Istana Janji Tangani Keracunan MBG Ratusan Siswa di Bandung Barat: Jangan sampai Terjadi Demoralisasi
Rabu, 24 September 2025 - 20:54 WIB
loading...
Wamensesneg Juri Ardiantoro memastikan pemerintah segera menangani kasus keracunan yang melibatkan ratusan siswa di Kabupaten Bandung Barat terkait program Makan Bersama Gizi (MBG). Foto: Binti Mufarida
A
A
A
JAKARTA - Istana melalui Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Juri Ardiantoro memastikan pemerintah segera menangani kasus keracunan yang melibatkan ratusan siswa di Kabupaten Bandung Barat terkait program Makan Bersama Gizi (MBG). Semua hal yang terjadi baik menyangkut keracunan atau yang tidak pas dalam penyelenggaraan MBG menjadi sesuatu yang tidak diharapkan.
“Dan pemerintah sudah mengambil langkah-langkah cepat untuk mengatasi masalah ini,” ujar Juri di Gedung Kemensetneg, Jalan Veteran, Jakarta, Rabu (24/9/2025).
Baca juga: Cegah Keracunan MBG Terulang, Qodari KSP: Ini Sudah Wake Up Call
Meski ada berbagai pihak yang mendesak evaluasi menyeluruh, program MBG akan tetap dilanjutkan dengan perbaikan yang cepat dan tepat. Sebab, MBG merupakan program inisiasi Presiden Prabowo Subianto yang dipercaya memberikan manfaat kepada seluruh anak-anak di Tanah Air.
“Yang penting kita menyelamatkan program yang baik ini karena program ini dibutuhkan oleh anak-anak kita, oleh masyarakat kita. Sehingga jangan sampai terjadi demoralisasi dalam program ini karena kasus-kasus itu,” ungkapnya.
Terkait desakan untuk menghentikan sementara program MBG, pemerintah mendengar semua aspirasi yang ada. Namun, keputusan menghentikan atau mengevaluasi program secara total akan dipertimbangkan dengan hati-hati.
Sebelumnya, sedikitnya 220 pelajar kembali mengalami keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG). Peristiwa ini terjadi di Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (24/9/2025). Ratusan pelajar langsung dilarikan ke Puskesmas Cipongkor untuk menjalani perawatan intensif.
Mengenai keracunan di Cipongkor, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menjelaskan peristiwa ini terjadi lantaran kesalahan teknis dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). “Keterangan awal kan menunjukkan bahwa SPPG itu memasak terlalu awal sehingga masakan terlalu lama,” ujarnya.
Pihaknya juga mengaku telah berkoordinasi dengan seluruh SPPG yang beroperasi satu bulan terakhir terkait proses memasak supaya makanan yang dihasilkan tidak menjadi basi. “Kita minta agar mereka mulai masak di atas jam setengah dua agar waktu antara masak processing dengan deliverynya tidak lebih dari 4 jam,” kata Dadan.
“Dan pemerintah sudah mengambil langkah-langkah cepat untuk mengatasi masalah ini,” ujar Juri di Gedung Kemensetneg, Jalan Veteran, Jakarta, Rabu (24/9/2025).
Baca juga: Cegah Keracunan MBG Terulang, Qodari KSP: Ini Sudah Wake Up Call
Meski ada berbagai pihak yang mendesak evaluasi menyeluruh, program MBG akan tetap dilanjutkan dengan perbaikan yang cepat dan tepat. Sebab, MBG merupakan program inisiasi Presiden Prabowo Subianto yang dipercaya memberikan manfaat kepada seluruh anak-anak di Tanah Air.
“Yang penting kita menyelamatkan program yang baik ini karena program ini dibutuhkan oleh anak-anak kita, oleh masyarakat kita. Sehingga jangan sampai terjadi demoralisasi dalam program ini karena kasus-kasus itu,” ungkapnya.
Terkait desakan untuk menghentikan sementara program MBG, pemerintah mendengar semua aspirasi yang ada. Namun, keputusan menghentikan atau mengevaluasi program secara total akan dipertimbangkan dengan hati-hati.
Sebelumnya, sedikitnya 220 pelajar kembali mengalami keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG). Peristiwa ini terjadi di Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (24/9/2025). Ratusan pelajar langsung dilarikan ke Puskesmas Cipongkor untuk menjalani perawatan intensif.
Mengenai keracunan di Cipongkor, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menjelaskan peristiwa ini terjadi lantaran kesalahan teknis dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). “Keterangan awal kan menunjukkan bahwa SPPG itu memasak terlalu awal sehingga masakan terlalu lama,” ujarnya.
Pihaknya juga mengaku telah berkoordinasi dengan seluruh SPPG yang beroperasi satu bulan terakhir terkait proses memasak supaya makanan yang dihasilkan tidak menjadi basi. “Kita minta agar mereka mulai masak di atas jam setengah dua agar waktu antara masak processing dengan deliverynya tidak lebih dari 4 jam,” kata Dadan.
(jon)
Lihat Juga :