Sharing Session Sindonews di Unpad, Wabup Garut: Gen Z Harus Jadi Motor Perubahan
Selasa, 28 Oktober 2025 - 21:08 WIB
loading...
Wakil Bupati Garut Luthfianisa Putri Karlina menjadi pembicara pada Sharing Session Sindonews bertema Saatnya Gen Z Tentukan Arah! di Universitas Padjadjaran (Unpad), Sumedang, Selasa (28/10/2025). Foto: Agi Ilman
A
A
A
SUMEDANG - Wakil Bupati Garut Luthfianisa Putri Karlina menilai kesadaran lingkungan masih menjadi tantangan lintas generasi, termasuk di kalangan muda. Dia optimistis Generasi Z ( Gen Z ) mampu menjadi penggerak utama dalam menciptakan perubahan menuju Indonesia yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Dalam kegiatan Sharing Session Sindonews bertema “Saatnya Gen Z Tentukan Arah!” di Universitas Padjadjaran (Unpad), Sumedang, Selasa (28/10/2025), Luthfianisa atau akrab disapa Teh Putri mengungkapkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan, khususnya persoalan sampah masih perlu ditingkatkan di semua lapisan masyarakat.
“Kalau ditanya soal bagaimana mereka memandang lingkungan, sedihnya hampir semua generasi masih kurang aware, termasuk soal pengelolaan sampah,” ujarnya.
Baca juga: Sharing Session SINDOnews Ajak Gen Z Berani Tentukan Arah dan Berkontribusi Nyata
Menurut dia, di Kabupaten Garut kesadaran pengelolaan sampah bahkan belum menjadi prioritas di tingkat pendidikan. Dia baru benar-benar memahami pentingnya pengelolaan sampah setelah menjabat sebagai wakil bupati.
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Garut kini menghadapi persoalan serius karena sistem open dumping yang sudah tidak layak digunakan.
“Saya baru peduli soal pemilahan sampah setelah jadi wakil bupati, karena ketika TPA jadi tanggung jawab saya barulah sadar bahwa masalahnya bukan di besarnya TPA, tapi di hulunya bagaimana kita memilah dari rumah,” katanya.
Dia mengapresiasi semangat Gen Z yang kini banyak memelopori gerakan kreatif seperti zero waste dan komunitas peduli lingkungan.
“Saya melihat gerakan pecinta lingkungan sekarang banyak digerakkan teman-teman muda. Mereka lebih kreatif dan saya kolaborasi habis-habisan dengan mereka, bahkan di luar jalur kedinasan,” katanya.
Sebagai bentuk nyata, Teh Putri menerapkan prinsip pemilahan sampah dalam kehidupan pribadinya. “Rumah dinas dan bisnis saya sudah mulai memilah sampah. Bahkan, waktu saya menikah pun saya minta panitia memastikan ada kampanye pemilahan sampah. Dari tiga bak besar akhirnya yang dibuang ke TPA cuma satu,” ujarnya.
Menurut dia, langkah kecil tersebut terbukti efektif mengurangi beban sampah daerah hingga efisiensi mencapai 70 persen.
“Kalau setiap orang memilah di rumah dari satu ton sampah yang biasanya dijemput, hanya tinggal 300 kg. Itu efisiensi luar biasa bagi Pemda,” katanya.
Kepedulian terhadap sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan, tapi juga pada kesehatan, pencegahan banjir, dan penurunan emisi gas rumah kaca.
Dalam upaya mendorong perubahan, dia menargetkan institusi pendidikan dan kantor pemerintahan di Garut untuk menerapkan konsep Zero Waste Office. “Saya mulai dari yang bisa dikontrol dulu seperti SKPD dan sekolah. Karena kalau sekolah saja jadi tempat buang sampah, malu dong. Jadi saya ingin mereka jadi contoh dulu,” ucapnya.
Teh Putri juga mengingatkan kolaborasi antara pemerintah dan mahasiswa sangat penting dalam menjaga lingkungan. “Gen Z ini vokal di media sosial, tapi harus diimbangi dengan aksi nyata. Pemerintah nggak bisa jalan sendiri. Harus ada kerja sama untuk mentransformasi lingkungan menjadi lebih baik,” ujarnya.
Dalam kegiatan Sharing Session Sindonews bertema “Saatnya Gen Z Tentukan Arah!” di Universitas Padjadjaran (Unpad), Sumedang, Selasa (28/10/2025), Luthfianisa atau akrab disapa Teh Putri mengungkapkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan, khususnya persoalan sampah masih perlu ditingkatkan di semua lapisan masyarakat.
“Kalau ditanya soal bagaimana mereka memandang lingkungan, sedihnya hampir semua generasi masih kurang aware, termasuk soal pengelolaan sampah,” ujarnya.
Baca juga: Sharing Session SINDOnews Ajak Gen Z Berani Tentukan Arah dan Berkontribusi Nyata
Menurut dia, di Kabupaten Garut kesadaran pengelolaan sampah bahkan belum menjadi prioritas di tingkat pendidikan. Dia baru benar-benar memahami pentingnya pengelolaan sampah setelah menjabat sebagai wakil bupati.
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Garut kini menghadapi persoalan serius karena sistem open dumping yang sudah tidak layak digunakan.
“Saya baru peduli soal pemilahan sampah setelah jadi wakil bupati, karena ketika TPA jadi tanggung jawab saya barulah sadar bahwa masalahnya bukan di besarnya TPA, tapi di hulunya bagaimana kita memilah dari rumah,” katanya.
Dia mengapresiasi semangat Gen Z yang kini banyak memelopori gerakan kreatif seperti zero waste dan komunitas peduli lingkungan.
“Saya melihat gerakan pecinta lingkungan sekarang banyak digerakkan teman-teman muda. Mereka lebih kreatif dan saya kolaborasi habis-habisan dengan mereka, bahkan di luar jalur kedinasan,” katanya.
Sebagai bentuk nyata, Teh Putri menerapkan prinsip pemilahan sampah dalam kehidupan pribadinya. “Rumah dinas dan bisnis saya sudah mulai memilah sampah. Bahkan, waktu saya menikah pun saya minta panitia memastikan ada kampanye pemilahan sampah. Dari tiga bak besar akhirnya yang dibuang ke TPA cuma satu,” ujarnya.
Menurut dia, langkah kecil tersebut terbukti efektif mengurangi beban sampah daerah hingga efisiensi mencapai 70 persen.
“Kalau setiap orang memilah di rumah dari satu ton sampah yang biasanya dijemput, hanya tinggal 300 kg. Itu efisiensi luar biasa bagi Pemda,” katanya.
Kepedulian terhadap sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan, tapi juga pada kesehatan, pencegahan banjir, dan penurunan emisi gas rumah kaca.
Dalam upaya mendorong perubahan, dia menargetkan institusi pendidikan dan kantor pemerintahan di Garut untuk menerapkan konsep Zero Waste Office. “Saya mulai dari yang bisa dikontrol dulu seperti SKPD dan sekolah. Karena kalau sekolah saja jadi tempat buang sampah, malu dong. Jadi saya ingin mereka jadi contoh dulu,” ucapnya.
Teh Putri juga mengingatkan kolaborasi antara pemerintah dan mahasiswa sangat penting dalam menjaga lingkungan. “Gen Z ini vokal di media sosial, tapi harus diimbangi dengan aksi nyata. Pemerintah nggak bisa jalan sendiri. Harus ada kerja sama untuk mentransformasi lingkungan menjadi lebih baik,” ujarnya.
(jon)
Lihat Juga :