Tantangan Penyakit Menular Kita
Minggu, 16 November 2025 - 21:20 WIB
loading...
A
A
A
Satu dari sepuluh kasus tuberkulosis dunia adalah dari Indonesia. Sebenarnya kita sudah punya Peraturan Presiden (PERPRES) Nomor 67 Tahun 2021 tentang penanggulangan tuberkulosis, yang punya target eliminasi tuberkulosis di negara kita pada 2030. Kalau kita lihat perkembangan data sampai tahun 2025 ini maka nampaknya akan banyak sekali tantangan yang harus dihadapi untuk mencapat tantangan eliminasi di lima tahun lagi itu.
Tentu kita menyambut baik bahwa pengendalian tuberkulosis masuk dalam salah satu prioritas kesehatan pemerintah Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam Asta Citanya. Disebutkan bahwa program "Quick Win" untuk Tuberkulosis Asta Cita bertujuan untuk mempercepat penanggulangan TB di Indonesia, dengan fokus pada deteksi dini, pengobatan yang efektif, dan pencegahan penularan.
Program ini menekankan pentingnya upaya terpadu dan kolaborasi lintas sektor untuk mencapai target eliminasi TB pada tahun 2030. Setidaknya ada delapan strategi yang dipilih, yaitu deteksi aktif (“Active Case Finding”), penguatan notifikasi kasus, pengobatan yang efektif dan lengkap serta edukasi dan pencegahan penularan. Lalu, perlu diterapkan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT), pemanfaatan teknologi, kolaborasi lintas sektor serta kemungkinan fokus pada wilayah endemis.
Di Agustus 2025 ini juga datang tim internasional “Joint Evaluation Monitoring Mission - JEMM” tuberkulosis yang akan melakukan sedikitnya tiga hal tentang program penanggulangan TB di negara kita. Pertama adalah menilai apa yang kini sudah terjadi, ke dua apa yang perlu dilakukan oleh semua pihak terkait dan ke tiga menilai apakah saja masalah terbesar yang sudah dihadapi dalam melaksanakan rekomendasi JEMM TB tahun 2022 yang lalu. Diharapkan hasil JEMM TB 2025 ini dapat menjadi salah satu acuan penting untuk arah ke depan yang akan kita lakukan dalam pengendalian tuberkulosis di negara kita.
Selain tuberkulosis, Indonesia adalah negara dengan kasus kusta nomor tiga terbanyak di dunia, setelah India dan Brazil. Data Kementerian Kesehatan 2025 (sampai 31 Mei 2025) maka di negara kita ada 3.716 kasus baru kusta, jadi masih ada ribuan pasien kusta baru di negara kita di 80 tahun kemerdekaan bangsa sekarang ini.
Strategi Umum Pengentasan Kusta di negara kita adalah peningkatan penemuan kasus, agar dapat ditangani dengan baik. Ini dilakukan mengingat setidaknya ada tiga permasalahan yang perlu ditanggulangi. Pertama adalah masih rendahnya penemuan kasus dibanding estimasi jumlah kasus yang ada, yaitu baru 38,9% sesuai data tahun 2024.
Ke dua, cakupan kemoprofilaksis yang juga masih rendah, yaitu 13.9% di tahun 2024, apalagi kalau mengingat adanya target 80%. Ke tiga, cakupan pengobatan selesai tepat waktu masih di angka 84%. Sebulan sebelum peringatan 80 tahun kemerdekaan, di Juli 2025 di Bali diselenggarakan Kongres internasional kusta, “The 22nd International Leprosy Congress (ILC)”. Mudah-mudahan acara internasional ini punya dampak juga bagi pengendalian kusta di negara kita.
Tentu saja masih ada tantangan berbagai penyakit menular lain di negara kita. Beberapa yang penting diantaranya adalah malaria, HIV/AIDS, penyakit menular sexual, demam berdarah dengue, penyakit zoonosis, ISPA, hepatitis dll., yang semuanya punya dinamika masalah dan berbagai tantangannya yang harus diatasi.
Patut juga diketahui bahwa kita masih menghadapi berbagai masalah penyakit tropik terabaikan (“neglected tropical diseases - NTD”), yang terdiri dari berbagai penyakit yang punya aspek kesehatan, sosial dan ekonomi.
Tentu kita menyambut baik bahwa pengendalian tuberkulosis masuk dalam salah satu prioritas kesehatan pemerintah Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam Asta Citanya. Disebutkan bahwa program "Quick Win" untuk Tuberkulosis Asta Cita bertujuan untuk mempercepat penanggulangan TB di Indonesia, dengan fokus pada deteksi dini, pengobatan yang efektif, dan pencegahan penularan.
Program ini menekankan pentingnya upaya terpadu dan kolaborasi lintas sektor untuk mencapai target eliminasi TB pada tahun 2030. Setidaknya ada delapan strategi yang dipilih, yaitu deteksi aktif (“Active Case Finding”), penguatan notifikasi kasus, pengobatan yang efektif dan lengkap serta edukasi dan pencegahan penularan. Lalu, perlu diterapkan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT), pemanfaatan teknologi, kolaborasi lintas sektor serta kemungkinan fokus pada wilayah endemis.
Di Agustus 2025 ini juga datang tim internasional “Joint Evaluation Monitoring Mission - JEMM” tuberkulosis yang akan melakukan sedikitnya tiga hal tentang program penanggulangan TB di negara kita. Pertama adalah menilai apa yang kini sudah terjadi, ke dua apa yang perlu dilakukan oleh semua pihak terkait dan ke tiga menilai apakah saja masalah terbesar yang sudah dihadapi dalam melaksanakan rekomendasi JEMM TB tahun 2022 yang lalu. Diharapkan hasil JEMM TB 2025 ini dapat menjadi salah satu acuan penting untuk arah ke depan yang akan kita lakukan dalam pengendalian tuberkulosis di negara kita.
Selain tuberkulosis, Indonesia adalah negara dengan kasus kusta nomor tiga terbanyak di dunia, setelah India dan Brazil. Data Kementerian Kesehatan 2025 (sampai 31 Mei 2025) maka di negara kita ada 3.716 kasus baru kusta, jadi masih ada ribuan pasien kusta baru di negara kita di 80 tahun kemerdekaan bangsa sekarang ini.
Strategi Umum Pengentasan Kusta di negara kita adalah peningkatan penemuan kasus, agar dapat ditangani dengan baik. Ini dilakukan mengingat setidaknya ada tiga permasalahan yang perlu ditanggulangi. Pertama adalah masih rendahnya penemuan kasus dibanding estimasi jumlah kasus yang ada, yaitu baru 38,9% sesuai data tahun 2024.
Ke dua, cakupan kemoprofilaksis yang juga masih rendah, yaitu 13.9% di tahun 2024, apalagi kalau mengingat adanya target 80%. Ke tiga, cakupan pengobatan selesai tepat waktu masih di angka 84%. Sebulan sebelum peringatan 80 tahun kemerdekaan, di Juli 2025 di Bali diselenggarakan Kongres internasional kusta, “The 22nd International Leprosy Congress (ILC)”. Mudah-mudahan acara internasional ini punya dampak juga bagi pengendalian kusta di negara kita.
Tentu saja masih ada tantangan berbagai penyakit menular lain di negara kita. Beberapa yang penting diantaranya adalah malaria, HIV/AIDS, penyakit menular sexual, demam berdarah dengue, penyakit zoonosis, ISPA, hepatitis dll., yang semuanya punya dinamika masalah dan berbagai tantangannya yang harus diatasi.
Patut juga diketahui bahwa kita masih menghadapi berbagai masalah penyakit tropik terabaikan (“neglected tropical diseases - NTD”), yang terdiri dari berbagai penyakit yang punya aspek kesehatan, sosial dan ekonomi.
Lihat Juga :