Founder MBO Dorong Penguatan Ambon sebagai Kota Kreatif Berbasis Musik Dunia di KMI 2025
Minggu, 12 Oktober 2025 - 17:15 WIB
loading...
Komposer asal Ambon dan Founder Molucca Bamboowind Orchestra (MBO) Rence Alfons menyebut pentingnya posisi Ambon sebagai Kota Kreatif Berbasis Musik. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Komposer asal Ambon dan Founder Molucca Bamboowind Orchestra (MBO) Rence Alfons menyebut pentingnya posisi Ambon sebagai Kota Kreatif Berbasis Musik. Predikat tersebut disematkan UNESCO sejak 2019.
Hal itu disampaikan Rence saat audiensi dengan Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha. Audiensi dilakukan di sela-sela penyelenggaraan Konferensi Musik Indonesia (KMI) 2025 di The Sultan Hotel & Residence, Jakarta Pusat, Jumat, 10 Oktober 2025.
Dalam pertemuan tersebut, Rence menyoroti perlunya langkah strategis antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah agar ekosistem musik di Ambon benar-benar mencerminkan predikat Kota Kreatif Berbasis Musik Dunia yang disandangnya.
“UNESCO memberikan pengakuan, tapi menjaga pengakuan itu jauh lebih sulit daripada mendapatkannya,” ujarnya, Minggu (12/10/2025).
Baca juga: Tingkatkan Pariwisata, Pemerintah Ingin Jadikan Ambon Kota Musik Dunia
Menurut Rence, Ambon harus terus menunjukkan komitmennya pada pengembangan musik, bukan hanya lewat festival, tapi lewat pendidikan, inovasi, dan kolaborasi lintas budaya.
Sebagai pendiri Molucca Bamboowind Orchestra (MBO), kelompok musik yang menggabungkan instrumen bambu tradisional dengan format orkestra modern, Rence sudah lama dikenal sebagai jembatan antara tradisi dan inovasi.
“Musik di Ambon bukan hanya ekspresi seni, tapi juga jantung kehidupan sosial. Kami ingin pemerintah membantu memperkuat infrastruktur, kurikulum musik di sekolah, dan jejaring internasional yang membuat Ambon tetap relevan di dunia,” jelasnya.
Baca juga: Kementerian Kebudayaan Dorong Musik Tanah Air Berdaya Saing Global
Dalam audiensinya dengan Wamen Giring Ganesha, Rence juga menekankan keberlanjutan gelar Ambon City of Music membutuhkan koordinasi lintas kementerian. Tak cukup hanya dari sisi kebudayaan, tapi juga perlu dukungan dari sektor ekonomi kreatif, pendidikan, dan pemerintahan daerah.
Rence menanbahkan, Ambon sudah punya ekosistem yang kuat ada sekolah musik, komunitas, festival, dan musisi diaspora yang aktif. “Tapi untuk menjaga status kota kreatif berbasis musik dunia, perlu kebijakan yang konsisten, bukan proyek musiman,” tambahnya.
Menurut Rence, musik bagi Ambon bukan sekadar hiburan, melainkan identitas yang mengikat masyarakatnya. Di tengah berbagai tantangan sosial dan ekonomi, musik menjadi bahasa persatuan. “Di Ambon, anak-anak belajar harmoni sejak kecil, bukan hanya lewat nada, tapi lewat hidup berdampingan,” ucapnya.
KMI 2025, yang mengusung tema “Satu Nada Dasar”, menjadi momentum reflektif bagi daerah seperti Ambon untuk menegaskan kembali perannya dalam peta musik nasional. Di tengah pembahasan isu besar seperti tata kelola dan digitalisasi musik, suara dari timur Indonesia hadir mengingatkan pentingnya akar budaya dan nilai komunitas.
Rence berharap hasil pertemuan di Jakarta ini bisa ditindaklanjuti dengan program nyata, seperti pelatihan musisi muda, dukungan infrastruktur kreatif, serta penguatan riset dan dokumentasi musik tradisi Maluku.
“Kami ingin agar Ambon tak hanya dikenal karena labelnya sebagai Kota Kreatif Berbasis Musik Dunia, tapi karena terus melahirkan karya dan generasi baru yang menghidupi musiknya,” pungkasnya.
Bagi Rence Alfons, perjalanan musik Indonesia menuju panggung dunia akan selalu berangkat dari suara daerah. Dan dari Ambon, suara itu terus mengalun, dari denting bambu hingga harmoni orkestra, membawa pesan bahwa musik bukan hanya bunyi, tapi identitas yang menghubungkan manusia dan tanah kelahirannya.
Hal itu disampaikan Rence saat audiensi dengan Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha. Audiensi dilakukan di sela-sela penyelenggaraan Konferensi Musik Indonesia (KMI) 2025 di The Sultan Hotel & Residence, Jakarta Pusat, Jumat, 10 Oktober 2025.
Dalam pertemuan tersebut, Rence menyoroti perlunya langkah strategis antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah agar ekosistem musik di Ambon benar-benar mencerminkan predikat Kota Kreatif Berbasis Musik Dunia yang disandangnya.
“UNESCO memberikan pengakuan, tapi menjaga pengakuan itu jauh lebih sulit daripada mendapatkannya,” ujarnya, Minggu (12/10/2025).
Baca juga: Tingkatkan Pariwisata, Pemerintah Ingin Jadikan Ambon Kota Musik Dunia
Menurut Rence, Ambon harus terus menunjukkan komitmennya pada pengembangan musik, bukan hanya lewat festival, tapi lewat pendidikan, inovasi, dan kolaborasi lintas budaya.
Sebagai pendiri Molucca Bamboowind Orchestra (MBO), kelompok musik yang menggabungkan instrumen bambu tradisional dengan format orkestra modern, Rence sudah lama dikenal sebagai jembatan antara tradisi dan inovasi.
“Musik di Ambon bukan hanya ekspresi seni, tapi juga jantung kehidupan sosial. Kami ingin pemerintah membantu memperkuat infrastruktur, kurikulum musik di sekolah, dan jejaring internasional yang membuat Ambon tetap relevan di dunia,” jelasnya.
Baca juga: Kementerian Kebudayaan Dorong Musik Tanah Air Berdaya Saing Global
Dalam audiensinya dengan Wamen Giring Ganesha, Rence juga menekankan keberlanjutan gelar Ambon City of Music membutuhkan koordinasi lintas kementerian. Tak cukup hanya dari sisi kebudayaan, tapi juga perlu dukungan dari sektor ekonomi kreatif, pendidikan, dan pemerintahan daerah.
Rence menanbahkan, Ambon sudah punya ekosistem yang kuat ada sekolah musik, komunitas, festival, dan musisi diaspora yang aktif. “Tapi untuk menjaga status kota kreatif berbasis musik dunia, perlu kebijakan yang konsisten, bukan proyek musiman,” tambahnya.
Menurut Rence, musik bagi Ambon bukan sekadar hiburan, melainkan identitas yang mengikat masyarakatnya. Di tengah berbagai tantangan sosial dan ekonomi, musik menjadi bahasa persatuan. “Di Ambon, anak-anak belajar harmoni sejak kecil, bukan hanya lewat nada, tapi lewat hidup berdampingan,” ucapnya.
KMI 2025, yang mengusung tema “Satu Nada Dasar”, menjadi momentum reflektif bagi daerah seperti Ambon untuk menegaskan kembali perannya dalam peta musik nasional. Di tengah pembahasan isu besar seperti tata kelola dan digitalisasi musik, suara dari timur Indonesia hadir mengingatkan pentingnya akar budaya dan nilai komunitas.
Rence berharap hasil pertemuan di Jakarta ini bisa ditindaklanjuti dengan program nyata, seperti pelatihan musisi muda, dukungan infrastruktur kreatif, serta penguatan riset dan dokumentasi musik tradisi Maluku.
“Kami ingin agar Ambon tak hanya dikenal karena labelnya sebagai Kota Kreatif Berbasis Musik Dunia, tapi karena terus melahirkan karya dan generasi baru yang menghidupi musiknya,” pungkasnya.
Bagi Rence Alfons, perjalanan musik Indonesia menuju panggung dunia akan selalu berangkat dari suara daerah. Dan dari Ambon, suara itu terus mengalun, dari denting bambu hingga harmoni orkestra, membawa pesan bahwa musik bukan hanya bunyi, tapi identitas yang menghubungkan manusia dan tanah kelahirannya.
(cip)
Lihat Juga :