipotong dan dijual, seolah hutan dan alam tidak memiliki hak untuk hidup.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
BNPB Sebut Karhutla...
BNPB Sebut Karhutla Dominasi Bencana di Tanah Air pada Akhir Pekan Ini
Aliansi Kebangsaan Serukan...
Aliansi Kebangsaan Serukan Indonesia Berdamai dengan Alam Hadapi Krisis Iklim
25 Wilayah Indonesia...
25 Wilayah Indonesia Berpotensi Tsunami Akibat Gempa M7,7 di Mindanao Filipina
Dasco Panggil Satgas...
Dasco Panggil Satgas Percepatan Penanganan Bencana Sumatera
Perkuat Penanganan Bencana...
Perkuat Penanganan Bencana Daerah, Kemendagri Dorong Transformasi Tata Kelola BPBD
BNPB Ungkap Indonesia...
BNPB Ungkap Indonesia Peringkat Ketiga Negara dengan Risiko Bencana Tertinggi di Dunia
Latih Desa Binaan Hadapi...
Latih Desa Binaan Hadapi Bencana, Astra Gandeng BNPB Gelar Pelatihan Tanggap Darurat
Gempa Magnitudo 4,7...
Gempa Magnitudo 4,7 Guncang Polewali Mandar Pagi Ini, Dirasakan hingga Makassar
Pulihkan Harapan, Brantas...
Pulihkan Harapan, Brantas Abipraya Bersama PU Hadir dalam Penanganan Pascabencana di Sumatera
Rekomendasi
Pengetatan Standar Migrasi...
Pengetatan Standar Migrasi BPA Galon Polikarbonat Dipertanyakan, Pakar: Perlu Ada Studi
Reza Arap Ungkap Momen...
Reza Arap Ungkap Momen Paling Berkesan Bersama Lula Lahfah saat Syuting Harusnya Horror
JJ All Star 2026 Jadi...
JJ All Star 2026 Jadi Awal Kebangkitan Equestrian Nasional
Berita Terkini
Raih Doktor di Unair,...
Raih Doktor di Unair, Pangi Chaniago Tawarkan Model Baru Jelaskan Split Ticket Voting di Indonesia
Belajar dari Negara...
Belajar dari Negara Lain, Revisi UU Hak Cipta Jangan Sampai Rugikan Media, Industri, dan Masyarakat
Beredar Isu Menteri...
Beredar Isu Menteri PU Dody Hanggodo Kena Reshuffle Agustus Mendatang, Istana Buka Suara
Tim 9 Dinilai Jadi Harapan...
Tim 9 Dinilai Jadi Harapan Penuntasan Kasus Febrie Adriansyah
Mantan Wakapolri Oegroseno...
Mantan Wakapolri Oegroseno Dipanggil soal Dugaan Korupsi Lahan, Kortastipikor: Masih Penyelidikan
Menteri PU Dody Hanggodo...
Menteri PU Dody Hanggodo Respons Isu Kena Reshuffle: Ampun Bos Ampun
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved