Kick Off Hari Santri 2025, Lembaga Banom NU Gelar Doa Bersama untuk Pesantren dan Palestina
Sabtu, 11 Oktober 2025 - 19:39 WIB
loading...
A
A
A
"Kenapa tema tersebut, karena Hari Santri itu sendiri ditetapkan dengan merujuk kepada Resolusi Jihad yang diumumkan oleh Nahdlatul Ulama pada tanggal 22 Oktober 1945. Seruan perang sabil untuk menolak upaya penjajah kembali ke Tanah Air, untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang sudah diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945," ucapnya.
Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU KH Hodri Ariev turut mengungkapkan bahwa perayaan Hari Santri tahun ini adalah momentum yang sangat tepat untuk mengenang Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 serta merenungkan apa yang terjadi di Al-Khoziny maupun di Gaza Palestina.
"Di tengah musibah yang melanda Al-Khoziny maupun di Gaza, ada dua hal penting untuk direnungkan. Pertama, bagaimana merawat semangat jihad dan perjuangan para pendahulu yaitu kiai, ulama, dan santri. Kedua, menjadikan momentum ini sebagai muhasabah akhlak kesantrian dalam kekhidmatan baik di lingkungan NU, bangsa, maupun negara," jelas Kiai Hodri.
Menurutnya santri dituntut untuk menjaga persaudaraan, menumbuhkan empati kepada mereka yang tertimpa musibah, untuk memiliki sikap rendah hati, serta meneladani keikhlasan yang diajarkan kiai kepada santrinya.
"Semangat itu bermanfaat tidak hanya bagi bangsa Indonesia, tetapi juga bagi umat manusia. Maka, peringatan Hari Santri ini harus menjadi jalan untuk mengangkat kembali spirit Resolusi Jihad yang diwariskan KH Hasyim Asy’ari, demi terwujudnya peradaban yang menjunjung harkat dan martabat manusia,” tegasnya.
Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU KH Hodri Ariev turut mengungkapkan bahwa perayaan Hari Santri tahun ini adalah momentum yang sangat tepat untuk mengenang Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 serta merenungkan apa yang terjadi di Al-Khoziny maupun di Gaza Palestina.
"Di tengah musibah yang melanda Al-Khoziny maupun di Gaza, ada dua hal penting untuk direnungkan. Pertama, bagaimana merawat semangat jihad dan perjuangan para pendahulu yaitu kiai, ulama, dan santri. Kedua, menjadikan momentum ini sebagai muhasabah akhlak kesantrian dalam kekhidmatan baik di lingkungan NU, bangsa, maupun negara," jelas Kiai Hodri.
Menurutnya santri dituntut untuk menjaga persaudaraan, menumbuhkan empati kepada mereka yang tertimpa musibah, untuk memiliki sikap rendah hati, serta meneladani keikhlasan yang diajarkan kiai kepada santrinya.
"Semangat itu bermanfaat tidak hanya bagi bangsa Indonesia, tetapi juga bagi umat manusia. Maka, peringatan Hari Santri ini harus menjadi jalan untuk mengangkat kembali spirit Resolusi Jihad yang diwariskan KH Hasyim Asy’ari, demi terwujudnya peradaban yang menjunjung harkat dan martabat manusia,” tegasnya.
Lihat Juga :