Hari Perdamaian Internasional, OIC Youth Indonesia Dorong Solidaritas Lintas Bangsa
Senin, 22 September 2025 - 19:20 WIB
loading...
OIC Youth Indonesia mengajak pemuda perkuat solidaritas lintas bangsa guna menciptakan keadilan dan perdamaian dunia. Foto/SindoNews
A
A
A
JAKARTA - OIC Youth Indonesia mendorong pemuda untuk memperkuat solidaritas lintas bangsa. Tujuannya adalah untuk memperjuangkan keadilan dan perdamaian dunia.
Hal itu dibahas dalam Board Meeting and Policy Roundtable Discussion on Humanitarian Issues dengan tema “Understanding Beyond Borders: Building Solidarity Across the Ummah and the World”. Kegiatan yang digelar OIC Youth Indonesia itu diselenggarakan dalam rangka peringatan International Day of Peace.
Kegiatan ini dihadiri pengurus OIC Youth Indonesia bersama para aktivis muslim lainnya yang memiliki kepedulian terhadap isu-isu kemanusiaan global. Hadir sebagai pembicara yakni Presiden OIC Youth Indonesia Astrid Nadya Rizqita, Sekretaris Jenderal Adlan Athori, Wakil Presiden Yanju Sahara, dan Wakil Sekretaris Jenderal Indre Wanof.
Baca juga: Yerusalem dan Perdamaian Dunia
Diskusi mengangkat sejumlah isu internasional yang masih menjadi perhatian dunia, antara lain konflik Palestina–Israel, Kashmir Pakistan–India, dinamika pasca-perang di Karabakh, serta kondisi Uyghur di China. Selain itu, perang Rusia–Ukraina turut disorot sebagai konflik yang belum menemukan jalan penyelesaian. Diskusi juga menyinggung perbedaan kondisi Muslim Hui dan etnis Uyghur. Muslim Hui yang lebih berasimilasi dengan masyarakat Han cenderung mendapat ruang lebih longgar, berbeda dengan Uyghur.
Presiden OIC Youth Indonesia Astrid Nadya Rizqita, menegaskan pentingnya momentum Hari Perdamaian Internasional untuk merefleksikan komitmen bersama. Saat ini, permasalahan yang dihadapi dunia Islam sangat kompleks dan berlapis. Dari Palestina yang masih menghadapi pendudukan dan blokade, Kashmir yang terus terjebak dalam konflik status politik dan militerisasi, semuanya menunjukkan bahwa isu keadilan belum terselesaikan.
“Kita dapat belajar dari pascaperang di Karabakh, di mana Azerbaijan menunjukkan langkah-langkah rekonsiliasi dan pemulihan yang patut dijadikan contoh dalam resolusi konflik. Permasalahan ini bukan hanya berdampak pada negara atau wilayah tertentu, tetapi juga pada stabilitas global dan masa depan generasi muda. Karena itu, solidaritas lintas bangsa adalah kunci untuk memperjuangkan keadilan dan perdamaian yang sejati,” ujarnya.
Baca juga: Proposal Perundingan Prabowo Dinilai Langkah Maju Diplomasi RI Tengahi Konflik Ukraina-Rusia
Dalam memahami dan mencari solusi, penting bagi semua pihak untuk merujuk pada sejarah, budaya, serta kesepakatan dan perjanjian yang telah ada, baik melalui PBB, OKI, peran contact groups, maupun forum multilateral lain, sebagai acuan upaya penyelesaian. Namun sebagai nonstate actor, peran pemuda jauh lebih luas selama berada dalam koridor yang tepat.
“Kita memiliki amanat dari UUD 1945 serta Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri untuk aktif berkontribusi. Artinya, diplomasi pemuda tidak hanya sah, tetapi juga strategis dalam memperkuat solidaritas lintas bangsa demi keadilan dan perdamaian sejati,” ucapnya.
Wakil Presiden OIC Youth Indonesia Yanju Sahara menekankan pentingnya peran pemuda. Perdamaian tidak cukup sekadar menghentikan perang, tetapi harus menciptakan keadilan sosial serta menghapus struktur dan budaya yang melanggengkan kekerasan
“Penting kiranya di era disrupsi ini, pemuda tetap mengedepankan critical thinking. Yaitu tetap mengasah kemampuan untuk menelaah narasi, kebijakan, dan teori internasional secara rasional, reflektif, dan terbuka terhadap perspektif berbeda,” jelasnya.
Wakil Sekretaris Jenderal, Indre Wanof, menambahkan pentingnya kolaborasi global. Keamanan setiap rakyat di seluruh dunia adalah tanggung jawab kolektif yang memerlukan komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman dan harmonis.
”Dialog antarbudaya merupakan strategi penting dalam membangun pemahaman dan toleransi, sehingga dapat mencegah konflik dan memperkuat perdamaian global,” ungkapnya.
Untuk mencapai perdamaian sejati, kata dia, diperlukan narasi kemanusiaan, bukan narasi agama semata. Jika konflik dipandang hanya melalui identitas agama, maka akan menimbulkan jarak dan ketidakpedulian dari kelompok lain. Sebaliknya, dengan menempatkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai dasar, solidaritas dapat terbangun lebih luas lintas bangsa, budaya, dan agama.
”Hal ini juga relevan untuk menghadapi tantangan global seperti Islamophobia yang marak di berbagai belahan dunia, di mana umat Islam kerap distigmatisasi secara tidak adil,” katanya.
Melalui peringatan International Day of Peace ini, OIC Youth Indonesia mengajak para pemuda untuk semakin kritis, aktif, dan berkomitmen memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan universal. Solidaritas lintas bangsa diharapkan mampu memperkuat perjuangan menuju perdamaian dunia yang berkeadilan dan berkelanjutan dengan mengedepankan narasi kemanusiaan, bukan narasi agama semata, agar semua pihak dapat merasa memiliki tanggung jawab yang sama.
Hal itu dibahas dalam Board Meeting and Policy Roundtable Discussion on Humanitarian Issues dengan tema “Understanding Beyond Borders: Building Solidarity Across the Ummah and the World”. Kegiatan yang digelar OIC Youth Indonesia itu diselenggarakan dalam rangka peringatan International Day of Peace.
Kegiatan ini dihadiri pengurus OIC Youth Indonesia bersama para aktivis muslim lainnya yang memiliki kepedulian terhadap isu-isu kemanusiaan global. Hadir sebagai pembicara yakni Presiden OIC Youth Indonesia Astrid Nadya Rizqita, Sekretaris Jenderal Adlan Athori, Wakil Presiden Yanju Sahara, dan Wakil Sekretaris Jenderal Indre Wanof.
Baca juga: Yerusalem dan Perdamaian Dunia
Diskusi mengangkat sejumlah isu internasional yang masih menjadi perhatian dunia, antara lain konflik Palestina–Israel, Kashmir Pakistan–India, dinamika pasca-perang di Karabakh, serta kondisi Uyghur di China. Selain itu, perang Rusia–Ukraina turut disorot sebagai konflik yang belum menemukan jalan penyelesaian. Diskusi juga menyinggung perbedaan kondisi Muslim Hui dan etnis Uyghur. Muslim Hui yang lebih berasimilasi dengan masyarakat Han cenderung mendapat ruang lebih longgar, berbeda dengan Uyghur.
Presiden OIC Youth Indonesia Astrid Nadya Rizqita, menegaskan pentingnya momentum Hari Perdamaian Internasional untuk merefleksikan komitmen bersama. Saat ini, permasalahan yang dihadapi dunia Islam sangat kompleks dan berlapis. Dari Palestina yang masih menghadapi pendudukan dan blokade, Kashmir yang terus terjebak dalam konflik status politik dan militerisasi, semuanya menunjukkan bahwa isu keadilan belum terselesaikan.
“Kita dapat belajar dari pascaperang di Karabakh, di mana Azerbaijan menunjukkan langkah-langkah rekonsiliasi dan pemulihan yang patut dijadikan contoh dalam resolusi konflik. Permasalahan ini bukan hanya berdampak pada negara atau wilayah tertentu, tetapi juga pada stabilitas global dan masa depan generasi muda. Karena itu, solidaritas lintas bangsa adalah kunci untuk memperjuangkan keadilan dan perdamaian yang sejati,” ujarnya.
Baca juga: Proposal Perundingan Prabowo Dinilai Langkah Maju Diplomasi RI Tengahi Konflik Ukraina-Rusia
Dalam memahami dan mencari solusi, penting bagi semua pihak untuk merujuk pada sejarah, budaya, serta kesepakatan dan perjanjian yang telah ada, baik melalui PBB, OKI, peran contact groups, maupun forum multilateral lain, sebagai acuan upaya penyelesaian. Namun sebagai nonstate actor, peran pemuda jauh lebih luas selama berada dalam koridor yang tepat.
“Kita memiliki amanat dari UUD 1945 serta Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri untuk aktif berkontribusi. Artinya, diplomasi pemuda tidak hanya sah, tetapi juga strategis dalam memperkuat solidaritas lintas bangsa demi keadilan dan perdamaian sejati,” ucapnya.
Wakil Presiden OIC Youth Indonesia Yanju Sahara menekankan pentingnya peran pemuda. Perdamaian tidak cukup sekadar menghentikan perang, tetapi harus menciptakan keadilan sosial serta menghapus struktur dan budaya yang melanggengkan kekerasan
“Penting kiranya di era disrupsi ini, pemuda tetap mengedepankan critical thinking. Yaitu tetap mengasah kemampuan untuk menelaah narasi, kebijakan, dan teori internasional secara rasional, reflektif, dan terbuka terhadap perspektif berbeda,” jelasnya.
Wakil Sekretaris Jenderal, Indre Wanof, menambahkan pentingnya kolaborasi global. Keamanan setiap rakyat di seluruh dunia adalah tanggung jawab kolektif yang memerlukan komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman dan harmonis.
”Dialog antarbudaya merupakan strategi penting dalam membangun pemahaman dan toleransi, sehingga dapat mencegah konflik dan memperkuat perdamaian global,” ungkapnya.
Untuk mencapai perdamaian sejati, kata dia, diperlukan narasi kemanusiaan, bukan narasi agama semata. Jika konflik dipandang hanya melalui identitas agama, maka akan menimbulkan jarak dan ketidakpedulian dari kelompok lain. Sebaliknya, dengan menempatkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai dasar, solidaritas dapat terbangun lebih luas lintas bangsa, budaya, dan agama.
”Hal ini juga relevan untuk menghadapi tantangan global seperti Islamophobia yang marak di berbagai belahan dunia, di mana umat Islam kerap distigmatisasi secara tidak adil,” katanya.
Melalui peringatan International Day of Peace ini, OIC Youth Indonesia mengajak para pemuda untuk semakin kritis, aktif, dan berkomitmen memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan universal. Solidaritas lintas bangsa diharapkan mampu memperkuat perjuangan menuju perdamaian dunia yang berkeadilan dan berkelanjutan dengan mengedepankan narasi kemanusiaan, bukan narasi agama semata, agar semua pihak dapat merasa memiliki tanggung jawab yang sama.
(cip)
Lihat Juga :