Visi Indonesia Emas Sulit Tercapai jika Sistem Riset Nasional Masih Lemah

Rabu, 01 Oktober 2025 - 13:36 WIB
loading...
Visi Indonesia Emas...
Visi Indonesia Emas sulit terwujud jika sistem riset nasional masih karut-marut. Kemandirian sains dan teknologi yang menjadi pondasi kemajuan masih lemah. Ilustrasi/SindoNews
A A A
JAKARTA - Visi Indonesia Emas 2045 dinilai sulit terwujud jika sistem riset nasional masih karut-marut. Kemandirian sains dan teknologi yang seharusnya menjadi pondasi kemajuan bangsa justru masih lemah karena tidak adanya visi kuat dari pemerintah dalam membangun riset .

Direktur Eksekutif Indonesia Maritime Institute (IMI) Y Paonganan mengatakan, revolusi industri adalah kebangkitan dunia menjadi negara maju, dan itu tidak datang tiba-tiba tapi melalui serangkaian riset panjang. “Perkembangan telekomunikasi, energi, hingga teknologi digital semuanya diawali dari riset. Intinya semua kemajuan dunia lahir dari riset,” kata Y Paonganan dalam keterangan tertulisnya, Rabu (1/10/2025). Baca juga: Wamen Stella: Riset adalah Investasi Penting untuk Masa Depan Indonesia

Pria yang akrab disapa Ongen menegaskan negara-negara besar di Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan kini China, bisa menjadi kekuatan global karena sejak awal membangun sistem riset nasional yang solid. “Sementara di Indonesia, riset dan pengembangan ilmu pengetahuan kerap hanya berhenti pada retorika,” tegasnya.

Data menunjukkan, anggaran riset nasional justru mengalami pemangkasan tajam setelah dibentuknya Badan Riset dan Inovasi Nasional ( BRIN ). Pada 2017, anggaran riset masih sekitar Rp24,9 triliun atau 0,2% dari PDB, namun turun drastis menjadi Rp3,1 triliun pada 2022 dan hanya Rp2,2 triliun pada 2023 (0,01%). Angka ini jauh di bawah negara tetangga. Malaysia mengalokasikan 0,95% PDB, Thailand 0,40%, dan Singapura bahkan mencapai 1,89%.

Kondisi ini diperparah dengan perampingan lembaga-lembaga riset yang justru membuat ribuan peneliti kehilangan kepastian. Kasus integrasi Lembaga Biologi Molekuler Eijkman ke BRIN, misalnya, menyebabkan lebih dari seratus peneliti diberhentikan. “Situasi tersebut menimbulkan kesan BRIN seperti badan riset “mati suri”, dengan ribuan peneliti dikumpulkan tanpa arah yang jelas,” jelasnya.

Meski demikian, sejumlah peneliti Indonesia masih menorehkan prestasi di kancah internasional. Beberapa nama bahkan masuk dalam daftar 2% ilmuwan terbaik dunia versi Stanford University dan Elsevier. “Namun pencapaian individu ini dinilai tidak cukup menopang ambisi nasional bila sistem riset secara keseluruhan tetap amburadul,” tuturnya. Baca juga: Menko Polkam: Sekolah Rakyat Investasi Bangsa untuk Indonesia Emas 2045

Sebagian besar, menurut Ongen, riset berhenti di jurnal akademik tanpa dihilirisasi menjadi produk teknologi atau inovasi industri. “Pemerintah harus segera mengambil langkah revolusioner untuk memperbaiki sistem riset nasional. Jika tidak, visi Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi mimpi di siang bolong,” terangnya.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Skandal Riset Palsu...
Skandal Riset Palsu Internasional, Mendiktisaintek Ungkap 4 Terduga Pelaku Lulusan UNY
Kasus Riset Palsu Demi...
Kasus Riset Palsu Demi Plesiran, Mendiktisaintek Ungkap Temuan Awal
Polemik Peneliti Pakai...
Polemik Peneliti Pakai Riset Palsu di Forum Ilmiah Dunia, DPR Dorong Investigasi
Arif Satria Sebut Riset...
Arif Satria Sebut Riset Biodiversitas Indonesia Terlalu Fokus di Jawa
Komdigi Siapkan Roadmap...
Komdigi Siapkan Roadmap AI, Pesantren Didorong Jadi Jangkar Moral Sosial
Wamen PU Apresiasi Upaya...
Wamen PU Apresiasi Upaya Astra Ciptakan Lingkungan Kerja Inklusif
Jadi Sekolah Unggulan,...
Jadi Sekolah Unggulan, SMA Al Hikmah Surabaya Bangun Pembelajaran Berbasis Riset-Karakter
Disertasi Doktor Komunikasi...
Disertasi Doktor Komunikasi Ungkap Bahaya Ketergantungan pada AI Smartwatch
Transformasi Pendidikan...
Transformasi Pendidikan Didorong Lewat Pelatihan Guru dan Kampus Berdampak Nyata
Rekomendasi
Senapan Pasukan Khusus...
Senapan Pasukan Khusus AS Bukan Hanya Sekadar Senjata, Ini 3 Keunggulannya
Berkali-kali Muncul...
Berkali-kali Muncul Korban Tenggelam, Warga Mulai Curiga Ada yang Tak Beres di Tempat Ini
Confeti Love hingga...
Confeti Love hingga Moonlit Blush, Ini Makna di Balik Pendant Koleksi Baru Nagita Slavina x ISAGO
Berita Terkini
4 Oknum Prajurit TNI...
4 Oknum Prajurit TNI Terdakwa Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus Hari Ini Divonis
3 Guru Besar Kedokteran...
3 Guru Besar Kedokteran Bakal Jadi Saksi Ahli Dokter Tifa
Kasus Mega Korupsi BGN...
Kasus Mega Korupsi BGN dan Kitas-Kitap
Luhut: Bansos ke Depan...
Luhut: Bansos ke Depan Tak Lagi Barang, Diberi Cash Transfer Rp5,4 Juta per Orang
Konstruksi Perkara Suap...
Konstruksi Perkara Suap Bupati Muara Enim, KPK: Ada Uang Rp500 Juta untuk Jaga Hubungan Baik
RDP di Komisi II, Dirjen...
RDP di Komisi II, Dirjen Bina Adwil Kemendagri Ungkap 5 Kunci Penataan Lahan Pasuruan
Infografis
Market Value Tim Nasional...
Market Value Tim Nasional Asia Tenggara: Timnas Indonesia Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved