Pemberian Gelar Pahlawan Soeharto Jadi Momentum Laboratorium Rekonsiliasi
Minggu, 09 November 2025 - 17:01 WIB
loading...
Pemberian gelar pahlawan nasional kepada mantan Presiden Soeharto menjadi momentum rekonsiliasi, bukan tempat penyimpanan arsip dendam. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Pemberian gelar pahlawan nasional kepada mantan Presiden Soeharto menjadi momentum rekonsiliasi, bukan tempat penyimpanan arsip dendam. Gelar pahlawan Soeharto saat ini menuai beragam tanggapan.
“Kalau setiap luka masa lalu dijadikan ukuran nanti sejarah kita isinya cuma duka, bukan pelajaran. Republik ini dibangun dari rekonsiliasi, bukan dari buku harian masa lalu yang terus dibuka-buka setiap generasi,” ujar Direktur Eksekutif Nusantara Parameter Indeks (NPI) Murmahudi, Minggu (9/11/2025).
Baca juga: Gelar Pahlawan untuk Soeharto Bentuk Penghormatan pada Tokoh Bangsa
Menurut dia, jasa Soeharto tidak bisa dihapus hanya karena catatan kelam politiknya. “Apa pun pandangannya, beliau memimpin Indonesia lebih dari tiga dekade, membangun infrastruktur, stabilitas, dan ekonomi nasional. Tidak semua sejarah itu putih, tapi bukan berarti semua yang kelam jadi hitam pekat,” ungkapnya.
![Pemberian Gelar Pahlawan Soeharto Jadi Momentum Laboratorium Rekonsiliasi]()
Direktur Eksekutif Nusantara Parameter Indeks (NPI) Murmahudi. Foto: Ist
Dia menuturkan kalau keluarga korban politik lain boleh menolak tokoh tertentu, maka negara ini bisa bubar karena semua merasa paling terluka.
“Jika dendam diwariskan nanti generasi muda belajar politik bukan dari ide, tapi dari iri dan luka. Lalu apa bedanya dengan feodalisme keluarga bangsawan yang dulu kita lawan bersama?” ucap Murmahudi.
“Kalau setiap luka masa lalu dijadikan ukuran nanti sejarah kita isinya cuma duka, bukan pelajaran. Republik ini dibangun dari rekonsiliasi, bukan dari buku harian masa lalu yang terus dibuka-buka setiap generasi,” ujar Direktur Eksekutif Nusantara Parameter Indeks (NPI) Murmahudi, Minggu (9/11/2025).
Baca juga: Gelar Pahlawan untuk Soeharto Bentuk Penghormatan pada Tokoh Bangsa
Menurut dia, jasa Soeharto tidak bisa dihapus hanya karena catatan kelam politiknya. “Apa pun pandangannya, beliau memimpin Indonesia lebih dari tiga dekade, membangun infrastruktur, stabilitas, dan ekonomi nasional. Tidak semua sejarah itu putih, tapi bukan berarti semua yang kelam jadi hitam pekat,” ungkapnya.

Direktur Eksekutif Nusantara Parameter Indeks (NPI) Murmahudi. Foto: Ist
Dia menuturkan kalau keluarga korban politik lain boleh menolak tokoh tertentu, maka negara ini bisa bubar karena semua merasa paling terluka.
“Jika dendam diwariskan nanti generasi muda belajar politik bukan dari ide, tapi dari iri dan luka. Lalu apa bedanya dengan feodalisme keluarga bangsawan yang dulu kita lawan bersama?” ucap Murmahudi.
(jon)
Lihat Juga :