Quovadis Ahli Gizi dalam MBG

Jum'at, 07 November 2025 - 15:22 WIB
loading...
Quovadis Ahli Gizi dalam...
Ni Ketut Aryastami - Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Foto/Dok pribadi
A A A
Ni Ketut Aryastami
Peneliti Ahli Utama, Deputi Kebijakan Riset dan Inovasi BRIN

Makanan Bergizi Gratis menjadi salah satu topik aktual yang ramai diperbincangkan di Masyarakat dan media sosial. Makanan bergizi memiliki filosofi penting dalam upaya mencetak Generasi Emas. Kebijakan Makanan Bergizi Gratis dilaksanakan sebagai wujud janji politik Presiden yang diturunkan melalui Perpres 83/2024 tentang Badan Gizi Nasional (BGN). BGN bertugas melaksanakan pemenuhan gizi nasional termasuk pelaksanaan dukungan yang bersifat substantif kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Badan Gizi Nasional.
Malnutrisi dan Masalah Bangsa

Gizi merupakan kebutuhan dasar setiap mahluk hidup. Kebutuhan gizi dapat dipenuhi dengan asupan makanan sebagai zat gizi makro, yang mengandung karbohidrat, protein dan lemak dan mengikat zat gizi mikro berupa vitamin, mineral dan trace element.

Malnutrisi adalah sebuah kondisi salah gizi, yang bisa muncul sebagai kurang gizi (stunting dan wasting), gizi lebih (gemuk dan obesitas), atau defisiensi gizi (kurang vitamin/mineral). Masalah gizi berdampak pada status Kesehatan penduduk dan terutama pada indeks daya saing (IDS) bangsa.

Terkait IDS, kanal CNBC menyebutkan tahun 2016 Indonesia masuk peringkat 48 dan menjadi peringkat 32 tahun 2019, namun turun peringkat 40 pada tahun 2020. Hal ini tentu tidak secara langsung berkaitan dengan masalah gizi, tetapi masalah ekonomi dan lain-lain. Namun gizi sebagai fondasi Kesehatan memiliki andil besar seperti yang sudah sering dikaji dalam literatur ilmiah.

Berbagai kebijakan dan program telah dikembangkan di Indonesia terkait gizi. Pada tahun 1980-an kebijakan dalam penanganan masalah gizi seperti kurang kalori protein dan bersambut dengan dikembangkannya Posyandu sebagai wadah pemantauan gizi Balita yang masih ada hingga sekarang. Kegiatan fortifikasi garam dikembangkan untuk menurunkan prevalensi kekurangan Yodium dengan manifestasi penyakit gondok dan gangguan pertumbuhan (kerdil).

Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan geopolitik global, pada tahun 2010-an Indonesia dinyatakan sebagai negara yang memiliki masalah Kesehatan Masyarakat oleh WHO dengan tingginya prevalensi stunting atau masalah gizi kronis pada Balita yang mencapai angka 37,2%.

Belum lagi masalah stunting bisa diturunkan seperti target yang telah ditetapkan yaitu 14% pada tahun 2024, masalah kegemukan dan obesitas semakin bertambah. Oleh karena itu masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk menyambut Indonesia Emas 2045.

Gizi dalam Siklus Kehidupan

Masalah gizi dapat muncul sepanjang siklus hidup dari bayi hingga lansia dan bahkan melalui tiga generasi seperti pada masalah stunting. Ilmu terkait substansi tersebut menjadi ilmu dasar seorang Ahli Gizi, yang dalam perannya harus mampu menghitung dan menilai gizi seseorang untuk sehat optimal.

Zat gizi dibutuhkan sejak pertumbuhan janin didalam kandungan. Dalam masa sembilan bulan tumbuh kembang janin sangat tergantung dari gizi ibu yang disalurkan melalui plasenta. Pentingnya Kesehatan dan gizi ibu tidak hanya ketika hamil tetapi sejak remaja sebagai upaya prevensi masa hamil.

Bayi sehat lahir dengan berat dan panjang badan optimal. Bayi lahir sehat memiliki berat badan diatas 2,5 kg dan panjang badan diatas 48 cm. Untuk dapat mepertahankan tumbuh optimal setelah lahir, program menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Imunisasi dasar lengkap wajib diberikan pada bayi untuk mencegah risiko penyakit menular. Pemberian makanan pendamping ASI secara benar dan berkualitas menjadi hal penting pertumbuhan bayi hingga usia dua tahun menjadi titik kritis terjadinya masalah gizi yang dapat bersifat kronis.

Bundi, seorang ilmuwan mengembangkan teori 8000 hari kehidupan sebagai ekstensi dari teori 1000 HPK (titik kritis pertama pertumbuhan) sebagai peluang kritis kedua pacu tumbuh yaitu usia remaja. Pertumbuhan optimal dari masa janin hingga remaja adalah modal Indonesia Emas memasuki usia produktif 2045.

Keterlibatan Ahli Gizi dalam MBG

Pemberian Makanan Bergizi Gratis (MBG) sebagai upaya luhur untuk mewujudkan Generasi Emas. Dalam implementasinya program MBG cukup banyak mengalami masalah termasuk yang paling krusial adalah keracunan pada anak sekolah akibat praktek penyelenggaraan yang kurang terkontrol.

Peraturan Presiden No.83/2024 Bab III menyebutkan, struktur Organisasi dalam Badan Gizi Nasional terdiri dari unsur pimpinan dilengkapi dengan empat Deputi. Organisasi BGN juga dilengkapi dengan Dewan Pengarah yang terdiri dari tokoh negara, tokoh agama, tokoh Masyarakat, dan para purnawirawan TNI/Polisi/ASN dan akademisi.

Terlepas dari penilaian status gizi dan kesehatan, Ahli Gizi dibekali ilmu terkait pengolahan makanan, zat gizi yang terkandung dalam bahan makanan, proses pemasakan untuk menghindari terjadinya kerusakan gizinya, pemorsian makanan sesuai dengan kebutuhan gizi, risiko sakit akibat makanan (food borne disease), hingga hygiene sanitasi pada penjamah makanan dan tempat pengolahan.

Berbeda dengan Ahli Gizi yang berorientasi pada Kesehatan Masyarakat yang disebut Nutritionis, Ahli Gizi dengan sebutan Dietisien memiliki bidang spesialis dalam terapi diet untuk pasien di rumah sakit. Ahli gizi memiliki kapasitas dalam urusan makanan dan Kesehatan baik untuk komunitas maupun perorangan/pasien dengan penyakit tertentu (jantung, ginjal, diabetes, dll).

Quovadis Ahli Gizi
Fenomena penyelenggaraan MBG dan terjadinya keracunan pada siswa menjadi sebuah tantangan bagi Ahli Gizi. Kemanakah Ahli Gizi selama ini sehingga masalah makanan bergizi anak sekolah menjadi petaka?

Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) merupakan organisasi profesi yang berkedudukan di Jakarta. Jumlah anggotanya per Oktober 2025 sebanyak 53.640 orang, tersebar di seluruh Indonesia. Mereka adalah sarjana dengan latar belakang Pendidikan gizi (jenjang D3 hingga S3) yang dihasilkan dari 34 Politeknik Kesehatan dan lebih dari 100 perguruan tinggi negeri dan swasta.

Keberhasilan penanganan masalah gizi di Indonesia tidak terlepas dari peran Persagi pada era yang lalu. Banyak keberhasilan Pembangunan gizi di Indonesia yang dihasilkan, dari tokoh-tokoh pendahulunya seperti Poerwo Soedarmo, Darwin Karyadi, Muhilal, termasuk senior Prof Soekirman yang masih berkarya dalam usianya yang yang sudah sepuh.

Seiring diberlakukannya Undang Undang cipta kerja, nama organisasi profesi termasuk Persagi nyaris tidak terdengar. Penanggulangan masalah Gizi yang tersebut dalam RPJMN 2025-2029 dalam penurunan stunting dan penguatan SDM membutuhkan keterlibatan para Ahli Gizi. Ironisnya, dalam organisasi Badan Gizi Nasional, tidak tersebut dibutuhkannya peran Ahli Gizi untuk mengoptimalkan status gizi anak sekolah dan menciptakan SDM yang mampu bersaing.

Saat ini Persagi semakin memantapkan kapasitas anggotanya untuk terus mengupdate ilmunya. Berbagai training Gizi, Makanan da Kesehatan yang dilakukan secara nasional; Webinar Kupas Tuntas Penyelenggaraan Makanan Institusi dilaksanakan secara berkala per regional. Para penyelenggara MBG seharusnya tidak sampai mengalami masalah yang serius bagi siswa penerima manfaat dan bisa secara aktif mengikuti kegiatan Persagi.

Mari saling bergandeng tangan. Kita perbaiki masalah dan laksanakan niat baik pemerintah untuk menjadi negara yang kuat, Indonesia Emas 2025.
(wur)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tuduhan ke AHY terkait...
Tuduhan ke AHY terkait SPPG Dinilai Tak Proporsional, Pengamat: Publik Harus Rasional
Canda Prabowo ke HIPMI:...
Canda Prabowo ke HIPMI: Pengusaha Indonesia Banyak Dosanya
Hanura Bantah Punya...
Hanura Bantah Punya Yayasan Pengelola MBG, Sebut Narasi yang Beredar Hoaks
Kejagung Pelajari Bukti...
Kejagung Pelajari Bukti Terkait Pengajuan Justice Collaborator Eks Waka BGN Sony Sonjaya
Ajukan JC di Kasus Korupsi...
Ajukan JC di Kasus Korupsi MBG, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Sebut 26 Nama di BAP
PDIP Dorong Program...
PDIP Dorong Program MBG Beralih ke Dapur Berbasis Sekolah
Dukung Program MBG,...
Dukung Program MBG, Wali Kota Tangsel: Gizi Anak Jadi Prioritas Pembangunan SDM
Chatib Basri Sangkal...
Chatib Basri Sangkal Ditawari Prabowo Posisi Menkeu Gantikan Purbaya
Dasco Ungkap Tujuan...
Dasco Ungkap Tujuan Prabowo Panggil Chatib Basri-Luhut ke Istana
Rekomendasi
Dibully Sampai Hidupnya...
Dibully Sampai Hidupnya Hancur, Ini Balas Dendam Anna di Microdrama V+Short She Was Never Gone
BCA Buka Pendaftaran...
BCA Buka Pendaftaran Beasiswa PPBP dan PPTI Tahun Ajaran 2027
Bacok Pelajar di Jakbar,...
Bacok Pelajar di Jakbar, 2 Pelaku Ditangkap Polsek Palmerah
Berita Terkini
Kapolri Diminta Segera...
Kapolri Diminta Segera Lantik Kapolda Jabar, Kalbar, dan Sumbar
Tuduhan ke AHY terkait...
Tuduhan ke AHY terkait SPPG Dinilai Tak Proporsional, Pengamat: Publik Harus Rasional
Kolaborasi Generasi...
Kolaborasi Generasi Muda Jadi Penggerak Perubahan Lingkungan
KPK: OTT di BPK Terkait...
KPK: OTT di BPK Terkait Temuan Pengadaan Smart TV di Muara Enim
PTPN III Gandeng KPK...
PTPN III Gandeng KPK Bangun Integritas dan Cegah Korupsi
Canda Prabowo ke HIPMI:...
Canda Prabowo ke HIPMI: Pengusaha Indonesia Banyak Dosanya
Infografis
27 Negara Ini Terdeteksi...
27 Negara Ini Terdeteksi Radar dalam Jangkauan Rudal Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved