Gelombang Perubahan: Bangun Lautmu, Jayakan Bangsamu
Jum'at, 28 November 2025 - 13:15 WIB
loading...
Salim Ketua Dewan Pakar KPPMPI dan Kandidat Doktor Universitas Airlangga. Foto/istimewa
A
A
A
Salim
Ketua Dewan Pakar KPPMPI dan Kandidat Doktor Universitas Airlangga
"DAN Dia lah yang telah menjadikan laut untukmu, supaya kamu memakainya untuk mencari rezeki dan dapat memakan dari segala sesuatu yang segar." (QS. Al-Ma'idah: 96)
Kutipan ayat tersebut seakan menyiratkan kepada rakyat Indonesia, dalam konteks Indonesia sebagai negara kepualauan tersimpan keberagaman dan kekayaan yang ada dilautan maka tidak pantas jika sampai dengan saat ini jutaan rakyat masih hidup dalam kemiskinan, meskipun 80 tahunan merdeka, apa yang salah dengan bangsa ini? 95% lebih penduduk memeluk islam namun pemahaman ayat ayat dalam kitab suci hanya sebatas bacaaan namun dangkal dalam pemahaman dan penghayatan terutama bagi para pemimpin NKRI.
Jika Al-Quran diturunkan oleh Allah untuk umat manusia seluruh dunia maka tafsir alquran tidak hanya melulu untuk bangsa arab belaka namun untuk kehidupan akherat, kehidupan di langit, kehidupan dunia dan seisinya, karena dia adalah bukti untuk tiap sesuatu, dan kita akan mengetahuinya pada suatu masa.
Ayat tersebut menegaskan bahwa laut adalah sumber rezeki yang dianugerahkan Allah untuk kemakmuran umat. Dalam filsafat Islam, ada prinsip yang mendalam mengenai ketidakpedulian dan tanggung jawab. Jika kita lalai terhadap perintah Allah dan tidak mensyukuri nikmat ini, konsekuensinya bisa sangat serius. Allah dapat mencabut nikmat yang diberikan jika kita tidak bersyukur, yang bisa berujung pada bencana yang mengerikan bagi bangsa.
Indonesia, sebagai negara kepulauan, harus mengelola kekayaan laut dengan bijak. Jika tidak, kita berisiko kehilangan identitas sebagai bangsa bahari dalam pembangunan maritimnya dan mengalami hilangnya peradaban yang telah ada. Oleh karena itu, tanggung jawab kita bukan hanya untuk memanfaatkan sumber daya laut, tetapi juga untuk melestarikannya demi generasi mendatang.
Gagasan Panglima Armada Laut Majapahit Laksamana Nala Jaladimantri "Bangun Lautmu Maka Akan Jaya Bangsamu" dalam Kakawin Negara Kertagama atau Decawarnana dan tertulis dalam berbagai prasasti Prapancasarapura, Prasasti Batur dan Prasasti Bendasari mengajak kita merenungkan pentingnya kekuatan maritim bagi suatu bangsa.
Di era modern saat ini, mengacu pada filsafat pembangunan maritim, Rear Admiral A.T. Mahan berpendapat bahwa dominasi laut adalah kunci kekuatan global. Konsep ini sejalan dengan ayat suci yang menekankan tanggung jawab kita terhadap sumber daya laut yang dapat mengantarkan kemakmuran dan kebangkitan bangsa.
Selain itu pandangan para founding fathers bangsa, mereka memahami bahwa kekuatan maritim adalah inti dari jati diri Indonesia sebagai negara kepulauan. Presiden Soekarno, misalnya, menekankan pentingnya laut bagi pertumbuhan ekonomi dan persatuan bangsa. Dalam konteks ini, kita wajib mengelola laut dengan baik untuk mewujudkan visi Indonesia yang berdaulat dan sejahtera. Kesejahteraan maritim menjadi landasan bagi kemajuan seluruh bangsa.
Dalam konteks kelautan Indonesia, visi yang seharusnya menjadi kekuatan strategis seringkali terjerembab menjadi jargon tanpa substansi. Pembangunan maritim seolah hanya dimanfaatkan oleh segelintir pemimpin untuk meraup suara rakyat demi kepentingan politik jangka pendek. Padahal, sebagai negara yang berlandaskan UUD 1945 dan Pancasila, khususnya sila keempat, kita seharusnya mengedepankan kerakyatan yang diwarnai hikmah kebijaksanaan dan musyawarah untuk mencapai keputusan yang benar-benar mendengarkan aspirasi rakyat.
Tanpa blue print pembangunan jangka Panjang yang jelas dan berkelanjutan, cita-cita menjadikan laut sebagai sumber kesejahteraan bagi seluruh masyarakat akan terabaikan, menciptakan ketidakadilan dan kekecewaan dalam proses demokrasi kita.
Menarik pelajaran dari era Kolonialisme.
Dalam catatan sejarah bangsa ini, kejayaan sebagai bangsa maritim Indonesia bercahaya terang, mengingatkan kita pada masa Sriwijaya abad ke 7 dan Majapahit abad ke 14, ketika laut bukan sekadar batas, tetapi jembatan yang menghubungkan peradaban. Pelaut Nusantara yang berani, yang membelah ombak, pernah menjadikan laut sebagai sumber kesejahteraan dan identitas. Namun, kedatangan kolonialisme Belanda dan Portugis mengubah narasi itu, membawa penjajahan yang mengikis kekuatan maritim kita.
Seiring waktu, saat ini kita seakan "dijajah" dan “ditelan” kembali, bukan oleh bangsa asing, tetapi baik oleh ketidakpastian jati diri sendiri maupun begundal begundal rakyat yang memiliki otak penjajah dan menindas bangsanya sendiri.. Dalam pandangan filsafat terkenal, seperti yang dinyatakan oleh A.T. Mahan, "Kekuatan maritim adalah kekuatan nasional." Mahan berargumen bahwa negara yang menguasai laut akan menguasai dunia. Namun, mengapa kita, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dan kaya ini, belum mampu mengimplementasikan konsep tersebut dalam pembangunan?
Di tengah kompleksitas identitas bangsa, melihat negara-negara maju dalam pembangunan maritimnya telah memberi inspirasi bagi kita, mereka menerapkan kebijakan yang memungkinkan mereka untuk memanfaatkan sumber daya laut dengan bijaksana dan berkelanjutan. Kekuatan mereka terletak pada kesatuan visi, yang menjadikan marinisme sebagai bagian dari karakter mereka.
Kita, sebagai bangsa maritim, memiliki tanggung jawab untuk menghidupkan kembali cita-cita maritim itu. Dalam setiap jeritan ombak dan desiran angin laut, tersimpan harapan untuk membangun kembali karakter kita. Sumber daya laut bukan hanya tentang ekonomi, tetapi juga tentang membangun jati diri dan kebanggaan sebagai bangsa. Jika kita mengabaikan ini, maka akan hilanglah kekuatan peradaban maritim yang pernah kita miliki. Kini adalah saatnya untuk bangkit, membangunkan laut kita untuk menjayakan bangsa kita.
Sebagai negara dengan lebih dari 17.504 pulau, kebangkitan maritim Indonesia sangat tergantung pada ketegasan ocean policy yang dimiliki pemerintah. Ocean policy harus menjadi jati diri bangsa, berfokus pada pembangunan yang berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Wujudkan visi pemerintahan yang terbuka dan transparan, dengan langkah tegas terhadap korupsi yang sudah lama menjadi kanker dalam sistem pemerintahan. Tanpa tindakan nyata, cita-cita maritim tidak akan pernah tercapai.
Politik kemaritiman yang harus diusung adalah politik yang mengutamakan kesejahteraan masyarakat. Kekayaan laut yang melimpah seharusnya dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, bukan untuk memperkaya diri sendiri, keluarga, atau kelompok tertentu. Ini adalah amanah yang harus dijaga dengan serius. Kesadaran akan pentingnya pengelolaan laut secara adil dan bijaksana akan membentuk karakter masyarakat yang lebih baik, sesuai dengan prinsip Pancasila.
Dalam upaya ini, pemerintah perlu merancang "style of government" yang berpijak pada wawasan maritim. Hal ini mencakup pembentukan komunitas maritim yang besar, yang mampu menyatukan seluruh elemen masyarakat untuk bergerak bersama dalam pemanfaatan sumber daya laut. Dengan membangun jaringan komunitas yang kuat, kita dapat menciptakan kesadaran kolektif yang tak hanya menjadikan laut sebagai sumber kekayaan, tetapi juga sebagai identitas dan kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia.
Mari kita bergandeng tangan untuk membangun ocean policy yang visioner, solid, adaptive dan berpihak pada rakyat. Kini saatnya untuk mengangkat harga diri bangsa, menciptakan masa depan yang gemilang dengan laut sebagai jantung peradaban kita. Bersama, kita bisa mewujudkan kemakmuran yang sejati untuk seluruh rakyat Indonesia. Bangkitlah, wahai rakyat, dalam gelombang perubahan yang penuh harapan! "Bangun Lautmu, Jayakan Bangsamu" adalah seruan yang harus bergema dari setiap rumah.
Mari kita kembali ke laut, mensyukuri nikmat Allah yang telah menganugerahi negeri ini sebagai negeri yang Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur, tanah penuh berkah dan sumber daya melimpah. Dalam setiap doa, kita kan berjuang, menghancurkan penindas maupun pemimpin serakah yang menjarah kekayaan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Bersama, kita akan menumbuhkan kekuatan dari dalam, menjadi pelopor silent revolution demi keadilan, agar laut kita tidak lagi terabaikan, dan rakyat kembali merasakan kemakmuran yang sejati.
Semoga Tuhan membukakan mata bathin dari hampir 300 juta lebih otak dan otot dari The Sleeping Giant ini, untuk bangkit dan mengulang kembali kejayaan bangsa sebagai bangsa maritim yang besar.
“In the sea we are victorious” satu satunya negara di dunia yang memilki semboyan ini adalah Indonesia, bahkan semboyan China, Amerika, Inggris serta negara Maritim besar lainnyapun tidak memilki semboyan ini, tetapi apakah dilaut kita telah jaya? Silakan dijawab rakyatku dari sabang sampai merauke. Kemana Raja kelana melambai kalau tidak ke pulau kelapa yang amat subur, pulau melati pujaan bangsa bangsa sejak dulu kala, itulah tanah air ku Indonesia… Jalesveva Jayamahe…Semoga.
Ketua Dewan Pakar KPPMPI dan Kandidat Doktor Universitas Airlangga
"DAN Dia lah yang telah menjadikan laut untukmu, supaya kamu memakainya untuk mencari rezeki dan dapat memakan dari segala sesuatu yang segar." (QS. Al-Ma'idah: 96)
Kutipan ayat tersebut seakan menyiratkan kepada rakyat Indonesia, dalam konteks Indonesia sebagai negara kepualauan tersimpan keberagaman dan kekayaan yang ada dilautan maka tidak pantas jika sampai dengan saat ini jutaan rakyat masih hidup dalam kemiskinan, meskipun 80 tahunan merdeka, apa yang salah dengan bangsa ini? 95% lebih penduduk memeluk islam namun pemahaman ayat ayat dalam kitab suci hanya sebatas bacaaan namun dangkal dalam pemahaman dan penghayatan terutama bagi para pemimpin NKRI.
Jika Al-Quran diturunkan oleh Allah untuk umat manusia seluruh dunia maka tafsir alquran tidak hanya melulu untuk bangsa arab belaka namun untuk kehidupan akherat, kehidupan di langit, kehidupan dunia dan seisinya, karena dia adalah bukti untuk tiap sesuatu, dan kita akan mengetahuinya pada suatu masa.
Ayat tersebut menegaskan bahwa laut adalah sumber rezeki yang dianugerahkan Allah untuk kemakmuran umat. Dalam filsafat Islam, ada prinsip yang mendalam mengenai ketidakpedulian dan tanggung jawab. Jika kita lalai terhadap perintah Allah dan tidak mensyukuri nikmat ini, konsekuensinya bisa sangat serius. Allah dapat mencabut nikmat yang diberikan jika kita tidak bersyukur, yang bisa berujung pada bencana yang mengerikan bagi bangsa.
Indonesia, sebagai negara kepulauan, harus mengelola kekayaan laut dengan bijak. Jika tidak, kita berisiko kehilangan identitas sebagai bangsa bahari dalam pembangunan maritimnya dan mengalami hilangnya peradaban yang telah ada. Oleh karena itu, tanggung jawab kita bukan hanya untuk memanfaatkan sumber daya laut, tetapi juga untuk melestarikannya demi generasi mendatang.
Gagasan Panglima Armada Laut Majapahit Laksamana Nala Jaladimantri "Bangun Lautmu Maka Akan Jaya Bangsamu" dalam Kakawin Negara Kertagama atau Decawarnana dan tertulis dalam berbagai prasasti Prapancasarapura, Prasasti Batur dan Prasasti Bendasari mengajak kita merenungkan pentingnya kekuatan maritim bagi suatu bangsa.
Di era modern saat ini, mengacu pada filsafat pembangunan maritim, Rear Admiral A.T. Mahan berpendapat bahwa dominasi laut adalah kunci kekuatan global. Konsep ini sejalan dengan ayat suci yang menekankan tanggung jawab kita terhadap sumber daya laut yang dapat mengantarkan kemakmuran dan kebangkitan bangsa.
Selain itu pandangan para founding fathers bangsa, mereka memahami bahwa kekuatan maritim adalah inti dari jati diri Indonesia sebagai negara kepulauan. Presiden Soekarno, misalnya, menekankan pentingnya laut bagi pertumbuhan ekonomi dan persatuan bangsa. Dalam konteks ini, kita wajib mengelola laut dengan baik untuk mewujudkan visi Indonesia yang berdaulat dan sejahtera. Kesejahteraan maritim menjadi landasan bagi kemajuan seluruh bangsa.
Dalam konteks kelautan Indonesia, visi yang seharusnya menjadi kekuatan strategis seringkali terjerembab menjadi jargon tanpa substansi. Pembangunan maritim seolah hanya dimanfaatkan oleh segelintir pemimpin untuk meraup suara rakyat demi kepentingan politik jangka pendek. Padahal, sebagai negara yang berlandaskan UUD 1945 dan Pancasila, khususnya sila keempat, kita seharusnya mengedepankan kerakyatan yang diwarnai hikmah kebijaksanaan dan musyawarah untuk mencapai keputusan yang benar-benar mendengarkan aspirasi rakyat.
Tanpa blue print pembangunan jangka Panjang yang jelas dan berkelanjutan, cita-cita menjadikan laut sebagai sumber kesejahteraan bagi seluruh masyarakat akan terabaikan, menciptakan ketidakadilan dan kekecewaan dalam proses demokrasi kita.
Menarik pelajaran dari era Kolonialisme.
Dalam catatan sejarah bangsa ini, kejayaan sebagai bangsa maritim Indonesia bercahaya terang, mengingatkan kita pada masa Sriwijaya abad ke 7 dan Majapahit abad ke 14, ketika laut bukan sekadar batas, tetapi jembatan yang menghubungkan peradaban. Pelaut Nusantara yang berani, yang membelah ombak, pernah menjadikan laut sebagai sumber kesejahteraan dan identitas. Namun, kedatangan kolonialisme Belanda dan Portugis mengubah narasi itu, membawa penjajahan yang mengikis kekuatan maritim kita.
Seiring waktu, saat ini kita seakan "dijajah" dan “ditelan” kembali, bukan oleh bangsa asing, tetapi baik oleh ketidakpastian jati diri sendiri maupun begundal begundal rakyat yang memiliki otak penjajah dan menindas bangsanya sendiri.. Dalam pandangan filsafat terkenal, seperti yang dinyatakan oleh A.T. Mahan, "Kekuatan maritim adalah kekuatan nasional." Mahan berargumen bahwa negara yang menguasai laut akan menguasai dunia. Namun, mengapa kita, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dan kaya ini, belum mampu mengimplementasikan konsep tersebut dalam pembangunan?
Di tengah kompleksitas identitas bangsa, melihat negara-negara maju dalam pembangunan maritimnya telah memberi inspirasi bagi kita, mereka menerapkan kebijakan yang memungkinkan mereka untuk memanfaatkan sumber daya laut dengan bijaksana dan berkelanjutan. Kekuatan mereka terletak pada kesatuan visi, yang menjadikan marinisme sebagai bagian dari karakter mereka.
Kita, sebagai bangsa maritim, memiliki tanggung jawab untuk menghidupkan kembali cita-cita maritim itu. Dalam setiap jeritan ombak dan desiran angin laut, tersimpan harapan untuk membangun kembali karakter kita. Sumber daya laut bukan hanya tentang ekonomi, tetapi juga tentang membangun jati diri dan kebanggaan sebagai bangsa. Jika kita mengabaikan ini, maka akan hilanglah kekuatan peradaban maritim yang pernah kita miliki. Kini adalah saatnya untuk bangkit, membangunkan laut kita untuk menjayakan bangsa kita.
Sebagai negara dengan lebih dari 17.504 pulau, kebangkitan maritim Indonesia sangat tergantung pada ketegasan ocean policy yang dimiliki pemerintah. Ocean policy harus menjadi jati diri bangsa, berfokus pada pembangunan yang berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Wujudkan visi pemerintahan yang terbuka dan transparan, dengan langkah tegas terhadap korupsi yang sudah lama menjadi kanker dalam sistem pemerintahan. Tanpa tindakan nyata, cita-cita maritim tidak akan pernah tercapai.
Politik kemaritiman yang harus diusung adalah politik yang mengutamakan kesejahteraan masyarakat. Kekayaan laut yang melimpah seharusnya dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, bukan untuk memperkaya diri sendiri, keluarga, atau kelompok tertentu. Ini adalah amanah yang harus dijaga dengan serius. Kesadaran akan pentingnya pengelolaan laut secara adil dan bijaksana akan membentuk karakter masyarakat yang lebih baik, sesuai dengan prinsip Pancasila.
Dalam upaya ini, pemerintah perlu merancang "style of government" yang berpijak pada wawasan maritim. Hal ini mencakup pembentukan komunitas maritim yang besar, yang mampu menyatukan seluruh elemen masyarakat untuk bergerak bersama dalam pemanfaatan sumber daya laut. Dengan membangun jaringan komunitas yang kuat, kita dapat menciptakan kesadaran kolektif yang tak hanya menjadikan laut sebagai sumber kekayaan, tetapi juga sebagai identitas dan kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia.
Mari kita bergandeng tangan untuk membangun ocean policy yang visioner, solid, adaptive dan berpihak pada rakyat. Kini saatnya untuk mengangkat harga diri bangsa, menciptakan masa depan yang gemilang dengan laut sebagai jantung peradaban kita. Bersama, kita bisa mewujudkan kemakmuran yang sejati untuk seluruh rakyat Indonesia. Bangkitlah, wahai rakyat, dalam gelombang perubahan yang penuh harapan! "Bangun Lautmu, Jayakan Bangsamu" adalah seruan yang harus bergema dari setiap rumah.
Mari kita kembali ke laut, mensyukuri nikmat Allah yang telah menganugerahi negeri ini sebagai negeri yang Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur, tanah penuh berkah dan sumber daya melimpah. Dalam setiap doa, kita kan berjuang, menghancurkan penindas maupun pemimpin serakah yang menjarah kekayaan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Bersama, kita akan menumbuhkan kekuatan dari dalam, menjadi pelopor silent revolution demi keadilan, agar laut kita tidak lagi terabaikan, dan rakyat kembali merasakan kemakmuran yang sejati.
Semoga Tuhan membukakan mata bathin dari hampir 300 juta lebih otak dan otot dari The Sleeping Giant ini, untuk bangkit dan mengulang kembali kejayaan bangsa sebagai bangsa maritim yang besar.
“In the sea we are victorious” satu satunya negara di dunia yang memilki semboyan ini adalah Indonesia, bahkan semboyan China, Amerika, Inggris serta negara Maritim besar lainnyapun tidak memilki semboyan ini, tetapi apakah dilaut kita telah jaya? Silakan dijawab rakyatku dari sabang sampai merauke. Kemana Raja kelana melambai kalau tidak ke pulau kelapa yang amat subur, pulau melati pujaan bangsa bangsa sejak dulu kala, itulah tanah air ku Indonesia… Jalesveva Jayamahe…Semoga.
(cip)
Lihat Juga :