Polemik Pemakzulan Gus Yahya PBNU, Gus Nadir: Matinya Roda Jam'iyyah Kami
Minggu, 23 November 2025 - 17:29 WIB
loading...
A
A
A
Padahal, aturan mengharuskan empat tanda tangan yakni Rais ‘Am, Katib ‘Am, Ketum, dan Sekjen. “Ini bukan lagi soal organisasi yang macet. Ini soal mesin yang mati dan dibiarkan karatan selama berbulan-bulan,” ujar Gus Nadir.
Dia menuturkan masing-masing kubu berjalan sendiri-sendiri. Jama’ah Nahdliyin bergerak tanpa arahan, tanpa bimbingan, tanpa kepemimpinan PBNU. Roda terkunci mati. Wa ba’du, jam’iyyah ini sakit parah. Kehilangan marwah, kehilangan arah. Bukan melayani jama’ah, bahkan menggerakkan roda organisasi saja sudah tak sanggup. AD/ART sudah menjadi dokumen mati.
Tagline ingin “menghidupkan kembali Gus Dur” kenyataannya sikap kritis justru hilang sama sekali. Mengaku ingin “governing NU”, tapi tata kelola PBNU sendiri remuk redam. Mengibarkan bendera khittah, malah tercebur dalam kubangan dukung-mendukung Pilpres.
Gus Nadir menambahkan niatan mengaku berkhidmat untuk bangsa malah gaduh sendiri soal tambang. Bicara ingin membangun peradaban dunia, tapi yang diundang justru tokoh zionis perusak peradaban.
“Satu Abad NU bukan dirayakan dengan kejayaan, tapi dilewati dengan perih dan prihatin yang menyesakkan dada. Mau sampai kapan kondisi jam’iyyah dibiarkan begini?” katanya.
Dia menuturkan masing-masing kubu berjalan sendiri-sendiri. Jama’ah Nahdliyin bergerak tanpa arahan, tanpa bimbingan, tanpa kepemimpinan PBNU. Roda terkunci mati. Wa ba’du, jam’iyyah ini sakit parah. Kehilangan marwah, kehilangan arah. Bukan melayani jama’ah, bahkan menggerakkan roda organisasi saja sudah tak sanggup. AD/ART sudah menjadi dokumen mati.
Tagline ingin “menghidupkan kembali Gus Dur” kenyataannya sikap kritis justru hilang sama sekali. Mengaku ingin “governing NU”, tapi tata kelola PBNU sendiri remuk redam. Mengibarkan bendera khittah, malah tercebur dalam kubangan dukung-mendukung Pilpres.
Gus Nadir menambahkan niatan mengaku berkhidmat untuk bangsa malah gaduh sendiri soal tambang. Bicara ingin membangun peradaban dunia, tapi yang diundang justru tokoh zionis perusak peradaban.
“Satu Abad NU bukan dirayakan dengan kejayaan, tapi dilewati dengan perih dan prihatin yang menyesakkan dada. Mau sampai kapan kondisi jam’iyyah dibiarkan begini?” katanya.
(jon)
Lihat Juga :