Ketahanan Pangan Nasional sebagai Pilar Kedaulatan
Minggu, 05 Oktober 2025 - 13:27 WIB
loading...
A
A
A
Dengan kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit, sambung dia, Polri melindungi kebijakan pemerintah dan gerakan sosial rakyat dari gangguan mafia, spekulan, maupun kriminalitas. “Kapolri Presisi menjaga kepercayaan, agar setiap langkah negara dan rakyat benar-benar sampai pada tujuannya,” tuturnya.
Stabilitas inilah yang menyatukan rakyat, fiskal, pangan, dan keamanan dalam satu arah menuju cita-cita Indonesia Emas.
Dia meyakini bahwa kekuatan bangsa Indonesia lahir dari keselarasan antara rakyat dan negara. Baginya, pembangunan bukan hanya soal angka pertumbuhan atau besarnya investasi, melainkan bagaimana solidaritas sosial rakyat, kebijakan fiskal yang tepat, ketahanan pangan, dan stabilitas keamanan bisa berjalan dalam satu irama.
“Rakyat adalah pondasi, negara adalah atap. Keduanya harus menyatu agar rumah besar Indonesia tetap kokoh,” ucapnya.
Dia menambahkan, Gerakan Rakyat Bantu Rakyat yang dijalankan Haidar Alwi Care menghadirkan program santunan dua juta anak yatim. Dia menegaskan bahwa program ini adalah investasi moral jangka panjang untuk menyiapkan generasi tangguh.
“Mereka bukan objek belas kasihan, mereka adalah calon pemimpin bangsa yang harus kita siapkan sejak dini,” katanya.
Dia berpendapat, solidaritas sosial ini menghidupkan kembali semangat gotong royong yang menjadi ciri khas Indonesia. Ketika rakyat saling menopang, negara akan lebih mudah menyalurkan kebijakan yang besar dan bermanfaat luas.
“Solidaritas sosial inilah yang menjadi bahan bakar kebijakan negara. Tanpa rakyat yang kuat, negara akan goyah,” tegasnya.
Karena itu, menurut dia, langkah pemerintah dalam mengelola ekonomi harus berjalan di atas fondasi rakyat yang kokoh. Inilah mengapa kebijakan fiskal di bawah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi sangat penting untuk memastikan arah pembangunan tetap berpijak pada kebutuhan rakyat.
Stabilitas inilah yang menyatukan rakyat, fiskal, pangan, dan keamanan dalam satu arah menuju cita-cita Indonesia Emas.
Dia meyakini bahwa kekuatan bangsa Indonesia lahir dari keselarasan antara rakyat dan negara. Baginya, pembangunan bukan hanya soal angka pertumbuhan atau besarnya investasi, melainkan bagaimana solidaritas sosial rakyat, kebijakan fiskal yang tepat, ketahanan pangan, dan stabilitas keamanan bisa berjalan dalam satu irama.
“Rakyat adalah pondasi, negara adalah atap. Keduanya harus menyatu agar rumah besar Indonesia tetap kokoh,” ucapnya.
Dia menambahkan, Gerakan Rakyat Bantu Rakyat yang dijalankan Haidar Alwi Care menghadirkan program santunan dua juta anak yatim. Dia menegaskan bahwa program ini adalah investasi moral jangka panjang untuk menyiapkan generasi tangguh.
“Mereka bukan objek belas kasihan, mereka adalah calon pemimpin bangsa yang harus kita siapkan sejak dini,” katanya.
Dia berpendapat, solidaritas sosial ini menghidupkan kembali semangat gotong royong yang menjadi ciri khas Indonesia. Ketika rakyat saling menopang, negara akan lebih mudah menyalurkan kebijakan yang besar dan bermanfaat luas.
“Solidaritas sosial inilah yang menjadi bahan bakar kebijakan negara. Tanpa rakyat yang kuat, negara akan goyah,” tegasnya.
Karena itu, menurut dia, langkah pemerintah dalam mengelola ekonomi harus berjalan di atas fondasi rakyat yang kokoh. Inilah mengapa kebijakan fiskal di bawah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi sangat penting untuk memastikan arah pembangunan tetap berpijak pada kebutuhan rakyat.
Lihat Juga :