FORMs, Platform Digital Twin Karya Anak Bangsa Jawab Tantangan Karhutla Global
Kamis, 20 November 2025 - 18:59 WIB
loading...
Indonesia memperkenalkan FORMS, platform Digital Twin saat perhelatan COP30, Brasil. Platform karya anak bangsa itu disebut-sebut sebagai game changer dalam mengatasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Indonesia memperkenalkan FORMS, platform Digital Twin saat perhelatan COP30, Brasil. Platform karya anak bangsa itu disebut-sebut sebagai game changer dalam mengatasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
"Kita tidak bisa lagi hanya memadamkan api setelah membesar. Kita harus mencegahnya sebelum terjadi. FORMS hadir untuk itu," kata Dosen ITB Armi Susandi dalam sesi dialog "Uniting Forces" di Paviliun Indonesia, Kamis (20/11/2025).
Hadir dalam dialog tersebut Fathan Subchi dari BPK RI, Rodrigo Corradi dari ICLEI Brasil, dan Adi Yani dari Dinas LHK Kalimantan Barat. "Konsep Digital Twin pada FORMS ibarat menciptakan bayangan digital dari hutan dan lahan gambut Indonesia," ujarnya.
Baca juga: Diseminasi Informasi Upaya Penting Cegah Karhutla
Dalam dunia virtual ini, berbagai skenario dapat dijalankan bagaimana api akan menyebar, area mana yang paling rentan, dan bagaimana dampak asapnya semuanya dapat diprediksi dengan bantuan kecerdasan buatan dan komputasi canggih.
Armi yang pernah 5 tahun melakukan penelitian di Max Planck Institute for Meteorology, Jerman ini menjelaskan keunggulan utama FORMS terletak pada pendekatannya yang menyeluruh. "Ini bukan sekadar sistem peringatan dini. Ini adalah platform manajemen risiko yang integratif dari hulu ke hilir," ungkapnya.
Salah satu keunggulan FORMS yang mendapat sorotan adalah kemampuannya mengintegrasikan faktor manusia ke dalam model prediksi. Platform ini dapat menganalisis data sosial-ekonomi dan mengidentifikasi area dengan potensi tinggi terjadinya pembakaran ilegal, sehingga intervensi dapat dilakukan lebih tepat sasaran.
FORMS juga terhubung dengan RIMBA Consortium, sebuah jejaring yang dibangun Armi untuk mengonsolidasikan data dan expertise dari berbagai pemangku kepentingan.
Untuk mewujudkan FORMS sebagai tulang punggung sistem penanganan karhutla Indonesia, Armi menyoroti empat prasyarat kunci. Pertama, data yang kaya dan beragam.
Selain data satelit, data lapangan dari sensor IoT (Internet of Things) dan patroli darat sangat vital untuk memberi makan model digital twin agar akurat. Kedua, regenerasi pemikir digital yakni membangun talenta muda yang tidak hanya paham teknologi, tetapi juga mengerti konteks lingkungan dan kebencanaan.
Ketiga, Command Center Terpadu. FORMS harus menjadi otak bagi BNPB, BPBD, dan instansi terkait lainnya yang memungkinkan komando dan koordinasi respons yang lebih cepat dan terpadu.
Keempat, legitimasi operasional. Pemerintah perlu menerbitkan regulasi yang menjadikan FORMS sebagai sistem nasional dengan alokasi anggaran dan mandat yang jelas untuk penggunaannya.
Keberhasilan Armi mempresentasikan FORMS di COP30 tidak hanya sekadar menunjukkan kecanggihan teknologi, tetapi juga membuktikan bahwa putra-putri Indonesia mampu menghasilkan solusi kelas dunia untuk masalah lingkungan global. FORMS adalah bukti bahwa melawan perubahan iklim memerlukan inovasi dan Armi Susandi berada di garis depan inovasi tersebut.
"Kita tidak bisa lagi hanya memadamkan api setelah membesar. Kita harus mencegahnya sebelum terjadi. FORMS hadir untuk itu," kata Dosen ITB Armi Susandi dalam sesi dialog "Uniting Forces" di Paviliun Indonesia, Kamis (20/11/2025).
Hadir dalam dialog tersebut Fathan Subchi dari BPK RI, Rodrigo Corradi dari ICLEI Brasil, dan Adi Yani dari Dinas LHK Kalimantan Barat. "Konsep Digital Twin pada FORMS ibarat menciptakan bayangan digital dari hutan dan lahan gambut Indonesia," ujarnya.
Baca juga: Diseminasi Informasi Upaya Penting Cegah Karhutla
Dalam dunia virtual ini, berbagai skenario dapat dijalankan bagaimana api akan menyebar, area mana yang paling rentan, dan bagaimana dampak asapnya semuanya dapat diprediksi dengan bantuan kecerdasan buatan dan komputasi canggih.
Armi yang pernah 5 tahun melakukan penelitian di Max Planck Institute for Meteorology, Jerman ini menjelaskan keunggulan utama FORMS terletak pada pendekatannya yang menyeluruh. "Ini bukan sekadar sistem peringatan dini. Ini adalah platform manajemen risiko yang integratif dari hulu ke hilir," ungkapnya.
Salah satu keunggulan FORMS yang mendapat sorotan adalah kemampuannya mengintegrasikan faktor manusia ke dalam model prediksi. Platform ini dapat menganalisis data sosial-ekonomi dan mengidentifikasi area dengan potensi tinggi terjadinya pembakaran ilegal, sehingga intervensi dapat dilakukan lebih tepat sasaran.
FORMS juga terhubung dengan RIMBA Consortium, sebuah jejaring yang dibangun Armi untuk mengonsolidasikan data dan expertise dari berbagai pemangku kepentingan.
Untuk mewujudkan FORMS sebagai tulang punggung sistem penanganan karhutla Indonesia, Armi menyoroti empat prasyarat kunci. Pertama, data yang kaya dan beragam.
Selain data satelit, data lapangan dari sensor IoT (Internet of Things) dan patroli darat sangat vital untuk memberi makan model digital twin agar akurat. Kedua, regenerasi pemikir digital yakni membangun talenta muda yang tidak hanya paham teknologi, tetapi juga mengerti konteks lingkungan dan kebencanaan.
Ketiga, Command Center Terpadu. FORMS harus menjadi otak bagi BNPB, BPBD, dan instansi terkait lainnya yang memungkinkan komando dan koordinasi respons yang lebih cepat dan terpadu.
Keempat, legitimasi operasional. Pemerintah perlu menerbitkan regulasi yang menjadikan FORMS sebagai sistem nasional dengan alokasi anggaran dan mandat yang jelas untuk penggunaannya.
Keberhasilan Armi mempresentasikan FORMS di COP30 tidak hanya sekadar menunjukkan kecanggihan teknologi, tetapi juga membuktikan bahwa putra-putri Indonesia mampu menghasilkan solusi kelas dunia untuk masalah lingkungan global. FORMS adalah bukti bahwa melawan perubahan iklim memerlukan inovasi dan Armi Susandi berada di garis depan inovasi tersebut.
(jon)
Lihat Juga :