Gelar Pahlawan Soeharto, Dekan FISIP UAI: Menghargai Semua Pemimpin Cermin Kedewasaan Bangsa
Minggu, 09 November 2025 - 17:57 WIB
loading...
Dekan FISIP Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Dr Heri Herdiawanto menilai pentingnya sikap arif, objektif, dan rekonsiliatif dalam menyikapi pro kontra pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Dr Heri Herdiawanto menilai pentingnya sikap arif, objektif, dan rekonsiliatif dalam menyikapi pro dan kontra wacana pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden Ke-2 RI Soeharto. Menghormati kontribusi setiap tokoh, termasuk para pemimpin bangsa di masa lalu merupakan cermin kedewasaan dalam berbangsa dan bernegara.
“Setiap pemimpin bangsa memiliki jasa dan perannya masing-masing dalam membangun Indonesia. Menghargai mereka secara proporsional adalah wujud kematangan kita sebagai bangsa besar,” ujar Heri di Jakarta, Minggu (9/11/2025).
Baca juga: Saatnya Berdamai dengan Sejarah melalui Pemberian Gelar Pahlawan Nasional
Perbedaan pandangan di masyarakat seharusnya tidak dijadikan sumber perpecahan melainkan momentum memperkuat kesadaran sejarah dan semangat kebangsaan.
“Bangsa besar adalah bangsa yang mampu menilai sejarahnya dengan jujur dan adil, bukan berdasarkan emosi. Kita perlu menempatkan setiap tokoh nasional dalam konteks zamannya dan menghormati jasa mereka tanpa meniadakan sisi kritis,” ungkapnya.
Heri berharap para tokoh nasional, terutama yang memiliki pengaruh besar di ruang publik dapat memberikan keteladanan dengan menebarkan semangat positif dan rekonsiliatif demi menjaga kesejukan sosial politik bangsa.
![Gelar Pahlawan Soeharto, Dekan FISIP UAI: Menghargai Semua Pemimpin Cermin Kedewasaan Bangsa]()
Dekan FISIP Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Dr Heri Herdiawanto. Foto: Ist
Dia juga mengingatkan pentingnya tradisi memaafkan walaupun sulit melupakan sebagai bagian dari budaya luhur bangsa Indonesia.
“Opus politik harus dibedakan dengan etika dan nilai-nilai kebangsaan. Salah satu ciri bangsa beradab adalah kemampuannya membangun budaya menghargai jasa para pemimpin tanpa kehilangan daya kritis terhadap sejarah,” ujarnya.
Dia mengajak seluruh elemen bangsa menatap masa depan dengan optimisme dan semangat persatuan. “Kedewasaan bangsa tidak diukur dari seberapa keras kita berdebat, tetapi dari seberapa besar kita mampu menghargai perbedaan dan jasa para pemimpin yang telah berbuat untuk negeri ini,” kata Heri.
“Setiap pemimpin bangsa memiliki jasa dan perannya masing-masing dalam membangun Indonesia. Menghargai mereka secara proporsional adalah wujud kematangan kita sebagai bangsa besar,” ujar Heri di Jakarta, Minggu (9/11/2025).
Baca juga: Saatnya Berdamai dengan Sejarah melalui Pemberian Gelar Pahlawan Nasional
Perbedaan pandangan di masyarakat seharusnya tidak dijadikan sumber perpecahan melainkan momentum memperkuat kesadaran sejarah dan semangat kebangsaan.
“Bangsa besar adalah bangsa yang mampu menilai sejarahnya dengan jujur dan adil, bukan berdasarkan emosi. Kita perlu menempatkan setiap tokoh nasional dalam konteks zamannya dan menghormati jasa mereka tanpa meniadakan sisi kritis,” ungkapnya.
Heri berharap para tokoh nasional, terutama yang memiliki pengaruh besar di ruang publik dapat memberikan keteladanan dengan menebarkan semangat positif dan rekonsiliatif demi menjaga kesejukan sosial politik bangsa.

Dekan FISIP Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Dr Heri Herdiawanto. Foto: Ist
Dia juga mengingatkan pentingnya tradisi memaafkan walaupun sulit melupakan sebagai bagian dari budaya luhur bangsa Indonesia.
“Opus politik harus dibedakan dengan etika dan nilai-nilai kebangsaan. Salah satu ciri bangsa beradab adalah kemampuannya membangun budaya menghargai jasa para pemimpin tanpa kehilangan daya kritis terhadap sejarah,” ujarnya.
Dia mengajak seluruh elemen bangsa menatap masa depan dengan optimisme dan semangat persatuan. “Kedewasaan bangsa tidak diukur dari seberapa keras kita berdebat, tetapi dari seberapa besar kita mampu menghargai perbedaan dan jasa para pemimpin yang telah berbuat untuk negeri ini,” kata Heri.
(jon)
Lihat Juga :