Hadapi Ancaman Siber, Pertahanan Indonesia Didorong Beradaptasi

Kamis, 11 Desember 2025 - 19:32 WIB
loading...
Hadapi Ancaman Siber,...
Indonesia menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks dan berdampak langsung pada stabilitas nasional. Foto/istimewa
A A A
JAKARTA - Indonesia menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks dan berdampak langsung pada stabilitas nasional. Untuk itu pertahanan nasional harus mampu beradaptasi.

Gangguan pada jaringan listrik, serangan terhadap sistem perbankan, hingga kebocoran data layanan publik menunjukkan keamanan siber telah menjadi bagian penting dari ketahanan nasional.

Direktur Spentera Royke L. Tobing menegaskan ketahanan siber hanya dapat dicapai melalui sinergi lintas sektor. “Kami menyoroti strategi perlindungan infrastruktur vital seperti energi, ICS dan SCADA, risiko AI, serta tantangan digital di masa mendatang. Seluruh rangkaian agenda dirancang untuk menegaskan pentingnya langkah cepat dan kolaborasi dalam menghadapi ancaman digital yang terus berkembang,” kata Royke, Kamis (11/12/2025).

Baca juga: Panglima TNI Lantik 51 Perwira Muda Ahli Siber, Ini Nama 3 Lulusan Terbaik

Royke menjelaskan, kerentanan terjadi pada infrastruktur energi, khususnya jaringan listrik Jawa–Bali yang menyuplai lebih dari 60% kebutuhan nasional. Penggunaan perangkat lama tanpa pembaruan, protokol SCADA minim enkripsi, serta antarmuka sistem yang masih terhubung ke internet menjadi celah yang berpotensi dieksploitasi pihak asing maupun kelompok kriminal.


Integrasi IoT dan akses jarak jauh yang belum sepenuhnya terlindungi turut memperluas permukaan serangan. Pengalaman pemadaman listrik besar pada 2019 serta gangguan jaringan di Bali pada 2025 kembali menjadi pengingat bahwa serangan terhadap sektor energi dapat berdampak luas pada ekonomi dan kepercayaan publik.

Selain itu, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI/ML) di sektor finansial, e-commerce, telekomunikasi, layanan publik, hingga pertahanan terus meningkat. Namun, tanpa verifikasi ketat terhadap data dan model yang digunakan, sistem berisiko dimanipulasi atau dieksploitasi.

Baca juga: Indonesia Butuh Ekosistem Keamanan Siber yang Tangguh dan Terhubung

Para ahli menilai ketergantungan pada teknologi impor tanpa pengujian menyeluruh dapat membuka ruang intervensi. Karena itu, penguatan standar keamanan, tata kelola AI, serta kemandirian teknologi menjadi kebutuhan strategis agar pemanfaatannya benar-benar memperkuat ekonomi dan pertahanan negara.

Selain kerentanan teknis, tantangan terbesar justru berada pada kesiapan organisasi. Proses deteksi dan respons insiden di Indonesia masih tergolong lambat, pencatatan forensik digital belum konsisten, dan koordinasi lintas unit sering kali berjalan terpisah.

Insiden ransomware yang melumpuhkan Pusat Data Nasional pada 2024 menjadi contoh nyata bagaimana respons yang tidak cepat dan terkoordinasi dapat berdampak berantai pada pelayanan publik.

Royke menambahkan ancaman siber bersifat multidimensi. Dampaknya bukan hanya pada infrastruktur, tetapi juga kepercayaan publik, ekonomi, hingga stabilitas nasional. "Yang dibutuhkan adalah tata kelola yang kuat dan peningkatan kapasitas SDM agar Indonesia lebih siap menghadapi dinamika ini,” ujarnya.

Di tengah meningkatnya ketergantungan pada teknologi digital, menjaga ketahanan siber bukan lagi sekadar upaya teknis, melainkan komitmen kolektif. Investasi keamanan, peningkatan literasi, serta kerja sama yang erat diyakini menjadi fondasi agar Indonesia mampu memanfaatkan transformasi digital tanpa mengorbankan keamanan nasional.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
PPM sebagai Solusi Ketahanan...
PPM sebagai Solusi Ketahanan Nasional di Bawah Naungan Bacadnas
Marak Tuntutan Tebusan,...
Marak Tuntutan Tebusan, Serangan Pelumpuhan Website di Indonesia Melonjak 62%
Republikorp-Barzan Holdings...
Republikorp-Barzan Holdings Kerja Sama Pertahanan mulai Senjata hingga Kapal Selam Mini
Memajukan Peran Korsel...
Memajukan Peran Korsel sebagai Kekuatan Diplomatik melalui Diplomasi Pertahanan
Talenta Digital harus...
Talenta Digital harus Diperkuat untuk Kedaulatan Digital dan Ketahanan Nasional
Nurul Arifin Sebut Akun...
Nurul Arifin Sebut Akun Medsos Wajib Pakai Nomor HP Bisa Jadi Tameng Indonesia Lawan Kejahatan Siber
Kedaulatan Digital Jadi...
Kedaulatan Digital Jadi Sorotan, Solusi AI Terintegrasi Siap Percepat Transformasi Industri
Tips MotionTrade: Jangan...
Tips MotionTrade: Jangan Bagikan Kode OTP, Lindungi Keamanan Akun Investasi Anda!
Kantongi Laba Rp33,72...
Kantongi Laba Rp33,72 Miliar, Elitery (ELIT) Fokus Kembangkan AI dan Cybersecurity
Rekomendasi
Pergeseran domino dari...
Pergeseran domino dari Game HP Jadi Turnamen Pro Berhadiah Ratusan Juta
8 Fakta Kasus Penyekapan...
8 Fakta Kasus Penyekapan dan Penyiksaan Taufik Hidayat, Korban Hilang Sejak 2 Tahun Lalu
Siapa Andy Burnham?...
Siapa Andy Burnham? Kandidat Kuat PM Inggris yang Suka Bermain Bola
Berita Terkini
Ketua BEM FH UBK yang...
Ketua BEM FH UBK yang Bertemu Gibran Ngaku Terima Uang Rp20 Juta, Wamensesneg: Nanti Saya Monitor Dulu
Prabowo Resmikan 1.151...
Prabowo Resmikan 1.151 Km Jalan Daerah: Jadi Urat Nadi Perekonomian Rakyat
Tingkatkan Layanan Kesehatan...
Tingkatkan Layanan Kesehatan di Rumah Sakit, RS Pelni Gelar Pelatihan AI
Mahasiswa UBK Desak...
Mahasiswa UBK Desak Pengurus BEM yang Bertemu Gibran Mundur dari Jabatan karena Diduga Terima Uang
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Dikabulkan Penangguhan Penahannya, Kubu Jokowi Buka Suara
Penahanan Roy Suryo...
Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangguhkan Kejaksaan, Kapolri: Kewajiban Kami Telah Selesai
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved