Dirjen Pendis Kemenag Ajak Mahasiswa PMMBN Wujudkan Moderasi Beragama
Jum'at, 31 Oktober 2025 - 13:25 WIB
loading...
Dirjen Pendis Kementerian Agama Amien Suyitno mengajak mahasiswa jadi garda terdepan wujudkan moderasi beragama. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Pergerakan Mahasiswa Moderasi Beragama dan Bela Negara (PMMBN) harus tampil sebagai garda terdepan dalam menebarkan nilai kemanusiaan. Termasuk dalam menjaga keseimbangan alam, dan mewujudkan moderasi beragama yang hidup dalam tindakan.
Pernyataan itu disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama Amien Suyitno menegaskan saat menutup Kongres Nasional PMMBN Perguruan Tinggi Umum (PTU) Tahun 2025 di Jakarta. Dalam refleksi kemanusiaannya, Dirjen mengingatkan bahwa banyak konflik sosial lahir karena manusia kehilangan “ruh” kasih sayang dalam interaksi sehari-hari.
“Kita sering kehilangan ruh dalam menjalani hidup, kehilangan jiwa kasih sayang dalam berinteraksi. Padahal Allah telah memuliakan seluruh anak Adam tanpa membedakan suku, bangsa, ataupun agama,” ujarnya seraya mengutip QS. Al-Isra’ ayat 70 sebagai penegasan nilai kemanusiaan universal, Jumat (31/10/2025).
Baca juga: Dorong Mahasiswa Jadi Motor Moderasi, Kemenag Kukuhkan Pengurus PMMBN 2025-2027
Menurut Amien, agama hadir bukan hanya untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan alam. Tantangan terbesar generasi muda hari ini, kata dia, bukan hanya pada isu politik dan sosial, tetapi juga pada tanggung jawab menyelamatkan bumi dari krisis ekologis.
“Perubahan iklim dan pemanasan global bukan sekadar isu lingkungan, tapi panggilan iman. Agama datang agar tidak ada perusakan alam. Karena itu, tugas kita hari ini adalah how to save the earth,” tegasnya.
Amien juga mengajak seluruh kader dan pengurus PMMBN di seluruh Indonesia untuk memulai aksi nyata penyelamatan lingkungan dari hal-hal sederhana: menanam pohon, mengurangi plastik, beralih dari air kemasan ke gelas, hingga mulai menerapkan sistem paperless di kegiatan organisasi.
Dalam suasana penuh semangat, Amien Suyitno memberikan tantangan langsung kepada Ketua Umum terpilih PMMBN, Derida, agar menginisiasi gerakan menanam pohon di kampus atau di rumah masing-masing.
Baca juga: Kisah Prajurit Marinir Selamat dari Maut usai Ditolong Hantu Laut saat Terombang-ambing selama 3 Hari
“Kalau tidak bisa menanam, minimal rawatlah pohon yang ada. Tanamlah satu pohon dan beri nama—misalnya Pohon Derida—agar ada rasa memiliki dan tanggung jawab untuk menyiram dan menjaganya,” ujarnya.
Amien juga menekankan pentingnya akselerasi kepemimpinan pemuda di era digital. “Syubbanul Yaum Rijalul Yaum — Pemuda hari ini adalah pemimpin hari ini. Di usia 20-an, anak muda sudah bisa jadi anggota DPR, kepala daerah, bahkan menteri. Maka, jagalah dirimu, karena jejak digitalmu adalah wajah masa depanmu,” pesannya.
Amien juga mendoakan agar mahasiswa PMMBN kelak menjadi pemimpin bangsa di berbagai bidang dari akademisi, anggota dewan, hingga kepala daerah sebelum menutup sambutannya dengan pantun penuh semangat.
“Berguru di tepi sawah, membawa duku berikat senar, diriku masih kuliah, jangan diganggu apalagi dilamar. Makan kurma sahara dengan coklat, Mahasiswa Moderasi Beragama Bela Negara, teruslah hebat.”
Direktur Pendidikan Agama Islam M. Munir menyampaikan Kongres PMMBN menjadi momentum strategis bagi mahasiswa untuk membumikan nilai-nilai moderasi beragama di ruang publik, tidak hanya melalui wacana tetapi juga tindakan konkret yang berdampak.
“PMMBN harus menjadi komunitas gerak yang membumikan nilai-nilai moderasi. Tidak cukup hanya memahami konsepnya, tetapi menghidupkannya dalam perilaku sosial, kepemimpinan kampus, dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Munir.
Munir juga menambahkan, gerakan moderasi beragama sejatinya beririsan dengan semangat bela negara dan cinta lingkungan, karena keduanya berakar pada tanggung jawab moral untuk menjaga kehidupan bersama.
“Cinta tanah air bukan hanya menjaga kedaulatan wilayah, tapi juga menjaga alamnya agar tetap lestari. Keduanya adalah bentuk ibadah sosial yang luhur,” tegasnya.
Kegiatan Kongres PMMBN PTU 2025 kemudian resmi ditutup dengan pembacaan hamdalah bersama dan pernyataan penutupan oleh Dirjen Pendidikan Islam.
Pernyataan itu disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama Amien Suyitno menegaskan saat menutup Kongres Nasional PMMBN Perguruan Tinggi Umum (PTU) Tahun 2025 di Jakarta. Dalam refleksi kemanusiaannya, Dirjen mengingatkan bahwa banyak konflik sosial lahir karena manusia kehilangan “ruh” kasih sayang dalam interaksi sehari-hari.
“Kita sering kehilangan ruh dalam menjalani hidup, kehilangan jiwa kasih sayang dalam berinteraksi. Padahal Allah telah memuliakan seluruh anak Adam tanpa membedakan suku, bangsa, ataupun agama,” ujarnya seraya mengutip QS. Al-Isra’ ayat 70 sebagai penegasan nilai kemanusiaan universal, Jumat (31/10/2025).
Baca juga: Dorong Mahasiswa Jadi Motor Moderasi, Kemenag Kukuhkan Pengurus PMMBN 2025-2027
Menurut Amien, agama hadir bukan hanya untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan alam. Tantangan terbesar generasi muda hari ini, kata dia, bukan hanya pada isu politik dan sosial, tetapi juga pada tanggung jawab menyelamatkan bumi dari krisis ekologis.
“Perubahan iklim dan pemanasan global bukan sekadar isu lingkungan, tapi panggilan iman. Agama datang agar tidak ada perusakan alam. Karena itu, tugas kita hari ini adalah how to save the earth,” tegasnya.
Amien juga mengajak seluruh kader dan pengurus PMMBN di seluruh Indonesia untuk memulai aksi nyata penyelamatan lingkungan dari hal-hal sederhana: menanam pohon, mengurangi plastik, beralih dari air kemasan ke gelas, hingga mulai menerapkan sistem paperless di kegiatan organisasi.
Dalam suasana penuh semangat, Amien Suyitno memberikan tantangan langsung kepada Ketua Umum terpilih PMMBN, Derida, agar menginisiasi gerakan menanam pohon di kampus atau di rumah masing-masing.
Baca juga: Kisah Prajurit Marinir Selamat dari Maut usai Ditolong Hantu Laut saat Terombang-ambing selama 3 Hari
“Kalau tidak bisa menanam, minimal rawatlah pohon yang ada. Tanamlah satu pohon dan beri nama—misalnya Pohon Derida—agar ada rasa memiliki dan tanggung jawab untuk menyiram dan menjaganya,” ujarnya.
Amien juga menekankan pentingnya akselerasi kepemimpinan pemuda di era digital. “Syubbanul Yaum Rijalul Yaum — Pemuda hari ini adalah pemimpin hari ini. Di usia 20-an, anak muda sudah bisa jadi anggota DPR, kepala daerah, bahkan menteri. Maka, jagalah dirimu, karena jejak digitalmu adalah wajah masa depanmu,” pesannya.
Amien juga mendoakan agar mahasiswa PMMBN kelak menjadi pemimpin bangsa di berbagai bidang dari akademisi, anggota dewan, hingga kepala daerah sebelum menutup sambutannya dengan pantun penuh semangat.
“Berguru di tepi sawah, membawa duku berikat senar, diriku masih kuliah, jangan diganggu apalagi dilamar. Makan kurma sahara dengan coklat, Mahasiswa Moderasi Beragama Bela Negara, teruslah hebat.”
Direktur Pendidikan Agama Islam M. Munir menyampaikan Kongres PMMBN menjadi momentum strategis bagi mahasiswa untuk membumikan nilai-nilai moderasi beragama di ruang publik, tidak hanya melalui wacana tetapi juga tindakan konkret yang berdampak.
“PMMBN harus menjadi komunitas gerak yang membumikan nilai-nilai moderasi. Tidak cukup hanya memahami konsepnya, tetapi menghidupkannya dalam perilaku sosial, kepemimpinan kampus, dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Munir.
Munir juga menambahkan, gerakan moderasi beragama sejatinya beririsan dengan semangat bela negara dan cinta lingkungan, karena keduanya berakar pada tanggung jawab moral untuk menjaga kehidupan bersama.
“Cinta tanah air bukan hanya menjaga kedaulatan wilayah, tapi juga menjaga alamnya agar tetap lestari. Keduanya adalah bentuk ibadah sosial yang luhur,” tegasnya.
Kegiatan Kongres PMMBN PTU 2025 kemudian resmi ditutup dengan pembacaan hamdalah bersama dan pernyataan penutupan oleh Dirjen Pendidikan Islam.
(cip)
Lihat Juga :