Didominasi Generasi Y dan Z, LAN Dorong Widyaiswara Ciptakan Pembelajaran yang Adaptif
Minggu, 16 November 2025 - 16:39 WIB
loading...
Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) Muhammad Taufiq mengukuhkan tujuh widyaiswara. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Badan Kepegawaian Negara (BKN) mencatat jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia mencapai 5.359.209 orang. Jumlah tersebut berdasarkan laporan per 1 September 2025.
Berdasarkan angka tersebut tercatat Generasi Y lahir 1977–1994 menjadi kelompok terbesar dengan proporsi 57% dari total ASN. Disusul Generasi X yang lahir pada 1965–1976 sebesar 30%, Generasi Z 1995–2010 sebesar 12%, dan Baby Boomers 1946–1964 yang tinggal 1%. Artinya, tenaga kerja ASN saat ini didominasi oleh kelompok usia produktif yang relatif matang, dengan tambahan generasi muda yang mulai masuk.
Komposisi tersebut, menuntut pola pembelajaran yang semakin adaptif terhadap karakter tiap generasi. Perbedaan cara berpikir, gaya belajar, hingga preferensi teknologi menjadikan kebutuhan pengembangan kompetensi ASN tidak lagi bisa diseragamkan.
Baca juga: Sepanjang Sesuai UU ASN, Penugasan Anggota Polri di Luar Institusi Dinilai Tetap Sah
“Setiap widyaiswara dituntut untuk senantiasa mengembangkan diri dan pengetahuan khusus pada pembelajaran multi generasi,” ujar Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) Muhammad Taufiq dalam acara Pengukuhan Widyaiswara Ahli Utama, di Aula Prof. Agus Dwiyanto, di Kantor LAN, Jakarta, dikutip Minggu (16/11/2025).
Menurut Agus, transformasi birokrasi saat ini menuntut agar proses pembelajaran dan pengembangan kompetensi tidak bersifat one fit for all, melainkan adaptif terhadap karakter dan kebutuhan berbeda di setiap lintas generasi. Jangan hanya mengandalkan metode lama, melainkan kembangkan pola pembelajaran untuk Generasi X, Y, dan Z yang memiliki pendekatan berbeda-beda.
Baca juga: MK Perintahkan Bentuk Lembaga Independen Pengawas ASN, Mensesneg: Semangatnya Positif
“Dengan komposisi ASN yang kini multigenerasi dan dinamis, pengembangan kompetensi aparatur publik menjadi semakin kompleks tetapi juga penuh peluang. Sebagai Widyaiswara Utama, tanggung jawab bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga merancang dan mengelola pembelajaran yang tepat sasaran untuk Generasi X, Y dan Z,” jelasnya
Muhammad Taufiq juga mengatakan widyaiswara utama harus berada di garis depan dalam merespons perubahan birokrasi, terutama dalam penyusunan kurikulum, model pembelajaran, dan inovasi metode penyampaian materi. Melalui pemahaman karakter generasi, widyaiswara diharapkan lebih selektif memilih pendekatan.
Taufiq mencontohkan beberapa pola pembelajaran multigenerasi, Generasi X cenderung menghargai struktur, pengalaman, dan pembelajaran berbasis praktik. Generasi Y (Millennial) lebih responsif terhadap pembelajaran kolaboratif, fleksibel, dan relevan dengan perkembangan zaman dan terakhir, Generasi Z membutuhkan pendekatan cepat, digital, visual, serta pengalaman belajar yang interaktif.
“Pemahaman mendalam terhadap dinamika tersebut dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran dan memperkuat kapasitas ASN dalam menjawab tantangan birokrasi modern” tandasnya.
Muhammad Taufiq berharap 7 Widyaiswara yang saat ini dikukuhkan dapat terus menjadi pilar utama peningkatan kualitas aparatur, terutama dalam mendorong birokrasi yang adaptif, profesional, dan responsif dan berdampak terhadap kebutuhan masyarakat.
Berikut nama-nama Widyaiswara yang dikukuhkan:
1. Ir. Abdul Hakim, M.For.St.- Kementerian Kehutanan
2.Prof. (R) Dr. Ir. Eko Winar Irianto, M.T. - Kementerian Pekerjaan Umum
3. Ir. Taufik Rachman, M.Si. - Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Kalimantan Selatan
4. Dr. H. Sudrajat, M.Pd. - Kementerian Dalam Negeri
5. Drs. Suparjana, M.A. - Kementerian Dalam Negeri
6. Dr. Drs. Hariawan Bihamding, M.T. - Kementerian Dalam Negeri
7.Drs. Cukup Wibowo, M.M.Pd., M.Pd. - Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat
Berdasarkan angka tersebut tercatat Generasi Y lahir 1977–1994 menjadi kelompok terbesar dengan proporsi 57% dari total ASN. Disusul Generasi X yang lahir pada 1965–1976 sebesar 30%, Generasi Z 1995–2010 sebesar 12%, dan Baby Boomers 1946–1964 yang tinggal 1%. Artinya, tenaga kerja ASN saat ini didominasi oleh kelompok usia produktif yang relatif matang, dengan tambahan generasi muda yang mulai masuk.
Komposisi tersebut, menuntut pola pembelajaran yang semakin adaptif terhadap karakter tiap generasi. Perbedaan cara berpikir, gaya belajar, hingga preferensi teknologi menjadikan kebutuhan pengembangan kompetensi ASN tidak lagi bisa diseragamkan.
Baca juga: Sepanjang Sesuai UU ASN, Penugasan Anggota Polri di Luar Institusi Dinilai Tetap Sah
“Setiap widyaiswara dituntut untuk senantiasa mengembangkan diri dan pengetahuan khusus pada pembelajaran multi generasi,” ujar Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) Muhammad Taufiq dalam acara Pengukuhan Widyaiswara Ahli Utama, di Aula Prof. Agus Dwiyanto, di Kantor LAN, Jakarta, dikutip Minggu (16/11/2025).
Menurut Agus, transformasi birokrasi saat ini menuntut agar proses pembelajaran dan pengembangan kompetensi tidak bersifat one fit for all, melainkan adaptif terhadap karakter dan kebutuhan berbeda di setiap lintas generasi. Jangan hanya mengandalkan metode lama, melainkan kembangkan pola pembelajaran untuk Generasi X, Y, dan Z yang memiliki pendekatan berbeda-beda.
Baca juga: MK Perintahkan Bentuk Lembaga Independen Pengawas ASN, Mensesneg: Semangatnya Positif
“Dengan komposisi ASN yang kini multigenerasi dan dinamis, pengembangan kompetensi aparatur publik menjadi semakin kompleks tetapi juga penuh peluang. Sebagai Widyaiswara Utama, tanggung jawab bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga merancang dan mengelola pembelajaran yang tepat sasaran untuk Generasi X, Y dan Z,” jelasnya
Muhammad Taufiq juga mengatakan widyaiswara utama harus berada di garis depan dalam merespons perubahan birokrasi, terutama dalam penyusunan kurikulum, model pembelajaran, dan inovasi metode penyampaian materi. Melalui pemahaman karakter generasi, widyaiswara diharapkan lebih selektif memilih pendekatan.
Taufiq mencontohkan beberapa pola pembelajaran multigenerasi, Generasi X cenderung menghargai struktur, pengalaman, dan pembelajaran berbasis praktik. Generasi Y (Millennial) lebih responsif terhadap pembelajaran kolaboratif, fleksibel, dan relevan dengan perkembangan zaman dan terakhir, Generasi Z membutuhkan pendekatan cepat, digital, visual, serta pengalaman belajar yang interaktif.
“Pemahaman mendalam terhadap dinamika tersebut dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran dan memperkuat kapasitas ASN dalam menjawab tantangan birokrasi modern” tandasnya.
Muhammad Taufiq berharap 7 Widyaiswara yang saat ini dikukuhkan dapat terus menjadi pilar utama peningkatan kualitas aparatur, terutama dalam mendorong birokrasi yang adaptif, profesional, dan responsif dan berdampak terhadap kebutuhan masyarakat.
Berikut nama-nama Widyaiswara yang dikukuhkan:
1. Ir. Abdul Hakim, M.For.St.- Kementerian Kehutanan
2.Prof. (R) Dr. Ir. Eko Winar Irianto, M.T. - Kementerian Pekerjaan Umum
3. Ir. Taufik Rachman, M.Si. - Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Kalimantan Selatan
4. Dr. H. Sudrajat, M.Pd. - Kementerian Dalam Negeri
5. Drs. Suparjana, M.A. - Kementerian Dalam Negeri
6. Dr. Drs. Hariawan Bihamding, M.T. - Kementerian Dalam Negeri
7.Drs. Cukup Wibowo, M.M.Pd., M.Pd. - Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat
(cip)
Lihat Juga :