Diplomasi Pendidikan ke China, Ibas Jajaki Program Beasiswa dan Pertukaran Budaya
Kamis, 25 September 2025 - 13:38 WIB
loading...
Diplomasi pendidikan ke China dirintis Wakil Ketua MPR, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) saat melakukan pertemuan dengan Rektor BLCU, Duan Peng di Beijing, China. Foto/Ist
A
A
A
BEIJING - Diplomasi pendidikan ke China dirintis Wakil Ketua MPR, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) saat melakukan pertemuan dengan Rektor Beijing Language and Culture University (BLCU), Duan Peng di Beijing, China. Pertemuan ini merupakan bagian dari undangan BLCU kepada Ibas yang bertujuan menjajaki kolaborasi strategis di sektor pendidikan dan kebudayaan.
Dalam pertemuan itu menggarisbawahi bahwa fondasi hubungan bilateral yang kuat tidak hanya dibangun melalui diplomasi formal, tetapi juga melalui pertukaran pendidikan dan kebudayaan yang mendalam. Ibas melihat BLCU sebagai pusat global untuk bahasa dan kebudayaan yang dapat menjadi wadah ideal untuk mewujudkan tujuan tersebut.
Baca juga: Resmikan 35 Titik Kampung Zakat dan Berikan Beasiswa, Kemenag: Perkuat Ekonomi Umat
“Saya percaya, masa depan hubungan global tidak hanya dibentuk melalui diplomasi, tetapi juga melalui pendidikan, riset, dan pertukaran budaya yang bermakna, seperti yang kita lakukan di sini hari ini. Indonesia dan China bukan hanya negara sahabat yang bermakna, kita adalah dua peradaban besar dengan ratusan tahun sejarah dan nilai yang kita bagikan,” ujar anggota DPR RI Dapil Jawa Timur VII ini dalam keterangannya, Kamis (25/9/2025).
Ibas juga mengingatkan kembali refleksinya di Forum China Economic and Social Council (CESC) 2025 di Xi’an bahwa dalam setiap pertemuan antar bangsa, tidak hanya bertukar kata-kata, akan tetapi juga bertukar harapan. Menurutnya, kemitraan Indonesia-China harus tumbuh melampaui perdagangan dan diplomasi semata, menuju kerja sama yang lebih luas dalam pendidikan, inovasi, keberlanjutan, kebudayaan, dan kemajuan manusia.
Lebih lanjut, dia menyoroti tantangan global yang dihadapi bersama, mulai dari perubahan iklim, kesenjangan digital dan kecerdasan buatan (AI), ketegangan geopolitik, ketahanan pangan, air, serta energi, hingga misinformasi dan ketidaksetaraan.
Baca juga: Pemprov DKI Jakarta Buka Pendaftaran KJMU Tahap II 2025, Kuota 3.466 Mahasiswa
“Di masa seperti ini, saya percaya: ketika dunia diuji, peradaban harus bersatu. Itulah alasan saya hadir di sini, bukan hanya untuk berbicara, tetapi juga untuk mendengar, belajar, dan membangun kerja sama yang nyata,” tegasnya.
Dewan Penasihat Kadin ini juga kemudian menguraikan gagasan mengenai lima pilar strategis yang dapat menjadi fondasi kerja sama antara universitas-universitas di Indonesia dengan BLCU. Ia memulai dengan menekankan pentingnya pertukaran bahasa dan pendidikan melalui program beasiswa, serta peluang bagi mahasiswa dan dosen dari kedua negara untuk saling bertukar pengalaman akademik. Dengan cara ini, generasi muda Indonesia dapat semakin mendalami Bahasa Mandarin dan kebudayaan China. Sementara masyarakat China juga berkesempatan memahami lebih dekat dinamika Indonesia.
Selain itu, Ibas mendorong pendirian Pusat Studi Indonesia - Tiongkok yang diharapkan menjadi pusat kajian akademik, riset, dan pemikiran bersama mengenai isu-isu strategis yang menghubungkan kedua negara. Pusat studi ini, menurutnya, akan menjadi ruang kolaborasi intelektual yang memperkuat basis pengetahuan bersama sekaligus menumbuhkan rasa saling pengertian.
Lebih jauh, dia menekankan pentingnya diplomasi budaya dan pertukaran antar masyarakat. Ia mengusulkan agar kedua pihak menyelenggarakan festival budaya, pameran musik, kaligrafi, serta seni tradisional yang tidak hanya memperkenalkan kekayaan masing-masing bangsa, tetapi juga mempererat hubungan antargenerasi muda. “Budaya menghubungkan hati melampaui kata,” ujarnya.
Tak kalah penting, peluang untuk memperluas promosi Bahasa Indonesia di China, termasuk melalui pengembangan kurikulum, penyusunan bahan ajar, serta pelatihan bersama bagi para pengajar. Menurutnya, mendukung program Bahasa Indonesia di BLCU akan membuka jalan bagi lahirnya generasi baru di China yang memahami Indonesia secara lebih mendalam.
Terakhir, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat ini mengajak kedua belah pihak untuk memperkuat kerja sama riset dan publikasi bersama, khususnya di bidang komunikasi lintas budaya, pendidikan, dan diplomasi. Forum akademik, penulisan bersama, hingga proyek penelitian mahasiswa diyakini dapat melahirkan gagasan-gagasan segar yang bermanfaat bagi pembangunan kedua bangsa.
Dalam pertemuan itu menggarisbawahi bahwa fondasi hubungan bilateral yang kuat tidak hanya dibangun melalui diplomasi formal, tetapi juga melalui pertukaran pendidikan dan kebudayaan yang mendalam. Ibas melihat BLCU sebagai pusat global untuk bahasa dan kebudayaan yang dapat menjadi wadah ideal untuk mewujudkan tujuan tersebut.
Baca juga: Resmikan 35 Titik Kampung Zakat dan Berikan Beasiswa, Kemenag: Perkuat Ekonomi Umat
“Saya percaya, masa depan hubungan global tidak hanya dibentuk melalui diplomasi, tetapi juga melalui pendidikan, riset, dan pertukaran budaya yang bermakna, seperti yang kita lakukan di sini hari ini. Indonesia dan China bukan hanya negara sahabat yang bermakna, kita adalah dua peradaban besar dengan ratusan tahun sejarah dan nilai yang kita bagikan,” ujar anggota DPR RI Dapil Jawa Timur VII ini dalam keterangannya, Kamis (25/9/2025).
Ibas juga mengingatkan kembali refleksinya di Forum China Economic and Social Council (CESC) 2025 di Xi’an bahwa dalam setiap pertemuan antar bangsa, tidak hanya bertukar kata-kata, akan tetapi juga bertukar harapan. Menurutnya, kemitraan Indonesia-China harus tumbuh melampaui perdagangan dan diplomasi semata, menuju kerja sama yang lebih luas dalam pendidikan, inovasi, keberlanjutan, kebudayaan, dan kemajuan manusia.
Lebih lanjut, dia menyoroti tantangan global yang dihadapi bersama, mulai dari perubahan iklim, kesenjangan digital dan kecerdasan buatan (AI), ketegangan geopolitik, ketahanan pangan, air, serta energi, hingga misinformasi dan ketidaksetaraan.
Baca juga: Pemprov DKI Jakarta Buka Pendaftaran KJMU Tahap II 2025, Kuota 3.466 Mahasiswa
“Di masa seperti ini, saya percaya: ketika dunia diuji, peradaban harus bersatu. Itulah alasan saya hadir di sini, bukan hanya untuk berbicara, tetapi juga untuk mendengar, belajar, dan membangun kerja sama yang nyata,” tegasnya.
Dewan Penasihat Kadin ini juga kemudian menguraikan gagasan mengenai lima pilar strategis yang dapat menjadi fondasi kerja sama antara universitas-universitas di Indonesia dengan BLCU. Ia memulai dengan menekankan pentingnya pertukaran bahasa dan pendidikan melalui program beasiswa, serta peluang bagi mahasiswa dan dosen dari kedua negara untuk saling bertukar pengalaman akademik. Dengan cara ini, generasi muda Indonesia dapat semakin mendalami Bahasa Mandarin dan kebudayaan China. Sementara masyarakat China juga berkesempatan memahami lebih dekat dinamika Indonesia.
Selain itu, Ibas mendorong pendirian Pusat Studi Indonesia - Tiongkok yang diharapkan menjadi pusat kajian akademik, riset, dan pemikiran bersama mengenai isu-isu strategis yang menghubungkan kedua negara. Pusat studi ini, menurutnya, akan menjadi ruang kolaborasi intelektual yang memperkuat basis pengetahuan bersama sekaligus menumbuhkan rasa saling pengertian.
Lebih jauh, dia menekankan pentingnya diplomasi budaya dan pertukaran antar masyarakat. Ia mengusulkan agar kedua pihak menyelenggarakan festival budaya, pameran musik, kaligrafi, serta seni tradisional yang tidak hanya memperkenalkan kekayaan masing-masing bangsa, tetapi juga mempererat hubungan antargenerasi muda. “Budaya menghubungkan hati melampaui kata,” ujarnya.
Tak kalah penting, peluang untuk memperluas promosi Bahasa Indonesia di China, termasuk melalui pengembangan kurikulum, penyusunan bahan ajar, serta pelatihan bersama bagi para pengajar. Menurutnya, mendukung program Bahasa Indonesia di BLCU akan membuka jalan bagi lahirnya generasi baru di China yang memahami Indonesia secara lebih mendalam.
Terakhir, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat ini mengajak kedua belah pihak untuk memperkuat kerja sama riset dan publikasi bersama, khususnya di bidang komunikasi lintas budaya, pendidikan, dan diplomasi. Forum akademik, penulisan bersama, hingga proyek penelitian mahasiswa diyakini dapat melahirkan gagasan-gagasan segar yang bermanfaat bagi pembangunan kedua bangsa.
(shf)
Lihat Juga :