Kuliah Umum di SPPB UI, Ibas Dorong Kebangsaan Progresif
Minggu, 02 November 2025 - 15:31 WIB
loading...
A
A
A
“Kekuatan tidak lagi hanya dibutuhkan oleh pemerintah saja. Kita berharap pemerintah semakin kuat dan berdaya untuk memastikan negara kesatuan dan demokrasi Indonesia dapat benar-benar dijaga. Kita juga harus terus terlibat dalam upaya perdamaian dunia, tidak hanya bicara soal ketahanan nasional, tetapi juga kesiapan kita berperan aktif di dunia internasional,” ujarnya.
Menurut dia, peran tersebut harus dibarengi dengan kehadiran ilmu, inovasi, dan data. Ibas kemudian menekankan nasionalisme lama yang bersifat defensif dan berakar pada sejarah kini perlu bergeser menjadi kebangsaan progresif. “Yaitu yang terbuka, reflektif, dan ilmiah. Nasionalisme kini harus menatap dunia, bukan menolak dunia,” ucapnya.
“Kebangsaan tidak hanya dibicarakan, tapi dikerjakan,” sambungnya.
Menurut Dewan Penasihat Kadin tersebut, ini dapat diwujudkan melalui pendidikan karakter digital, diplomasi kebudayaan, dan riset strategis berbasis IPTEK. Dia mengutip pesan Presiden Ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahwa “Kita tidak bisa mengubah arah angin, tapi kita bisa menyesuaikan layar.”
Ibas lalu menyoroti pentingnya kepemimpinan yang visioner di tengah dinamika global. “Dunia kini menuntut strategic foresight, pemimpin yang progresif, visioner, kolaboratif, dan adaptif,” katanya.
Dia menegaskan harapannya agar Indonesia menjadi subjek, bukan objek dunia. Tantangannya adalah bagaimana Indonesia dapat berdaulat digital, melakukan transisi energi, dan menjaga stabilitas maritim. Adapun solusi yang dia tawarkan meliputi kolaborasi diplomatik, inovasi sumber daya manusia dan riset, serta penguatan ketahanan sosial-ekonomi.
Menurut dia, peran tersebut harus dibarengi dengan kehadiran ilmu, inovasi, dan data. Ibas kemudian menekankan nasionalisme lama yang bersifat defensif dan berakar pada sejarah kini perlu bergeser menjadi kebangsaan progresif. “Yaitu yang terbuka, reflektif, dan ilmiah. Nasionalisme kini harus menatap dunia, bukan menolak dunia,” ucapnya.
“Kebangsaan tidak hanya dibicarakan, tapi dikerjakan,” sambungnya.
Menurut Dewan Penasihat Kadin tersebut, ini dapat diwujudkan melalui pendidikan karakter digital, diplomasi kebudayaan, dan riset strategis berbasis IPTEK. Dia mengutip pesan Presiden Ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahwa “Kita tidak bisa mengubah arah angin, tapi kita bisa menyesuaikan layar.”
Ibas lalu menyoroti pentingnya kepemimpinan yang visioner di tengah dinamika global. “Dunia kini menuntut strategic foresight, pemimpin yang progresif, visioner, kolaboratif, dan adaptif,” katanya.
Dia menegaskan harapannya agar Indonesia menjadi subjek, bukan objek dunia. Tantangannya adalah bagaimana Indonesia dapat berdaulat digital, melakukan transisi energi, dan menjaga stabilitas maritim. Adapun solusi yang dia tawarkan meliputi kolaborasi diplomatik, inovasi sumber daya manusia dan riset, serta penguatan ketahanan sosial-ekonomi.
Lihat Juga :