Pameran Seni Rupa UMB, Menafisr Ulang Peran Perempuan lewat Karya 17 Dosen
Selasa, 25 November 2025 - 16:51 WIB
loading...
A
A
A
Kurator pameran Ananta Hari Noorsasetya mengangkat reinterpretasi atas diksi “Empu” yang selama ini identik dengan tokoh ahli dalam tradisi Nusantara. Dalam konteks ekshibisi ini, “Empu” dimaknai ulang sebagai arketipe perempuan yang otonom, aktif, dan multivalent dalam produksi artistik.
Konsep kuratorial tersebut disusun melalui tiga poros pemikiran yang menautkan memori kolektif dengan dinamika perempuan modern sekaligus membuka ruang bagi kritik sosial yang berkelanjutan.
Sebanyak 17 perupa perempuan yang merupakan dosen FDSK UMB ambil bagian dalam pameran ini, termasuk Anggi Dwi Astuti, Nina Maftukha, Rika Hindraruminggar, Dwi Ramayanti, Nukke Sylvia, Nurlela, Waridah Muti’ah, Fatimah Yasmin Hasni, Ariani Kusumo Wardhani, Mira Zulia Suriastuti, Wilsa Pratiwi, Chandrarezky Permatasari, Vania Aqmarani, Dwi Susilastuti, Novena Ulita, serta komunitas alumni Horsasi. Pameran juga menghadirkan perupa tamu Irma Priscilla Hadisurya.
Para perupa mengolah pengalaman personal dan trauma kolektif melalui eksperimen visual yang beragam. Mereka menerjemahkan narasi-narasi tersebut ke dalam bahasa rupa kekinian yang menyoroti kekuatan interseksionalitas sebagai sumber kreativitas dan kritik sosial.
Penyelenggara berharap “PerEMPUan” dapat menjadi katalis bagi percakapan mengenai otonomi, agensi, dan kontribusi perempuan dalam seni rupa Indonesia. Pameran ini juga direncanakan menjadi agenda dua tahunan untuk menjaga kesinambungan diskursus.
Konsep kuratorial tersebut disusun melalui tiga poros pemikiran yang menautkan memori kolektif dengan dinamika perempuan modern sekaligus membuka ruang bagi kritik sosial yang berkelanjutan.
Sebanyak 17 perupa perempuan yang merupakan dosen FDSK UMB ambil bagian dalam pameran ini, termasuk Anggi Dwi Astuti, Nina Maftukha, Rika Hindraruminggar, Dwi Ramayanti, Nukke Sylvia, Nurlela, Waridah Muti’ah, Fatimah Yasmin Hasni, Ariani Kusumo Wardhani, Mira Zulia Suriastuti, Wilsa Pratiwi, Chandrarezky Permatasari, Vania Aqmarani, Dwi Susilastuti, Novena Ulita, serta komunitas alumni Horsasi. Pameran juga menghadirkan perupa tamu Irma Priscilla Hadisurya.
Para perupa mengolah pengalaman personal dan trauma kolektif melalui eksperimen visual yang beragam. Mereka menerjemahkan narasi-narasi tersebut ke dalam bahasa rupa kekinian yang menyoroti kekuatan interseksionalitas sebagai sumber kreativitas dan kritik sosial.
Penyelenggara berharap “PerEMPUan” dapat menjadi katalis bagi percakapan mengenai otonomi, agensi, dan kontribusi perempuan dalam seni rupa Indonesia. Pameran ini juga direncanakan menjadi agenda dua tahunan untuk menjaga kesinambungan diskursus.
(jon)
Lihat Juga :