Islah Bukan Solusi Polemik PBNU, Kiai Imaduddin Banten Sarankan Pengurus Inti Mundur Kolektif
Jum'at, 05 Desember 2025 - 21:41 WIB
loading...
Pendiri Pondok Pesantren Salafi Nahdlatul Ulum, Tangerang, Banten KH Imaduddin Utsman al-Bantani. FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Polemik di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kian meruncing. Setelah Rais Aam KH Miftahul Ahyar memecat Ketua Umum Tanfidziyah KH Yahya Cholil Staquf, giliran Gus Yahya memecat Sekjen PBNU Saifullah Yusuf dan Bendahara Umum Gudfan Arif.
Di tengah situasi yang memanas, berbagai kalangan mulai menyerukan islah sebagai jalan tengah. Namun, pengasuh sekaligus pendiri Pondok Pesantren Salafi Nahdlatul Ulum, Tangerang, Banten KH Imaduddin Utsman al-Bantani menganggap islah bukan solusi untuk mengatasi persoalan yang terjadi di tubuh PBNU. Satu-satunya cara untuk mengatasi polemik di PBNU yaitu dengan menghilangkan sumber masalahnya.
"Kedua kubu ini, Rais Aam, Ketum, Sekjen itu harus mundur, itu sesuatu yang masuk akal. Kalau kita ingin menyelamatkan NU, ingin kembali melihat NU berwibawa, ya tentu yang menjadi masalah bagaimana NU menjadi kurang berwibawa, bermasalah, mengecewakan, itu yang harus dihilangkan," kata Kiai Imaduddin dalam keterangan tertulis, Jumat (5/12/2025).
Menurutnya, kekisruhan di tubuh PBNU tidak bisa hanya diselesaikan dengan islah, berdamai tanpa ada koreksi dan evaluasi atas kesalahan yang terjadi. Sebab, sudah ada tindakan pemecatan sepihak, tudingan pelanggaran, hingga dugaan penyalahgunaan keuangan oleh sejumlah pihak yang sudah terlanjur menjadi konsumsi publik.
"Tentu nggak bisa begitu saja islah, kemudian dilupakan karena data-data sudah ada di publik. Nggak bisa kemudian keduanya berjalan bersama-sama lagi seakan-akan tak pernah ada apa-apa," ujarnya.
Kondisi di tubuh PBNU saat ini, kata Kiai Imaduddin, membuat jamaah, pengurus, dan para kiai di akar rumput kebingungan. Seharusnya para pengurus inti PBNU bisa menjadi orang tua yang bisa memberikan tauladan kepada pengurus di tingkatan-tingkatan di bawahnya.
"Orang tua semacam ini harus muhasabah. 'Saya tidak bisa menjadi orang tua, tidak bisa menjadi Rais Aam, tidak bisa menjadi ketum, tidak bisa menjadi sekjen, tidak bisa menjadi bendum, tidak bisa menjadi uswatun khasanah, sudah saya mundur demi NU. Ini lebih bagus daripada harus diturunkan oleh 100 juta warga NU," katanya.
Kiai Imaduddin menilai pengunduran diri kolektif pengurus inti PBNU akan membuka jalan bagi proses recovery dan konsolidasi untuk memulihkan organisasi. Sebaliknya, terus memaksakan diri dengan pola islah semu hanya membuat luka semakin dalam.
"Kalau NU sekarang dalam masalah, saya khawatir musuh-musuh NU, musuh-musuh NKRI, akan masuk mengambil kesempatan, kemudian bisa membuat sesuatu yang tidak baik kepada bangsa, kepada NU secara khusus. Jadi saya khawatir jika gonjang ganjing yang tidak produktif di PBNU ini tidak dihentikan," katanya.
Di tengah situasi yang memanas, berbagai kalangan mulai menyerukan islah sebagai jalan tengah. Namun, pengasuh sekaligus pendiri Pondok Pesantren Salafi Nahdlatul Ulum, Tangerang, Banten KH Imaduddin Utsman al-Bantani menganggap islah bukan solusi untuk mengatasi persoalan yang terjadi di tubuh PBNU. Satu-satunya cara untuk mengatasi polemik di PBNU yaitu dengan menghilangkan sumber masalahnya.
"Kedua kubu ini, Rais Aam, Ketum, Sekjen itu harus mundur, itu sesuatu yang masuk akal. Kalau kita ingin menyelamatkan NU, ingin kembali melihat NU berwibawa, ya tentu yang menjadi masalah bagaimana NU menjadi kurang berwibawa, bermasalah, mengecewakan, itu yang harus dihilangkan," kata Kiai Imaduddin dalam keterangan tertulis, Jumat (5/12/2025).
Menurutnya, kekisruhan di tubuh PBNU tidak bisa hanya diselesaikan dengan islah, berdamai tanpa ada koreksi dan evaluasi atas kesalahan yang terjadi. Sebab, sudah ada tindakan pemecatan sepihak, tudingan pelanggaran, hingga dugaan penyalahgunaan keuangan oleh sejumlah pihak yang sudah terlanjur menjadi konsumsi publik.
"Tentu nggak bisa begitu saja islah, kemudian dilupakan karena data-data sudah ada di publik. Nggak bisa kemudian keduanya berjalan bersama-sama lagi seakan-akan tak pernah ada apa-apa," ujarnya.
Kondisi di tubuh PBNU saat ini, kata Kiai Imaduddin, membuat jamaah, pengurus, dan para kiai di akar rumput kebingungan. Seharusnya para pengurus inti PBNU bisa menjadi orang tua yang bisa memberikan tauladan kepada pengurus di tingkatan-tingkatan di bawahnya.
"Orang tua semacam ini harus muhasabah. 'Saya tidak bisa menjadi orang tua, tidak bisa menjadi Rais Aam, tidak bisa menjadi ketum, tidak bisa menjadi sekjen, tidak bisa menjadi bendum, tidak bisa menjadi uswatun khasanah, sudah saya mundur demi NU. Ini lebih bagus daripada harus diturunkan oleh 100 juta warga NU," katanya.
Kiai Imaduddin menilai pengunduran diri kolektif pengurus inti PBNU akan membuka jalan bagi proses recovery dan konsolidasi untuk memulihkan organisasi. Sebaliknya, terus memaksakan diri dengan pola islah semu hanya membuat luka semakin dalam.
"Kalau NU sekarang dalam masalah, saya khawatir musuh-musuh NU, musuh-musuh NKRI, akan masuk mengambil kesempatan, kemudian bisa membuat sesuatu yang tidak baik kepada bangsa, kepada NU secara khusus. Jadi saya khawatir jika gonjang ganjing yang tidak produktif di PBNU ini tidak dihentikan," katanya.
(abd)
Lihat Juga :