Diplomasi Pendidikan ke China, Ibas Jajaki Program Beasiswa dan Pertukaran Budaya
Kamis, 25 September 2025 - 13:38 WIB
loading...
A
A
A
Ibas juga mengingatkan kembali refleksinya di Forum China Economic and Social Council (CESC) 2025 di Xi’an bahwa dalam setiap pertemuan antar bangsa, tidak hanya bertukar kata-kata, akan tetapi juga bertukar harapan. Menurutnya, kemitraan Indonesia-China harus tumbuh melampaui perdagangan dan diplomasi semata, menuju kerja sama yang lebih luas dalam pendidikan, inovasi, keberlanjutan, kebudayaan, dan kemajuan manusia.
Lebih lanjut, dia menyoroti tantangan global yang dihadapi bersama, mulai dari perubahan iklim, kesenjangan digital dan kecerdasan buatan (AI), ketegangan geopolitik, ketahanan pangan, air, serta energi, hingga misinformasi dan ketidaksetaraan.
Baca juga: Pemprov DKI Jakarta Buka Pendaftaran KJMU Tahap II 2025, Kuota 3.466 Mahasiswa
“Di masa seperti ini, saya percaya: ketika dunia diuji, peradaban harus bersatu. Itulah alasan saya hadir di sini, bukan hanya untuk berbicara, tetapi juga untuk mendengar, belajar, dan membangun kerja sama yang nyata,” tegasnya.
Dewan Penasihat Kadin ini juga kemudian menguraikan gagasan mengenai lima pilar strategis yang dapat menjadi fondasi kerja sama antara universitas-universitas di Indonesia dengan BLCU. Ia memulai dengan menekankan pentingnya pertukaran bahasa dan pendidikan melalui program beasiswa, serta peluang bagi mahasiswa dan dosen dari kedua negara untuk saling bertukar pengalaman akademik. Dengan cara ini, generasi muda Indonesia dapat semakin mendalami Bahasa Mandarin dan kebudayaan China. Sementara masyarakat China juga berkesempatan memahami lebih dekat dinamika Indonesia.
Selain itu, Ibas mendorong pendirian Pusat Studi Indonesia - Tiongkok yang diharapkan menjadi pusat kajian akademik, riset, dan pemikiran bersama mengenai isu-isu strategis yang menghubungkan kedua negara. Pusat studi ini, menurutnya, akan menjadi ruang kolaborasi intelektual yang memperkuat basis pengetahuan bersama sekaligus menumbuhkan rasa saling pengertian.
Lebih lanjut, dia menyoroti tantangan global yang dihadapi bersama, mulai dari perubahan iklim, kesenjangan digital dan kecerdasan buatan (AI), ketegangan geopolitik, ketahanan pangan, air, serta energi, hingga misinformasi dan ketidaksetaraan.
Baca juga: Pemprov DKI Jakarta Buka Pendaftaran KJMU Tahap II 2025, Kuota 3.466 Mahasiswa
“Di masa seperti ini, saya percaya: ketika dunia diuji, peradaban harus bersatu. Itulah alasan saya hadir di sini, bukan hanya untuk berbicara, tetapi juga untuk mendengar, belajar, dan membangun kerja sama yang nyata,” tegasnya.
Dewan Penasihat Kadin ini juga kemudian menguraikan gagasan mengenai lima pilar strategis yang dapat menjadi fondasi kerja sama antara universitas-universitas di Indonesia dengan BLCU. Ia memulai dengan menekankan pentingnya pertukaran bahasa dan pendidikan melalui program beasiswa, serta peluang bagi mahasiswa dan dosen dari kedua negara untuk saling bertukar pengalaman akademik. Dengan cara ini, generasi muda Indonesia dapat semakin mendalami Bahasa Mandarin dan kebudayaan China. Sementara masyarakat China juga berkesempatan memahami lebih dekat dinamika Indonesia.
Selain itu, Ibas mendorong pendirian Pusat Studi Indonesia - Tiongkok yang diharapkan menjadi pusat kajian akademik, riset, dan pemikiran bersama mengenai isu-isu strategis yang menghubungkan kedua negara. Pusat studi ini, menurutnya, akan menjadi ruang kolaborasi intelektual yang memperkuat basis pengetahuan bersama sekaligus menumbuhkan rasa saling pengertian.
Lihat Juga :