Kericuhan Warnai Muktamar X PPP, Ulama Disarankan Bersuara
Senin, 29 September 2025 - 08:36 WIB
loading...
Kericuhan yang mewarnai pembukaan Muktamar X PPP di Ancol, Jakarta Utara pada Sabtu pekan lalu membuat prihatin berbagai kalangan. Foto/Dok SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Kericuhan yang mewarnai pembukaan Muktamar X PPP di Ancol, Jakarta Utara pada Sabtu pekan lalu membuat prihatin berbagai kalangan. Ketua Dewan Pembina Angkatan Muda Ka'bah (AMK) Joko Purwanto mendesak para ulama bersuara mengenai PPP.
Joko mengatakan, ulama dari NU, Perti, Muslimin Indonesia, dan Syarikat Islam mesti bersuara mengenai keberadaan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) saat ini. Joko mengatakan sangat prihatin sekaligus sedih, bahwa partai yang berdirinya diinisiasi para ulama tersebut dalam proses pengambilan keputusan muktamar sangat jauh dari nilai-nilai Islam dan jauh dari kesantunan dan akhlakul karimah.
Joko mengatakan, saat bergabung dengan PPP dirinya melihat sosok politikus PPP yang humble, tawadu, menjunjung adab dalam berpolitik. Itu tercermin dari sikap Hamzah Haz, Suryadharma Ali
Namun, setelah berakhirnya era Suryadharma Ali, semuanya luntur. Pengurus cabang sebagai pemegang hak suara dalam menentukan figur ketua umum berdasarkan berapa besar mahar yang mereka terima, bukan berdasarkan pada kapasitas individu yang bersangkutan. "Ini sudah menyimpang dari prinsip Islam," ujarnya, Minggu (28/9/2025).
Baca Juga: Muktamar PPP Ricuh, Kader Adu Jotos hingga Lempar Kursi
Mantan anggota DPR RI Fraksi PPP itu mengajak seluruh umat Islam, khususnya ormas Islam yang saat awal pendirian PPP berfusi sebagai stakeholder PPP wajib mempertanyakan kembali apa keberadaan PPP saat ini layak dipertahankan atau tidak. Kalaupun layak, apakah lambang Ka'bah masih layak dipakai.
"Muktamar PPP kali ini jelas-jelas mempertontonkan bobroknya perilaku politisi PPP yang hanya mengaku dirinya Islam, namun tidak dicerminkan dalam perilaku kehidupannya," ujar Joko.
Muktamar X PPP menghasilkan dua kubu yakni kubu Muhamad Mardiono dan Agus Suparmanto. Muhamad Mardiono diklaim terpilih secara aklamasi. "Pertama-tama, saya ingin menyampaikan selamat kepada Pak Mardiono atas terpilihnya secara aklamasi dalam Muktamar X PPP yang baru saja kami ketuk palunya," kata Pimpinan Sidang Muktamar Amir Uskara, Sabtu (27/9/2025).
Keputusan ini diambil setelah pimpinan sidang muktamar menggelar agenda pembahasan tata tertib (tatib) muktamar. Hal itu salah satunya berkaitan dengan pemilihan ketua umum yang harus dihadiri secara fisik oleh peserta muktamar.
"Dan setelah itu saya bacakan, saya langsung meminta kesepakatan dari seluruh peserta muktamar, apakah setuju karena sudah hadir, apakah setuju untuk kita aklamasi dengan Pak Mardiono, ternyata mereka setuju dan saya ketuk palu," ujarnya.
Sementara, Agus Suparmanto diklaim terpilih menjadi ketua umum PPP melalui forum Muktamar X PPP di Hotel Mercure, Ancol, Sabtu (27/9/2025) malam. Keputusan aklamasi Agus Suparmanto langsung dibacakan oleh Pimpinan Sidang Paripurna VIII Qoyum Abdul Jabbar.
"Aklamasi Pak Agus Suparmanto merupakan kehendak muktamar dan aspirasi muktamirin ini yang menentukan keputusan," jelas Qoyum.
Joko mengatakan, ulama dari NU, Perti, Muslimin Indonesia, dan Syarikat Islam mesti bersuara mengenai keberadaan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) saat ini. Joko mengatakan sangat prihatin sekaligus sedih, bahwa partai yang berdirinya diinisiasi para ulama tersebut dalam proses pengambilan keputusan muktamar sangat jauh dari nilai-nilai Islam dan jauh dari kesantunan dan akhlakul karimah.
Joko mengatakan, saat bergabung dengan PPP dirinya melihat sosok politikus PPP yang humble, tawadu, menjunjung adab dalam berpolitik. Itu tercermin dari sikap Hamzah Haz, Suryadharma Ali
Namun, setelah berakhirnya era Suryadharma Ali, semuanya luntur. Pengurus cabang sebagai pemegang hak suara dalam menentukan figur ketua umum berdasarkan berapa besar mahar yang mereka terima, bukan berdasarkan pada kapasitas individu yang bersangkutan. "Ini sudah menyimpang dari prinsip Islam," ujarnya, Minggu (28/9/2025).
Baca Juga: Muktamar PPP Ricuh, Kader Adu Jotos hingga Lempar Kursi
Mantan anggota DPR RI Fraksi PPP itu mengajak seluruh umat Islam, khususnya ormas Islam yang saat awal pendirian PPP berfusi sebagai stakeholder PPP wajib mempertanyakan kembali apa keberadaan PPP saat ini layak dipertahankan atau tidak. Kalaupun layak, apakah lambang Ka'bah masih layak dipakai.
"Muktamar PPP kali ini jelas-jelas mempertontonkan bobroknya perilaku politisi PPP yang hanya mengaku dirinya Islam, namun tidak dicerminkan dalam perilaku kehidupannya," ujar Joko.
Muktamar X PPP menghasilkan dua kubu yakni kubu Muhamad Mardiono dan Agus Suparmanto. Muhamad Mardiono diklaim terpilih secara aklamasi. "Pertama-tama, saya ingin menyampaikan selamat kepada Pak Mardiono atas terpilihnya secara aklamasi dalam Muktamar X PPP yang baru saja kami ketuk palunya," kata Pimpinan Sidang Muktamar Amir Uskara, Sabtu (27/9/2025).
Keputusan ini diambil setelah pimpinan sidang muktamar menggelar agenda pembahasan tata tertib (tatib) muktamar. Hal itu salah satunya berkaitan dengan pemilihan ketua umum yang harus dihadiri secara fisik oleh peserta muktamar.
"Dan setelah itu saya bacakan, saya langsung meminta kesepakatan dari seluruh peserta muktamar, apakah setuju karena sudah hadir, apakah setuju untuk kita aklamasi dengan Pak Mardiono, ternyata mereka setuju dan saya ketuk palu," ujarnya.
Sementara, Agus Suparmanto diklaim terpilih menjadi ketua umum PPP melalui forum Muktamar X PPP di Hotel Mercure, Ancol, Sabtu (27/9/2025) malam. Keputusan aklamasi Agus Suparmanto langsung dibacakan oleh Pimpinan Sidang Paripurna VIII Qoyum Abdul Jabbar.
"Aklamasi Pak Agus Suparmanto merupakan kehendak muktamar dan aspirasi muktamirin ini yang menentukan keputusan," jelas Qoyum.
(zik)
Lihat Juga :