Guru di Era AI dan Tantangan Memanusiakan Pendidikan
Selasa, 25 November 2025 - 21:16 WIB
loading...
Ida Farida, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda. Foto/Istimewa
A
A
A
Ida Farida
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda
PERUBAHAN teknologi selalu memengaruhi cara manusia belajar. Ketika mesin cetak hadir pada abad ke-15, para pendidik khawatir otoritas lisan akan hilang dan siswa kehilangan kedalaman belajar. Ketika komputer dan internet memasuki sekolah pada akhir abad ke-20, kekhawatiran itu muncul kembali dalam wujud baru: akankah guru tergantikan oleh layar?
Namun sejarah selalu memberikan pelajaran yang sama: teknologi memang mengubah metode, tetapi tidak pernah menggantikan kebutuhan manusia untuk belajar dari manusia lain. Setiap generasi guru selalu menemukan caranya untuk menjembatani perubahan, bukan tenggelam di dalamnya.
Kini, di era kecerdasan buatan (AI), tantangan pendidikan memasuki fase yang jauh lebih kompleks. AI bukan hanya alat bantu atau medium penyampaian informasi. Ia ikut menentukan apa yang dipelajari, bagaimana proses belajar berlangsung, bahkan bagaimana seorang siswa diprediksi akan berkembang.
Algoritme mampu memberi nilai otomatis, mempersonalisasi materi, hingga mengarahkan jalur belajar berdasarkan data riwayat siswa. Kemampuan yang dulu dianggap futuristik kini hadir dalam ruang kelas kita, tetapi keputusan yang dibuat AI sering kali tidak memahami dimensi manusiawi yang menjadi inti pendidikan.
Pengalaman Inggris pada 2020 menjadi contoh jelas. Ketika penilaian ujian digantikan model algoritmik karena pandemi, ribuan siswa kelas pekerja mengalami penurunan nilai secara drastis. Sistem yang dianggap objektif ternyata mereproduksi ketimpangan sosial yang tersimpan dalam data masa lalu.
Italia dan Belanda pernah mengalami problem serupa pada sistem deteksi “siswa berisiko”, yang ternyata bias terhadap kelompok minoritas. Kasus-kasus global ini mengingatkan bahwa AI tidak bebas nilai. Logika datanya cenderung memperkuat pola ketidakadilan yang sudah ada, bukan memperbaikinya.
Di Indonesia, penggunaan teknologi pendidikan memang belum sejauh negara-negara tersebut, tetapi arah ke sana semakin jelas. Platform pembelajaran digital mulai mengumpulkan data perilaku belajar siswa secara masif. Tanpa etika dan pengawasan yang kuat, sistem semacam ini dapat berubah menjadi instrumen pengendalian, bukan pembebasan.
Pendidikan bisa tergelincir menjadi mekanisme teknokratis yang lebih menekankan pengukuran daripada pemaknaan. Inilah konteks di mana pendidikan perlu bersikap waspada. AI mampu mendeteksi pola, tetapi tidak memahami pengalaman.
Ia memprediksi perilaku, tetapi tidak menimbang niat, pergulatan batin, atau kapasitas perubahan diri. Jika keputusan penting dalam pendidikan diserahkan sepenuhnya kepada mesin, siswa berisiko diperlakukan sebagai objek statistik, bukan subjek yang sedang tumbuh dan mencari jati diri.
AI mungkin efisien, tetapi efisiensi bukan tujuan utama pendidikan. Pendidikan tidak diciptakan untuk memaksimalkan angka, tetapi memaksimalkan manusia. Di titik inilah relevansi pemikiran filosofis tentang pendidikan semakin terasa kuat. John Dewey memandang pendidikan sebagai proses demokratis yang membangun kebiasaan berpikir reflektif.
Paulo Freire menekankan pentingnya dialog sebagai ruang pembebasan, tempat siswa dan guru sama-sama membangun kesadaran kritis. Martha Nussbaum melihat pendidikan sebagai upaya memperluas kapasitas manusia agar mampu hidup bermartabat, penuh empati, dan peka terhadap penderitaan sesama. Semua prinsip ini hanya dapat terwujud jika pendidikan tetap menempatkan manusia sebagai pusatnya, bukan algoritme.
Guru memegang peran sentral dalam memastikan orientasi humanistik itu tidak hilang. Dalam lingkungan yang dibanjiri data dan informasi, guru menjadi kurator pengetahuan yang membantu siswa memilah mana informasi yang tepat, mana asumsi yang bias, dan mana panduan etis yang harus dipegang.
Peran ini tidak bisa digantikan algoritme, karena ia menuntut kepekaan moral yang hanya lahir dari pengalaman dan pergumulan manusiawi. Di tengah penetrasi AI, guru juga menjadi penjaga agar prediksi tidak berubah menjadi takdir. Ketika sistem mengkategorikan seorang siswa sebagai “berisiko rendah” atau “berpotensi rendah”, guru harus hadir sebagai penyeimbang.
Data hanyalah cermin masa lalu, bukan penentu masa depan. Setiap anak memiliki kapasitas untuk berubah, tumbuh, dan melampaui jejak masa lalunya. Tugas guru adalah memastikan ruang kemungkinan itu tetap terbuka. Dalam hal ini, guru tidak hanya mendidik, tetapi juga melawan determinisme digital yang perlahan menyusup ke ruang belajar.
Tantangan lain yang muncul adalah risiko hilangnya relasi autentik. AI dapat memberikan rekomendasi materi, tetapi tidak dapat menggantikan kehangatan, empati, dan rasa aman yang dibangun dalam hubungan guru–siswa. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa kualitas hubungan emosional ini berpengaruh besar terhadap motivasi belajar, ketahanan mental, dan rasa percaya diri siswa—hal-hal yang tidak dapat direplikasi oleh sistem otomatis.
Dalam dunia yang semakin digital, relasi manusiawi justru menjadi aspek yang paling berharga. Karena itu, di Hari Guru ini, penting untuk menegaskan kembali bahwa peran guru bukan semakin mengecil, melainkan justru semakin besar. Guru adalah benteng terakhir pendidikan humanistik.
Guru memastikan bahwa teknologi dipandu oleh nilai, bukan sebaliknya. Guru mengajarkan bahwa belajar bukan sekadar memahami informasi, tetapi memahami diri sendiri dan dunia secara lebih bermakna. Guru tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi memandu arah moral kehidupan generasi muda.
Pendidikan tidak boleh kehilangan orientasi moralnya hanya karena terpesona oleh kemampuan AI. Teknologi harus menjadi alat, bukan penentu arah. Pada akhirnya, pendidikan bertujuan membentuk manusia yang utuh: kritis, berkarakter, berempati, dan mampu hidup berdampingan dengan sesamanya.
Semua tujuan ini hanya dapat dicapai jika guru tetap menjadi pusat dari proses belajar, bukan digantikan oleh algoritme. Di era AI yang serba cepat dan penuh ketidakpastian, kita justru semakin membutuhkan guru—bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai penjaga kemanusiaan dalam pendidikan.
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda
PERUBAHAN teknologi selalu memengaruhi cara manusia belajar. Ketika mesin cetak hadir pada abad ke-15, para pendidik khawatir otoritas lisan akan hilang dan siswa kehilangan kedalaman belajar. Ketika komputer dan internet memasuki sekolah pada akhir abad ke-20, kekhawatiran itu muncul kembali dalam wujud baru: akankah guru tergantikan oleh layar?
Namun sejarah selalu memberikan pelajaran yang sama: teknologi memang mengubah metode, tetapi tidak pernah menggantikan kebutuhan manusia untuk belajar dari manusia lain. Setiap generasi guru selalu menemukan caranya untuk menjembatani perubahan, bukan tenggelam di dalamnya.
Kini, di era kecerdasan buatan (AI), tantangan pendidikan memasuki fase yang jauh lebih kompleks. AI bukan hanya alat bantu atau medium penyampaian informasi. Ia ikut menentukan apa yang dipelajari, bagaimana proses belajar berlangsung, bahkan bagaimana seorang siswa diprediksi akan berkembang.
Algoritme mampu memberi nilai otomatis, mempersonalisasi materi, hingga mengarahkan jalur belajar berdasarkan data riwayat siswa. Kemampuan yang dulu dianggap futuristik kini hadir dalam ruang kelas kita, tetapi keputusan yang dibuat AI sering kali tidak memahami dimensi manusiawi yang menjadi inti pendidikan.
Pengalaman Inggris pada 2020 menjadi contoh jelas. Ketika penilaian ujian digantikan model algoritmik karena pandemi, ribuan siswa kelas pekerja mengalami penurunan nilai secara drastis. Sistem yang dianggap objektif ternyata mereproduksi ketimpangan sosial yang tersimpan dalam data masa lalu.
Italia dan Belanda pernah mengalami problem serupa pada sistem deteksi “siswa berisiko”, yang ternyata bias terhadap kelompok minoritas. Kasus-kasus global ini mengingatkan bahwa AI tidak bebas nilai. Logika datanya cenderung memperkuat pola ketidakadilan yang sudah ada, bukan memperbaikinya.
Di Indonesia, penggunaan teknologi pendidikan memang belum sejauh negara-negara tersebut, tetapi arah ke sana semakin jelas. Platform pembelajaran digital mulai mengumpulkan data perilaku belajar siswa secara masif. Tanpa etika dan pengawasan yang kuat, sistem semacam ini dapat berubah menjadi instrumen pengendalian, bukan pembebasan.
Pendidikan bisa tergelincir menjadi mekanisme teknokratis yang lebih menekankan pengukuran daripada pemaknaan. Inilah konteks di mana pendidikan perlu bersikap waspada. AI mampu mendeteksi pola, tetapi tidak memahami pengalaman.
Ia memprediksi perilaku, tetapi tidak menimbang niat, pergulatan batin, atau kapasitas perubahan diri. Jika keputusan penting dalam pendidikan diserahkan sepenuhnya kepada mesin, siswa berisiko diperlakukan sebagai objek statistik, bukan subjek yang sedang tumbuh dan mencari jati diri.
AI mungkin efisien, tetapi efisiensi bukan tujuan utama pendidikan. Pendidikan tidak diciptakan untuk memaksimalkan angka, tetapi memaksimalkan manusia. Di titik inilah relevansi pemikiran filosofis tentang pendidikan semakin terasa kuat. John Dewey memandang pendidikan sebagai proses demokratis yang membangun kebiasaan berpikir reflektif.
Paulo Freire menekankan pentingnya dialog sebagai ruang pembebasan, tempat siswa dan guru sama-sama membangun kesadaran kritis. Martha Nussbaum melihat pendidikan sebagai upaya memperluas kapasitas manusia agar mampu hidup bermartabat, penuh empati, dan peka terhadap penderitaan sesama. Semua prinsip ini hanya dapat terwujud jika pendidikan tetap menempatkan manusia sebagai pusatnya, bukan algoritme.
Guru memegang peran sentral dalam memastikan orientasi humanistik itu tidak hilang. Dalam lingkungan yang dibanjiri data dan informasi, guru menjadi kurator pengetahuan yang membantu siswa memilah mana informasi yang tepat, mana asumsi yang bias, dan mana panduan etis yang harus dipegang.
Peran ini tidak bisa digantikan algoritme, karena ia menuntut kepekaan moral yang hanya lahir dari pengalaman dan pergumulan manusiawi. Di tengah penetrasi AI, guru juga menjadi penjaga agar prediksi tidak berubah menjadi takdir. Ketika sistem mengkategorikan seorang siswa sebagai “berisiko rendah” atau “berpotensi rendah”, guru harus hadir sebagai penyeimbang.
Data hanyalah cermin masa lalu, bukan penentu masa depan. Setiap anak memiliki kapasitas untuk berubah, tumbuh, dan melampaui jejak masa lalunya. Tugas guru adalah memastikan ruang kemungkinan itu tetap terbuka. Dalam hal ini, guru tidak hanya mendidik, tetapi juga melawan determinisme digital yang perlahan menyusup ke ruang belajar.
Tantangan lain yang muncul adalah risiko hilangnya relasi autentik. AI dapat memberikan rekomendasi materi, tetapi tidak dapat menggantikan kehangatan, empati, dan rasa aman yang dibangun dalam hubungan guru–siswa. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa kualitas hubungan emosional ini berpengaruh besar terhadap motivasi belajar, ketahanan mental, dan rasa percaya diri siswa—hal-hal yang tidak dapat direplikasi oleh sistem otomatis.
Dalam dunia yang semakin digital, relasi manusiawi justru menjadi aspek yang paling berharga. Karena itu, di Hari Guru ini, penting untuk menegaskan kembali bahwa peran guru bukan semakin mengecil, melainkan justru semakin besar. Guru adalah benteng terakhir pendidikan humanistik.
Guru memastikan bahwa teknologi dipandu oleh nilai, bukan sebaliknya. Guru mengajarkan bahwa belajar bukan sekadar memahami informasi, tetapi memahami diri sendiri dan dunia secara lebih bermakna. Guru tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi memandu arah moral kehidupan generasi muda.
Pendidikan tidak boleh kehilangan orientasi moralnya hanya karena terpesona oleh kemampuan AI. Teknologi harus menjadi alat, bukan penentu arah. Pada akhirnya, pendidikan bertujuan membentuk manusia yang utuh: kritis, berkarakter, berempati, dan mampu hidup berdampingan dengan sesamanya.
Semua tujuan ini hanya dapat dicapai jika guru tetap menjadi pusat dari proses belajar, bukan digantikan oleh algoritme. Di era AI yang serba cepat dan penuh ketidakpastian, kita justru semakin membutuhkan guru—bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai penjaga kemanusiaan dalam pendidikan.
(rca)
Lihat Juga :