Mengintip Markas C-130 Hercules di Skadron Udara 33, Penolong saat Tsunami Aceh hingga Gempa Myanmar
Selasa, 23 September 2025 - 07:08 WIB
loading...
Komandan Skadron Udara 33, Letkol Pnb A.M Averroes di Markas Pesawat C-130 Hercules TNI AU di Makassar. Foto/SindoNews
A
A
A
MAKASSAR - Skadron Udara 33 menjadi andalan berbagai misi di dalam maupun luar negeri. Sebagai markas Pesawat C-130 Hercules, para prajurit penjaga langit ini juga sukses menjalankan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) atau misi kemanusiaan.
Di balik garangnya pesawat C-130 Hercules, tentunya ada dedikasi tinggi dari para prajurit dalam menjalankan misi kemanusiaan. SindoNews berkesempatan mengintip lebih dekat Skadron 33 di Pangkalan TNI AU (Lanud) Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, pada Senin, 22 September 2025.
Tampak di hanggar Skadron 33, ada satu pesawat C-130 Hercules yang sedang terparkir. Pesawat itu terlihat dicat dengan Loreng hijau TNI.
Baca juga: Ini Spesifikasi C-130J-30, Raksasa Langit TNI AU yang Tembus Langit Gaza
Komandan Skadron Udara 33, Letkol Pnb A.M Averroes menyampaikan, pesawat Hercules ini menjadi penolong ketika tsunami Aceh, gempa Palu, hingga misi ke Filipina dan Myanmar. Bantuan kemanusiaan berhasil diterjunkan ke lokasi terdampak.
"Pesawat Hercules ini salah satu pesawat yang menjadi andalan, tidak hanya untuk rakyat Indonesia, tapi juga untuk skala internasional, terutama masalah bantuan sosial," kata Averroes di Skuadron 33, Makassar, dikutip Selasa (23/9/2025).
Tak sekedar mengandalkan C-130 Hercules dengan kapasitas angkut yang besar, keahlian para penerbang juga dibutuhkan ketika menjalankan OMSP.
Baca juga: Komplet, Indonesia Terima Pesanan Kelima Pesawat C-130J-30 Super Hercules
Dalam misi kemanusiaan ke Myanmar, ia mengenang persiapan disaat prajurit tengah melaksanakan cuti hari Raya Idulfitri. Ketika banyak prajurit sedang berlibur, mereka harus kembali ke pangkalan untuk menjalankan tugas negara.
"Pasukan-pasukan kami yang melaksanakan cuti ataupun libur karena ada panggilan tugas, kami kembali ke sini. Kami segera menyiapkan pesawat dan dalam waktu kurang dari lima hari, kami sudah sampai di Myanmar," ucapnya.
Setiap kali bencana melanda, pesawat C-130 Hercules memang menjadi tulang punggung penyaluran bantuan. Karena kapasitas besarnya memungkinkan logistik dan personel tiba lebih cepat ke lokasi terdampak.
Namun jika hanya mengandalkan C-130 Hercules, tentunya tidak bisa menuntaskan misi OMSP. Butuh keterampilan dan kemampuan prajurit untuk menyelesaikan sebuah misi kemanusiaan.
Averroes menyebut, penerbangan Skadron 33 memiliki kemampuan terbang malam hari dengan Night Vision Goggle (NVG). Dalam kondisi gelap gulita, penerbangan bisa mendaratkan pesawat dengan baik.
"Kita bicarakan gempa yang mengakibatkan tidak ada listrik di sana atau tidak ada pencahayaan. Kami mampu melaksanakan penerbangan dalam kondisi total gelap 100% kami dapat melaksanakan dengan kemampuan NVG tersebut," ujarnya.
Skadron 33 sendiri merupakan gabungan Skadron Udara 31 dan 32. Ketiga Skadron itu sama-sama mengoperasikan Hercules dengan spesialisasi berbeda.
Skadron 31 memiliki Super Hercules tipe J. Sedangkan Skadron 32 mengoperasikan pesawat tanker untuk pengisian bahan bakar pesawat tempur di udara.
Di balik garangnya pesawat C-130 Hercules, tentunya ada dedikasi tinggi dari para prajurit dalam menjalankan misi kemanusiaan. SindoNews berkesempatan mengintip lebih dekat Skadron 33 di Pangkalan TNI AU (Lanud) Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, pada Senin, 22 September 2025.
Tampak di hanggar Skadron 33, ada satu pesawat C-130 Hercules yang sedang terparkir. Pesawat itu terlihat dicat dengan Loreng hijau TNI.
Baca juga: Ini Spesifikasi C-130J-30, Raksasa Langit TNI AU yang Tembus Langit Gaza
Komandan Skadron Udara 33, Letkol Pnb A.M Averroes menyampaikan, pesawat Hercules ini menjadi penolong ketika tsunami Aceh, gempa Palu, hingga misi ke Filipina dan Myanmar. Bantuan kemanusiaan berhasil diterjunkan ke lokasi terdampak.
"Pesawat Hercules ini salah satu pesawat yang menjadi andalan, tidak hanya untuk rakyat Indonesia, tapi juga untuk skala internasional, terutama masalah bantuan sosial," kata Averroes di Skuadron 33, Makassar, dikutip Selasa (23/9/2025).
Tak sekedar mengandalkan C-130 Hercules dengan kapasitas angkut yang besar, keahlian para penerbang juga dibutuhkan ketika menjalankan OMSP.
Baca juga: Komplet, Indonesia Terima Pesanan Kelima Pesawat C-130J-30 Super Hercules
Dalam misi kemanusiaan ke Myanmar, ia mengenang persiapan disaat prajurit tengah melaksanakan cuti hari Raya Idulfitri. Ketika banyak prajurit sedang berlibur, mereka harus kembali ke pangkalan untuk menjalankan tugas negara.
"Pasukan-pasukan kami yang melaksanakan cuti ataupun libur karena ada panggilan tugas, kami kembali ke sini. Kami segera menyiapkan pesawat dan dalam waktu kurang dari lima hari, kami sudah sampai di Myanmar," ucapnya.
Setiap kali bencana melanda, pesawat C-130 Hercules memang menjadi tulang punggung penyaluran bantuan. Karena kapasitas besarnya memungkinkan logistik dan personel tiba lebih cepat ke lokasi terdampak.
Namun jika hanya mengandalkan C-130 Hercules, tentunya tidak bisa menuntaskan misi OMSP. Butuh keterampilan dan kemampuan prajurit untuk menyelesaikan sebuah misi kemanusiaan.
Averroes menyebut, penerbangan Skadron 33 memiliki kemampuan terbang malam hari dengan Night Vision Goggle (NVG). Dalam kondisi gelap gulita, penerbangan bisa mendaratkan pesawat dengan baik.
"Kita bicarakan gempa yang mengakibatkan tidak ada listrik di sana atau tidak ada pencahayaan. Kami mampu melaksanakan penerbangan dalam kondisi total gelap 100% kami dapat melaksanakan dengan kemampuan NVG tersebut," ujarnya.
Skadron 33 sendiri merupakan gabungan Skadron Udara 31 dan 32. Ketiga Skadron itu sama-sama mengoperasikan Hercules dengan spesialisasi berbeda.
Skadron 31 memiliki Super Hercules tipe J. Sedangkan Skadron 32 mengoperasikan pesawat tanker untuk pengisian bahan bakar pesawat tempur di udara.
(cip)
Lihat Juga :