Organisme Pesantren
Senin, 01 Desember 2025 - 13:25 WIB
loading...
Pesantren yang sehat adalah pesantren yang selnya adalah para santri yang aktif dan hidup. Foto/SINDOnews.
A
A
A
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Organisasi dan Kepemimpinan pendidikan Universitas Darunnajah (UDN)
Saya masih ingat betul ketika pertama kali mengajar biologi di kelas 3 KMI (setingkat IX) 20 tahun lalu. Sambil membuka buku, saya bertanya kepada santri-santri, "Tahukah kalian mengapa tubuh kita bisa bergerak, berpikir, bahkan bermimpi?"
Mereka terdiam.
Saya jelaskan, tubuh manusia adalah organisme yang tersusun rapi. Dimulai dari sel, unit terkecil kehidupan yang berkumpul membentuk jaringan. Jaringan-jaringan ini kemudian menyatu menjadi organ. Jantung, paru-paru, otak. Semuanya bekerja seirama tanpa perlu diperintah.
Malam ini, setelah mengawas belajar malam, pikiran saya melayang. Bukankah pesantren juga seharusnya menjadi organisme?
Selama ini, kita terjebak memandang pesantren sekadar lembaga. Lembaga pendidikan. Lembaga sosial. Lembaga dakwah. Padahal, lembaga bisa mati kapan saja, bergantung pendanaan, regulasi, kaderisasi atau siapa yang memimpin.
Organisme berbeda. Ia tumbuh. Ia beradaptasi. Ia memiliki daya tahan.
Pesantren yang sehat adalah pesantren yang selnya adalah para santri yang aktif dan hidup. Jaringannya kegiatas di asrama, madrasah, masjid yang saling terhubung. Organnya para pengajaran, ekonomi, dakwah yang berfungsi optimal.
Yang lebih penting dari itu organisme punya sistem imun.
Godaan dari luar akan selalu ada. Politisasi, komersialisasi, atau sekadar ambisi pribadi yang menyusup. Pesantren yang sehat mampu mengenali mana nutrisi, mana racun.
Satu hal lagi yang sering saya renungkan yaitu organisme yang efisien tidak membutuhkan dua kepala.
Banyak pesantren hari ini terjebak dualisme kepemimpinan. Yayasan versus pengasuh. Birokrasi versus tradisi. Akibatnya, energi habis untuk konflik internal, bukan pertumbuhan.
Sederhanakan struktur. Biarkan satu jantung memompa darah ke seluruh tubuh.
Sebagaimana sel-sel tubuh kita bekerja tanpa pamrih, tidak pernah bertanya siapa yang lebih berkuasa, demikan juga pesantren seharusnya bergerak dengan kebersamaan dan keikhlasan.
Menjadi organisme, bukan sekadar organisasi.
Hidup, bukan hanya bertahan.
Saya masih ingat betul ketika pertama kali mengajar biologi di kelas 3 KMI (setingkat IX) 20 tahun lalu. Sambil membuka buku, saya bertanya kepada santri-santri, "Tahukah kalian mengapa tubuh kita bisa bergerak, berpikir, bahkan bermimpi?"
Mereka terdiam.
Saya jelaskan, tubuh manusia adalah organisme yang tersusun rapi. Dimulai dari sel, unit terkecil kehidupan yang berkumpul membentuk jaringan. Jaringan-jaringan ini kemudian menyatu menjadi organ. Jantung, paru-paru, otak. Semuanya bekerja seirama tanpa perlu diperintah.
Malam ini, setelah mengawas belajar malam, pikiran saya melayang. Bukankah pesantren juga seharusnya menjadi organisme?
Selama ini, kita terjebak memandang pesantren sekadar lembaga. Lembaga pendidikan. Lembaga sosial. Lembaga dakwah. Padahal, lembaga bisa mati kapan saja, bergantung pendanaan, regulasi, kaderisasi atau siapa yang memimpin.
Organisme berbeda. Ia tumbuh. Ia beradaptasi. Ia memiliki daya tahan.
Pesantren yang sehat adalah pesantren yang selnya adalah para santri yang aktif dan hidup. Jaringannya kegiatas di asrama, madrasah, masjid yang saling terhubung. Organnya para pengajaran, ekonomi, dakwah yang berfungsi optimal.
Yang lebih penting dari itu organisme punya sistem imun.
Godaan dari luar akan selalu ada. Politisasi, komersialisasi, atau sekadar ambisi pribadi yang menyusup. Pesantren yang sehat mampu mengenali mana nutrisi, mana racun.
Satu hal lagi yang sering saya renungkan yaitu organisme yang efisien tidak membutuhkan dua kepala.
Banyak pesantren hari ini terjebak dualisme kepemimpinan. Yayasan versus pengasuh. Birokrasi versus tradisi. Akibatnya, energi habis untuk konflik internal, bukan pertumbuhan.
Sederhanakan struktur. Biarkan satu jantung memompa darah ke seluruh tubuh.
Sebagaimana sel-sel tubuh kita bekerja tanpa pamrih, tidak pernah bertanya siapa yang lebih berkuasa, demikan juga pesantren seharusnya bergerak dengan kebersamaan dan keikhlasan.
Menjadi organisme, bukan sekadar organisasi.
Hidup, bukan hanya bertahan.
(nnz)
Lihat Juga :